Oleh : Debi Fitria Sari*)
SAYA pernah berada di satu titik di mana membuka media sosial justru membuat hati terasa tidak tenang. Awalnya hanya ingin melihat kabar teman-teman, tetapi yang muncul justru rasa membandingkan diri sendiri.
Ada yang sudah magang di tempat bergengsi, ada yang bisnisnya mulai berkembang, ada yang terlihat selalu bahagia. Saat itu saya mulai bertanya dalam hati, “Kenapa hidup orang lain terlihat lebih maju?”
Dari pengalaman sederhana itu, saya mulai menyadari satu hal: mungkin saya sedang mengalami FOMO (fear of Missing Out). Rasa takut tertinggal. Takut tidak berada di fase yang “seharusnya”. Takut merasa kurang dibandingkan orang lain.
Di era media sosial seperti sekarang, FOMO bukan lagi hal asing. Hampir setiap hari kita disuguhi pencapaian, perjalanan, dan momen terbaik orang lain. Media sosial seakan menjadi panggung besar tempat semua orang menampilkan versi terbaik dirinya.
Masalahnya, kita sering lupa bahwa yang ditampilkan hanyalah bagian yang sudah dipilih, bukan keseluruhan cerita.
Secara logika, kita tahu bahwa setiap orang punya perjuangan masing-masing. Namun secara perasaan, tetap saja ada dorongan untuk membandingkan. Kita mulai bertanya apakah kita sudah cukup produktif, cukup sukses, atau cukup menarik. Tanpa sadar, standar kebahagiaan kita berubah.
Saya melihat fenomena ini bukan hanya terjadi pada diri saya, tetapi juga pada banyak teman sebaya. Percakapan sering kali dipenuhi topik tentang siapa yang sudah mencapai apa. Seolah-olah hidup berjalan dalam perlombaan yang tidak pernah diumumkan, tetapi semua orang merasa sedang ikut di dalamnya.
Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Namun algoritmanya membuat kita terus ingin menggulir layar. Kita takut ketinggalan berita, tren, atau perbincangan. Bahkan ketika sedang istirahat, tangan terasa refleks membuka aplikasi. Waktu berjalan tanpa terasa.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika validasi digital mulai memengaruhi rasa percaya diri. Jumlah suka dan komentar bisa menentukan suasana hati. Jika respons ramai, kita merasa dihargai. Jika sepi, muncul pertanyaan dalam diri: apakah saya kurang menarik?
Padahal nilai seseorang tentu tidak bisa diukur dari angka-angka di layar.
Saya tidak mengatakan bahwa media sosial sepenuhnya buruk. Justru banyak manfaat yang bisa kita ambil. Kita bisa belajar, terhubung dengan banyak orang, bahkan mendapatkan peluang baru. Namun persoalannya muncul ketika kita kehilangan kesadaran dalam menggunakannya.
Menurut saya, kita belum sepenuhnya kehilangan kendali. Tetapi kita memang sedang diuji. Apakah kita cukup kuat untuk tidak selalu membandingkan? Apakah kita cukup sadar untuk berhenti ketika mulai merasa tidak nyaman?
Hidup setiap orang memiliki ritme yang berbeda. Tidak semua orang harus berhasil di usia yang sama. Tidak semua orang harus mengikuti tren yang sama. Namun media sosial sering menyatukan semua fase kehidupan dalam satu ruang, sehingga tercipta ilusi bahwa ada “jadwal sukses” yang harus dipenuhi.
FOMO sebenarnya bisa menjadi motivasi jika dikelola dengan baik. Melihat orang lain berkembang bisa mendorong kita untuk ikut belajar dan berusaha. Tetapi ketika dorongan itu berubah menjadi tekanan dan kecemasan, maka sudah saatnya kita mengambil jarak.
Bagi saya pribadi, salah satu cara mengatasinya adalah dengan membatasi waktu bermain media sosial dan lebih fokus pada tujuan diri sendiri. Ketika kita tahu apa yang ingin dicapai, perhatian kita tidak mudah terganggu oleh pencapaian orang lain.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “Apa yang sedang tren?” tetapi “Apa yang benar-benar penting untuk hidup saya?” Jika kita mampu menjawabnya dengan jujur, maka kendali itu sebenarnya masih ada di tangan kita.
Media sosial boleh terus berkembang, tetapi kesadaran diri tetap harus menjadi pegangan. Karena hidup yang bermakna tidak selalu harus terlihat sempurna di layar. []
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir serta Aktif menjadi Pengurus UKM Bengkel Kata Universitas Islam Negeri Imam Bonjol*)




