PASAMAN BARAT, FOKUSSUMBAR.COM – Sebagus apapun suatu lembaga pendidikan dan seburuk apapun kondisi suatu madrasah, hasilnya akan baik dan maksimal jika lembaga pendidikan itu dikelola bersama.
“Penentu baik atau tidak dan bergengsi atau tidaknya lembaga pendidikan, bukanlah kepala, pendidik dan tenaga non kependidikan yang ada, tapi dikelola secara bersama”, kata Bisri, alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Paraman Ampalu, saat acara silaturahmi sekaligus halal bihalal di madrasah itu, Minggu (22/3/2026).
Persoalan yang terjadi dan dihadapi saat ini, ulasnya, adalah makin tinggi sekaligus berpengaruhnya krisis moral, peredaran narkoba, pemanfaatan handphone dengan bebas, dan kurangnya pengawasan orangtua bersama masyarakat, termasuk di Paraman Ampalu.
Membangun madrasah yang maju dan bermutu harus didasarkan pada komitmen bersama seluruh komponen—tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat—melalui kolaborasi dan gotong royong. Sinergi ini krusial untuk memajukan madrasah, menciptakan lingkungan ramah anak, serta membangun peradaban Islam.
Berikut beberapa kunci membangun madrasah secara bersama adalah komitmen bersama: warga madrasah, termasuk guru dan tenaga kependidikan, harus bersatu dalam visi memajukan madrasah.
Berikutnya kolaborasi dan Inovasi. Pihak sekolah, khususnya kepala madrasah, perlu menjalin kemitraan dengan orang tua dan masyarakat untuk mendukung keberlangsungan pendidikan.
Dan, adanya ukungan Pihak Luar. Keterlibatan Kementerian Agama dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam mendukung, khususnya bagi madrasah swasta.
Selanjutnya pembentukan karakter. Madrasah bertujuan membangun peradaban dan membentuk karakter siswa, bukan sekadar mencetak lulusan.
Terakhir, kemitraan yang kuat antara madrasah dan orang tua, yang sering disebut “3R Kemitraan”, menjadi strategi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Sehingga harapan bersama menjadikan madrasah unggul dari berkualitas terwujud. (gmz)
