Oleh : William Nursal Devarco*)
SEBAGAI insan yang telah puluhan tahun berada di dunia media, jurnalistik, komunikasi publik, dan pergerakan sosial, saya memandang buku “Gercep: Mahyeldi–Vasko untuk Sumatera Barat” karya Yohanes Wempi bukan sekadar kumpulan tulisan kampanye. Buku ini adalah dokumentasi politik yang lahir dari dinamika demokrasi Sumatera Barat.
Karya ini merekam bagaimana opini dibangun, bagaimana framing disusun, serta bagaimana narasi kemenangan dikonstruksi secara sistematis dalam kontestasi Pilkada yang memenangkan pasangan Mahyeldi Ansharullah dan Vasko Ruseimy.
Dalam perspektif komunikasi politik, buku ini menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya soal logistik dan mesin partai, tetapi juga tentang konsistensi narasi. Yohanes Wempi menempatkan dirinya sebagai bagian dari kerja intelektual tim — membangun opini, menjaga persepsi publik, dan memastikan citra pasangan tetap “menyala” di ruang-ruang sosial, baik di ranah maupun di rantau.
Sebagai seorang yang memahami dunia media dari bawah hingga nasional, saya melihat buku ini memiliki tiga nilai penting:
Pertama, nilai dokumentatif.
Demokrasi membutuhkan arsip. Tanpa arsip, sejarah akan menjadi opini sepihak. Buku ini mencatat bagaimana gagasan, visi, dan janji kampanye disosialisasikan kepada publik. Ia menjadi referensi untuk mengukur: apakah setelah satu tahun masa jabatan, gerak cepat (“gercep”) benar-benar terwujud dalam kebijakan dan realisasi program?
Kedua, nilai akademik.
Buku ini berpotensi menjadi bahan kajian komunikasi politik, studi framing media, hingga evaluasi kinerja kepala daerah. Akademisi dapat membandingkan antara janji kampanye dan capaian kebijakan, secara objektif dan terukur.
Ketiga, nilai keberanian intelektual.
Tidak semua pihak akan nyaman dengan buku seperti ini. Namun dalam demokrasi, dokumentasi adalah hak. Selama ditulis dengan itikad baik dan data yang jelas, publikasi seperti ini justru memperkaya ruang diskursus.
Saya memandang karya Yohanes Wempi sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang tim sukses terhadap sejarah perjuangan politiknya. Ia tidak berhenti pada euforia kemenangan, tetapi membukukannya sebagai catatan zaman.
Tentu, publik juga berhak melakukan evaluasi. Demokrasi tidak berhenti pada pemilihan. Justru setelah pelantikan, janji harus diuji. Dan buku ini secara tidak langsung membuka ruang evaluasi itu.
Sebagai pribadi yang meyakini bahwa setiap karya adalah bentuk ibadah dan kontribusi peradaban, saya menghargai upaya membukukan proses perjuangan politik sebagai bagian dari literasi demokrasi di Sumatera Barat.
Pada akhirnya, waktu dan kinerja yang akan menjawab apakah semangat “Gercep” benar-benar menjadi napas pemerintahan atau hanya slogan kampanye. Sejarah akan mencatatnya. []
Founder Jaringan Publik Indonesia (JPI)*)




