Dr Aqua Dwipayana, Menjemput Rezeki Lewat Silaturahim

Dr Aqua Dwipayana. (Foto Istimewa)

BAGI sebagian orang, silaturahim mungkin sekadar tradisi. Datang saat Lebaran, memenuhi undangan, atau menyapa seperlunya. Namun bagi Dr Aqua Dwipayana, silaturahim adalah jalan hidup. Bukan program sesaat. Bukan strategi pencitraan. Melainkan ibadah yang dijalani dengan sadar, konsisten, dan penuh keikhlasan.

“Silaturahim itu dahsyat. Bahkan dahsyat sekali,” tuturnya suatu ketika.

Kalimat itu bukan retorika. Tapi lahir dari pengalaman panjang. Puluhan tahun menjalani kebiasaan menyambung hubungan, membantu sesama, dan menjaga hati, membuatnya merasakan langsung bagaimana hidup terasa lebih ringan.

Aktivitas sehari-hari berjalan lancar. Persoalan yang muncul seperti menemukan jalan keluarnya sendiri.

“Saat ada masalah, TUHAN cepat sekali menuntaskannya. Mengirimkan ‘malaikat’ yang wujudnya manusia,” ungkapnya.

Berkali-kali Dr Aqua merasakan pertolongan datang tanpa diminta. Ada saja orang yang dengan tulus membantu hingga persoalan selesai sepenuhnya.

Baginya, itu bukan kebetulan. Ia meyakini semua itu adalah buah dari kebaikan yang ditanam dengan konsisten selama bertahun-tahun.

Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970 itu, tidak pernah melihat latar belakang orang yang dibantu. Siapa pun yang membutuhkan, jika mampu, ia bantu semaksimal mungkin. Jika tidak sanggup, ia menyampaikan apa adanya, disertai permohonan maaf dan doa agar ada tangan lain yang siap menolong.

“Saya memaknai membantu orang seperti menabung,” ujarnya.

Setiap kebaikan adalah setoran. Tidak perlu tahu kapan cairnya. Tidak perlu menghitung berapa jumlahnya. Yang penting terus menabung. Dan ketika waktunya tiba, ‘tabungan’ itu keluar tanpa diminta.

Kadang hitungan detik. Kadang menit atau hari.

Rezeki, menurutnya, jauh melampaui materi. Justru materi adalah bagian kecil. Rezeki terbesarnya adalah kesehatan, hati yang senang dan bahagia, serta pikiran yang selalu positif.

“Dengan rajin silaturahim, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang optimis. Mereka mengajak saya berbuat baik dan memberi manfaat di mana pun berada,” kata Doktor Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu.

Lingkaran pertemanannya terus bertambah dari waktu ke waktu. Setiap perjalanan menghadirkan wajah baru yang menyenangkan. Ia berusaha menjaga perasaan mereka, menjadi teman yang baik, dan meninggalkan kesan positif yang mendalam.

Lelaki yang berasal dari Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat itu, juga sangat menjaga hati dan pikirannya saat bersilaturahim. Filter batin harus selalu aktif agar tidak terkontaminasi hal-hal negatif. Baginya, ketika hati bersih dan niat lurus, kehadiran seseorang bukan hanya diterima, tetapi dirindukan.

Rezeki lain yang paling ia syukuri adalah amanah. Kesempatan berbagi melalui ribuan sesi Sharing Komunikasi dan Motivasi di berbagai tempat, termasuk di luar negeri. Lebih dari dua juta orang telah mengikuti sesi-sesi tersebut.

“Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan seperti itu. Semua ini karena silaturahim,” tuturnya penuh syukur.

Semakin merasakan manfaatnya, Dr Aqua semakin ‘ketagihan’ untuk terus menyambung hubungan. Sebab balasannya nyata. Sering kali langsung dan berlipat.

Kini, bagi Dr Aqua Dwipayana, silaturahim bukan sekadar memperpanjang usia seperti sering disebutkan. Ia memperluas makna hidup. Membuka pintu kesempatan. Menghadirkan ketenangan batin. Dan menumbuhkan rasa cukup.

“Lakukan dengan ikhlas. Konsisten. Tanpa pamrih. Setelah itu rasakan sendiri hasilnya,” pesan ayah Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana itu.

Dr Aqua telah membuktikannya.

Dan ia terus menjalaninya.

(Hendri Parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *