Receh yang setia, tumbuh menjadi karakter yang tak tergantikan.
Oleh: Nurul Jannah*)
Tentang sabar yang dilatih diam-diam, hingga berbuah kebaikan yang benderang.
Unting itu ponakan kesayanganku. Anak kakakku yang tinggal di Solo dan punya satu keahlian yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun: mengucapkan kata “Bulik” dengan intonasi yang bisa meluluhkan pertahanan hati dalam tiga detik.
Kalau nadanya lembut, biasanya ada permintaan. Kalau nadanya cepat, biasanya ada cerita seru. Kalau nadanya panjang, “Buuulik…”, itu tandanya aku harus siap duduk, menyimak, dan jadi tim penyemangat sekaligus penasihat darurat.
Dan dari semua ceritanya yang panjang itu, ada satu tokoh yang paling setia. Seekor celengan ayam.
Tahun 2011, di Sekatenan Solo yang riuh oleh lampu warna-warni dan denting gamelan, Unting kecil, usia sepuluh tahun, berdiri di depan lapak mainan dengan wajah serius seperti sedang memilih calon bendahara negara.
Ia menunjuk seekor celengan berbentuk ayam. Badannya gemuk, putih bercorak hitam keemasan. Jenggernya merah menyala. Matanya sedikit galak, tapi terlihat jujur.
“Yang ini aja ya, Bulik. Kayaknya dia amanah.”
Aku tertawa waktu itu. Tapi ternyata dia tidak sedang bercanda.
Sejak malam itu, ayam tersebut resmi menjadi penjaga receh, penjaga mimpi, sekaligus penjaga disiplin.
Setiap ada uang dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, masuk.
Uang kembalian jajan.
Uang hadiah kecil.
Uang sisa beli buku.
Semua dilipat rapi, diselipkan lewat celah kecil di punggung ayam.
“Pluk.”
Suara kecil itu terdengar sederhana, tapi di situlah janji ditanam.
Tidak pernah ada yang terlalu kecil untuk ditabung. Tidak pernah ada yang dianggap remeh. Receh pun diperlakukan dengan hormat.
Dan aturan sakral langsung ditetapkan. Celengan Ayam hanya boleh dibuka setahun sekali. Saat Ramadan tiba.
Pernah suatu sore, waktu masih SMA, Unting duduk menatap ayamnya cukup lama.
“Ayamku sayang… kalau semisal aku korek sedikit aja, kamu bakal kurus nggak?”
Tangannya sudah menyentuh bagian pantat ayam, memang dari situlah uang dikeluarkan. Tapi kemudian ia menarik tangannya kembali.
“Belum waktunya.” bisiknya waktu itu. Dan, sang celengan pun tetap utuh.
Dan di situlah, tanpa sadar, Unting belajar bahwa menahan diri bukan kehilangan, melainkan memperbesar daya tahan hati.
Tahun-tahun berlalu. Rambut kepang dua berubah jadi rambut rapi perempuan dewasa. Seragam sekolah berganti pakaian kerja.
Kini Unting bekerja di salah satu kantor pemerintahan di Solo. Punya meja kerja. Punya tanggung jawab. Punya penghasilan sendiri.
Tapi sang celengan ayam tetap menemani di sudut kamar.
Di tengah zaman serba transfer instan dan QR code, Unting masih menyisihkan dua ribu. Masih memasukkan lima ribu. Masih melipat sepuluh ribu.
Karena baginya, celengan ayam itu bukan soal uang. Ia lebih pada soal konsistensi. Ia merupakan integritas kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Ramadan selalu jadi momen yang paling ditunggu. Saat Panen tiba. Saat sang celengan ayam dipanen. Sang celengan diangkat dengan hati-hati. Diletakkan di pangkuan seperti teman lama yang hendak diajak berbicara. Bagian pantatnya dikorek pelan. Uang keluar sedikit demi sedikit seperti aliran yang sabar menunggu waktunya.
Biasanya lebih dari satu juta rupiah. Tahun ini, Alhamdulillah, terkumpul satu juta empat ratus rupiah.
Uang hasil panennya dibagi tiga.
Untuk pesantren kilat-sanlat.
Untuk berbagi takjil,
Untuk kebutuhan Unting sendiri.
“Biar seimbang, Bulik,” katanya ringan. “Biar hidup lebih berwarna, nggak cuma tentang aku.”
Aku selalu terdiam mendengar itu.
Karena di balik wajah cerianya, ada hati yang sudah tahu caranya berbagi tanpa kehilangan diri.
Unting suka anting panjang. Cantik sekali kalau ia pakai. Antingnya berayun lembut setiap ia tertawa.
Dan, setiap anting yang ia beli selalu punya cerita. Bukan hasil tergesa-gesa. Itu hasil satu tahun menunggu. Hasil “pluk” yang tidak pernah berhenti.
Sang celengan ayam kini sudah lima belas tahun umurnya. Sudah lima belas tahun mengabdi. Catnya sudah mulai pudar. Ada goresan kecil di jenggernya. Tapi justru di situlah letak kekuatan boundingnya.
Ia menyimpan masa kecil Unting.
Masa remajanya.
Dan kini masa dewasanya.
Suatu hari aku menggoda,
“Kalau nanti kamu menikah, ayamnya ikut nggak?”
Unting tertawa lepas.
“Ya ikutlah, Bulik. Dia salah satu saksi perjalanan hidup Unting.”
Aku bahagia mendengarnya. Karena ternyata, seekor celengan bisa lebih dari sekadar benda.
Ia bisa menjadi saksi bahwa karakter tidak lahir dari nominal besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga setia.
Dan setiap kali Unting memanggil, “Bulik…”
Aku tahu yang bertambah bukan cuma isi celengan ayamnya.
Tapi keluasan hatinya.
Tapi kedewasaannya.
Tapi caranya memandang hidup.
Kadang yang membuat seseorang kaya bukan jumlah rupiahnya, melainkan caranya memperlakukan receh dan membaginya dengan cinta❤️❤🔥🌹
Bogor, 24 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
