Oleh: Yumi Ariyati*)
SETIAP tanggal 21 April, kita kembali mengenang sosok Raden Ajeng Kartini. Namun, merayakan Kartini hari ini bukan lagi soal seberapa anggun kita berkebaya, melainkan seberapa tajam pemikiran kita mewarnai ruang publik.
Di era digitalisasi ini bagi kita Perempuan, Hari Kartini adalah momentum untuk merefleksikan kembali: Suara seperti apa yang sedang kita gaungkan ke telinga masyarakat?
Hak untuk Bersuara dan Berpikir
Kartini berjuang melalui surat-suratnya agar perempuan memiliki hak untuk dididik dan berbicara. Di era digital ini, akses untuk bersuara sudah terbuka lebar.
Tantangan dari media social dibanjiri oleh tren konten yang sering kali hanya mengejar “viral” tanpa makna—seperti gerakan-gerakan “latah” atau konten yang sekadar mengeksploitasi fisik demi “like” dan angka pengikut.
Sebagai perempuan, kita memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar. Penyiaran bukan sekadar tentang tampil di depan layar atau di balik mikrofone; ini adalah tentang intelektualitas. Kita memiliki hak dan kewajiban untuk menyuarakan pikiran yang konstruktif, mengkritisi kebijakan, dan memberikan edukasi yang mencerahkan.
Melawan Arus “Konten Latah”
Kita melihat keprihatinan yang nyata ketika banyak perempuan terjebak dalam tren media sosial yang dangkal.
Jika perempuan hanya ditampilkan—atau menampilkan diri—sebagai objek yang “menari-nari” tanpa pesan kemanfaatan, maka kita sedang mempertaruhkan standar kualitas generasi mendatang. Dampak jangka panjangnya cukup mengkhawatirkan.
Generasi muda khususnya perempuan mungkin akan menganggap bahwa eksistensi hanya bisa dicapai melalui popularitas semu, bukan melalui kompetensi. Kita harus membuktikan bahwa karya yang berkualitas—baik itu melalui jurnalisme yang kuat, program edukasi yang inspiratif, maupun produksi konten yang estetik namun berisi—jauh lebih abadi ketimbang tren sesaat.
Penyiaran sebagai Alat Literasi
Dunia penyiaran bukan hanya soal estetika di depan layar atau kemerduan suara di balik mikrofone. ini adalah alat diplomasi dan literasi. Sebuah karya penyiaran yang berkualitas—baik itu berita, dokumenter, atau program edukasi—adalah bentuk nyata dari emansipasi.
Ketika perempuan menghasilkan konten yang berbasis riset dan etika, ia sedang menjalankan tugas Kartini: Menerangi kegelapan dengan ilmu. Sebaliknya, konten yang sekadar mengeksploitasi sisi visual tanpa substansi hanya akan melanggengkan stereotip lama yang merugikan kaum perempuan itu sendiri.
Perempuan adalah pendidik pertama dalam peradaban. Jika perempuan mampu menunjukkan kualitas berpikir dan konsistensi dalam berkarya, maka kita sedang memagari generasi ini dari kerusakan moral dan pendangkalan berpikir.
Mari kita gunakan suara kita bukan untuk sekadar bising, tapi untuk memberikan arti. Hari Kartini tahun ini adalah momentum bagi kita, perempuan di dunia pendidikan dan media, untuk kembali ke marwah perjuangan yang sesungguhnya.
Mari kita penuhi ruang digital dan frekuensi penyiaran kita dengan karya yang menginspirasi, mendidik, dan memberdayakan.
Jangan biarkan suara kita hilang dalam riuh rendah tren yang sia-sia. Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sekadar mengikuti arus, melainkan oleh perempuan-perempuan yang berani menciptakan arusnya sendiri melalui karya yang berkualitas dan bermartabat.
Peradaban yang maju tidak dibangun dari gerakan jari yang latah di layar ponsel, melainkan dari pemikiran yang tajam dan karya yang membawa maslahat bagi masyarakat.
Selamat Hari Kartini. Teruslah berkarya dan jadilah inspirasi bagi sesama perempuan Indonesia. []
Dosen Fisipol Universitas Ekasakti*)
