“Bumi Terluka”

Oleh : Nurul Jannah*)

“Bumi tidak pernah meminta banyak, ia hanya ingin kita berhenti melukainya.”

Dulu, bumi berbicara pelan,
lewat gemerisik daun,
lewat desir angin,
lewat aliran sungai
yang jernih tanpa beban.

Kita mendengarnya.
Kita mengerti.

Kini, bumi masih bicara,
namun suaranya patah,
serak,
dan hampir hilang.

Hutan berteriak,
bukan lagi memanggil,
melainkan merintih
dalam bahasa yang tak lagi kita pedulikan.

Pohon-pohon tumbang,
bukan lagi karena usia,
tetapi karena keserakahan
yang kita namakan kebutuhan.

Sungai mengalir,
membawa luka yang kita buang.

Air yang dulu memeluk kehidupan,
kini memanggul beban
yang terlalu berat untuk ditanggung.

Ia tidak lagi bening.
Ia terluka.
Ia lelah.

Langit memeluk warna kelabu
yang tidak pernah ia pilih.

Asap naik,
menutup cahaya
yang seharusnya kita jaga.

Dan kita tetap berjalan,
dengan langkah yang seolah tidak bersalah,
seolah semua masih baik-baik saja.

Bumi tidak pernah melawan.
Ia hanya diam
ketika kita mengambil
lebih dari yang pernah kita kembalikan.

Ia hanya diam
ketika akar dicabut,
ketika tanah digali tanpa jeda,
ketika kehidupan diperas
tanpa pernah diberi waktu untuk pulih.

Namun diamnya bukan tanpa arti.
Dalam diam itu,
ada yang perlahan hilang,
satu per satu, tanpa suara.
udara yang bersih,
air yang jujur,
dan masa depan
yang dulu kita yakini akan tetap ada.

Pernahkah kita benar-benar berhenti,
lalu bertanya:
berapa banyak yang sudah kita ambil…
dan berapa yang pernah kita kembalikan?

Anak-anak nanti
tidak akan mengenal hutan
seperti yang kita kenal.

Tidak akan melihat sungai
seperti yang pernah kita lihat.

Yang tersisa hanya cerita,
tentang bumi
yang dulu hidup,
sebelum kita perlahan menghabiskannya.

Dan mungkin saat itu,
kita baru mengerti,
yang hilang bukan hanya alam,
tetapi juga rasa cinta kita.

Bumi tidak pernah meminta kita menjadi sempurna.

Ia hanya ingin kita berhenti merusak,
dan mulai menjaga.
Sebelum suatu hari,
ia benar-benar berhenti bicara,
dan saat itu tiba,
yang tersisa bukan lagi suara bumi,
melainkan sunyi yang penuh penyesalan.

Bogor, 18 April 2026❤‍🔥

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version