Oleh : Shintalya Azis*)
Konflik acapkali datang tanpa dapat dihindari di saat berinteraksi ditengah-tengah kelompok – kecil maupun besar.
Terutama di dalam masyarakat. Perbedaan pendapat, selera atau kepentingan bisa mengubah suasana tenteram menjadi mencekam.
Pada saat seperti itu, ada dua peran yang bisa muncul. Yaitu menjadi gunting yang memutus, atau memilih menjadi lem yang merekatkan.
Menjadi lem bukan berarti lemah atau tidak punya sikap. Justru, dapat dikatakan sebagai bentuk kecerdasan emosional yang matang.
Kita mengenal konsep emotional intelligence, yaitu kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta orang lain. Yang bisa bersikap netral dengan sehat biasanya memiliki kesadaran emosi yang baik. Memahami dirinya kapan emosinya bisa terpancing, lalu memilih untuk tidak langsung bereaksi.
Netral di sini bukan berarti tidak peduli, melainkan peduli tanpa perlu ikutan kiri atau kanan. Atau bersikap alternatif.
Ada istilah cognitive reappraisal, yaitu kemampuan menafsirkan ulang situasi agar tidak langsung melihatnya sebagai ancaman. Saat ada pihak-pihak yang bertentangan, sikap sebagai lem tidak buru-buru menghakimi siapa yang benar atau salah atau memilih kecenderungan yang dominan. Ia memberi ruang pada kemungkinan bahwa setiap orang bertindak berdasarkan subyektifnya yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Merangkul perasaan orang lain juga berkaitan dengan empati. Ada empati kognitif (memahami sudut pandang orang lain) dan ada empati emosional (merasakan apa yang mereka rasakan).
Lem bekerja dengan keduanya.
Menjadi lem, berarti mendengar bukan untuk membalas.Juga mencoba untuk memahami. Kalimat sederhana seperti, “Aku bisa paham kenapa kamu merasa begitu,” sering kali lebih menenangkan daripada seribu nasihat.
Netral yang sehat juga berarti punya batas. Pendekatan humanistik menekankan pentingnya self-respect. Menjadi lem bukan berarti menyerap semua emosi negatif sampai diri sendiri kelelahan. Namun ia tetap tahu kapan harus mengering dan kapan harus menguat.
Menjadi lem tidak perlu ikut menyebarkan gosip. Tidak perlu memperbesar api dengan komentar sarkas, dan tidak memanfaatkan konflik untuk mencari validasi agar ia tetap diterima di dalam kelompoknya.
Memang, manusia memiliki kecenderungan untuk membela “kelompoknya” dan melihat di luar sebagai lawan. Di sinilah peran lem menjadi krusial.
Dengan penggunaan diksi yang inklusif, “kita” bukan “kalian”, maka ia membantu orang-orang merasa berada di sisi yang sama. Ia mengingatkan bahwa relasi lebih penting daripada menang debat.
Menjadi lem juga membutuhkan keberanian. Sering ditekankan bahwa keberanian bukan ketiadaan rasa takut, tapi kemampuan bertindak meski takut.
Netral di tengah konflik kadang membuat seseorang dicurigai atau disalahpahami. Namun, menjadi lem berarti memilih untuk tetap ada, namun dengan misi membawa ketenangan dan konsistensi yang tulus. Ia tidak perlu tampil ke atas panggung tapi kehadirannya terasa dimana pun ia berada.
Pada akhirnya, komunitas tidak selalu butuh orang yang paling tajam argumennya. Kita butuh mereka yang bisa menahan diri, menjaga hati, dan merangkul perasaan.
Mereka yang memilih memahami sebelum menghakimi, mendengar sebelum menyela. Menjadi lem bukan tentang menyatukan semua orang agar sama, melainkan membantu mereka tetap terhubung meski berbeda.
Di dunia yang mudah terbelah, menjadi lem adalah pilihan yang waras. Pilihan untuk merawat hubungan, bukan memotongnya.
Mari mulai menjadi lem dengan menjaga hati.
Palembang, 8 Februari 2026
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
