Dari Istana ke Serambi Mekkah, Setahun Hendri Arnis – Allex Saputra Menenun Arah Baru Kota Padang Panjang

Pasangan Walikota - Wakil Walikota Padang Panjang, Hendri Arnis dan Allex Saputra berswafoto bersama isteri seusai pelantikan di Istana Negara, 20 Februari 2025.

PADANG PANJANG, FOKUSSUMBAR.COM – 20 Februari 2025, di halaman Istana Negara, di bawah pelantikan Presiden RI Prabowo Subianto, dua nama resmi memikul amanah masyarakat Kota Padang Panjang, Hendri Arnis dan Allex Saputra.

Kini, genap satu tahun kepemimpinan mereka di kota Padang Panjang, kota kecil berhawa sejuk yang dikenal sebagai Serambi Mekkah.

Satu tahun yang tak sekadar lewat dalam hitungan waktu, tetapi diuji dalam kerja dan keberanian mengambil keputusan.

Program seragam gratis bagi pelajar SD dan SMP berjalan optimal. (foto; ist)

Di Pasar Pusat, denyut perubahan terasa. Penataan parkir barat, relokasi PKL secara persuasif, pendataan kios kosong, perbaikan drainase dan toilet, hingga menghadirkan kembali denyut ekonomi melalui live music dan Car Free Day di pusat kota. Program Tata Kelola Pasar Nyaman bukan hanya membenahi ruang, tapi juga membangun kepercayaan.

Di level ekonomi akar rumput, pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih di 16 kelurahan menjadi simbol bahwa pemberdayaan tak boleh berhenti pada wacana.

Program Tabungan Berkah Serambi Mekkah (BERSAMA) dengan skema pembiayaan tanpa bunga memperlihatkan keberpihakan nyata pada pedagang kecil, UMKM, dan petani.

Program unggulan pembentukan koperasi Merah Putih dan program Tabungan Berkah Serambi Mekkah (BERSAMA) Hendri Arnis dan Allex Saputra berjalan sesuai targetnya. (foto; ist)

Tokoh ulama kharismatik, Buya Hamidi, mantan Ketua DPRD Padang Panjang dua periode, menilai kepemimpinan hari ini menunjukkan keseimbangan antara pembangunan fisik dan ruh spiritual kota.

“Padang Panjang ini bukan sekadar kota administratif, ia kota nilai. Saya melihat ada kesungguhan menjaga marwah religiusnya. Pembangunan jalan dan pasar itu penting, tapi menjaga akhlak dan kebersamaan itu lebih utama. Selama setahun ini, komunikasi antara pemerintah dan alim ulama cukup terbuka. Itu modal besar,” ujar Buya Hamidi.

Sementara itu, pemerhati politik dan hukum, M. Nur Idris, melihat tahun pertama ini sebagai fase konsolidasi yang menentukan arah lima tahun ke depan.

“Kepemimpinan Hendri–Allex terlihat berani mengambil langkah penataan, meski tidak selalu populer. Dari perspektif tata kelola, ada upaya membangun sistem yang lebih rapi dan terukur. Tantangannya ke depan adalah konsistensi dan penguatan pengawasan agar setiap program tepat sasaran dan tidak berhenti di seremoni,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua PWI Padang Panjang, Supriyanto, menyoroti pola komunikasi pemerintahan yang dinilai lebih terbuka terhadap publik dan insan pers.

“Kami melihat ada ruang dialog yang lebih cair antara pemerintah dan media. Transparansi informasi mulai dibangun. Tentu pers tetap menjalankan fungsi kontrol, tapi kami juga mencatat ada semangat kolaboratif yang cukup terasa dalam satu tahun ini,” katanya.

Beragam pandangan itu menjadi cermin bahwa satu tahun kepemimpinan bukan hanya tentang klaim capaian, tetapi juga tentang persepsi publik dan legitimasi moral.

Hendri Arnis dan Allex Saputra menyadari, perjalanan belum selesai. Tantangan ekonomi, kualitas layanan publik, hingga ekspektasi masyarakat yang terus meningkat akan menjadi ujian berikutnya.

Namun satu hal yang mulai terbentuk adalah fondasi kolaborasi antara pemerintah, ulama, tokoh adat, akademisi, pers, dan masyarakat.

Dari Istana Negara hingga lorong-lorong pasar, dari ruang musyawarah hingga meja redaksi, arah itu sedang ditenun.

Setahun telah berlalu. Sejarah belum menilai. Tapi jejak awal telah ditorehkan. Dan bagi kota Padang Panjang, harapan itu masih menyala. (paulhendri)

Exit mobile version