“Potluck”

Oleh: Nurul Jannah*)

“Hari ini siapa yang bawa makanan?”

Pertanyaan itu hampir selalu menjadi kalimat pembuka yang paling ditunggu menjelang acara weekend laboratorium di Jepang.

Karena kami tahu, di balik setiap kotak makanan yang dibawa, selalu ada cerita, kenangan, budaya dan kerinduan yang ikut datang bersama aromanya.

Ketika pertama kali tiba di Jepang sebagai mahasiswa asing, banyak hal terasa berbeda. Bahasanya berbeda. Cuacanya berbeda. Makanannya berbeda. Bahkan cara orang bercanda pun berbeda.

Pada awalnya, semua terasa asing. Namun ada satu hal yang mampu mencairkan seluruh perbedaan itu, yaitu makanan.

Dan di antara berbagai kegiatan laboratorium, potluck menjadi salah satu jembatan terindah yang mempertemukan kami.


Potluck adalah acara makan bersama di mana setiap orang membawa satu jenis makanan untuk dibagikan kepada semua peserta.

Konsepnya sederhana. Namun dampaknya luar biasa.

Bayangkan sebuah ruangan laboratorium yang biasanya dipenuhi diskusi penelitian, grafik statistik, dan presentasi ilmiah. Pada hari potluck, ruangan itu berubah menjadi “peta dunia rasa.”

Di satu nampan besar, mahasiswa Jepang membawa sushi dan onigiri.

Di piring lain, mahasiswa Tiongkok membawa dumpling hangat.

Teman dari Korea datang dengan kimchi dan kimbap.

Mahasiswa Thailand membawa tom yum yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

Teman dari India menghadirkan kari yang kaya rempah.

Sementara kami dari Indonesia sibuk menata rendang, sate, perkedel, bakwan, atau nasi goreng, yang selalu mengundang rasa penasaran.

Belum lagi teman-teman dari Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Nepal, Iran, Mesir, Brasil, hingga negara-negara Eropa.

Dalam satu meja panjang, dunia seolah berkumpul tanpa sekat.

Yang paling menarik ternyara bukan hanya makanannya. Melainkan cerita di balik makanan itu.

“Ini resep khusus dari nenek saya.”

“Kalau di negara saya, makanan ini wajib ada saat hari raya.”

“Pedas ya?”

“Belum. Ini justru versi yang tidak pedas.”

Lalu ruangan dipenuhi tawa.

Suatu kali seorang teman Jepang mencoba sambal yang saya bawa. Awalnya ia sangat percaya diri.

“Saya suka makanan pedas.”

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah merah. Ia buru-buru mencari air minum. Seluruh ruangan spontan tertawa.

Ia pun ikut tertawa sambil berkata,

“Sekarang saya mengerti kenapa orang Indonesia selalu tersenyum. Mungkin karena sudah terlatih menghadapi sambal pedas sejak kecil.”

Tawa kembali pecah.

Ada pula teman dari Eropa yang pertama kali mencoba kerupuk. Ia mengambil satu. Mendekatkannya ke telinga. Menggigit perlahan.

“Kreeekkk….”

Matanya langsung berbinar.

“Wow… makanan ini renyah sekali!”

Setelah itu, hampir setengah toples kerupuk berpindah ke piringnya.

Dan di sepanjang acara, ia terus mengambil kerupuk. Lagi dan lagi.

Sejak hari itu, bahkan di setiap ada acara potluck, selalu muncul pertanyaan initimidatif, “Hari ini ada kerupuk kan?…”


Potluck paling berkesan justru terjadi saat bulan Ramadan.

Sebagai mahasiswa Muslim yang tinggal jauh dari keluarga, Ramadan sering menghadirkan kerinduan yang sulit dijelaskan. Kerinduan mendengar azan magrib dari masjid dekat rumah. Kerinduan berbuka bersama keluarga. Kerinduan pada masakan ibu. Kerinduan pada suasana yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Di negeri yang jauh, ribuan kilometer dari tanah air, kerinduan itu sering datang ketika mencium aroma makanan rumah.

Pada saat-saat seperti itulah Potluck berubah menjadi lebih dari sekadar acara makan bersama.

Ia menjadi rumah sementara bagi para perantau.

Menjelang waktu berbuka, teman-teman dari berbagai negara datang membawa makanan terbaik mereka. Ada kurma dari Timur Tengah. Ada samosa dari India dan Pakistan. Ada mie goreng dari Indonesia. Ada aneka hidangan ayam khas Bangladesh. Ada buah-buahan, salad, roti, dan berbagai makanan lain yang memenuhi meja.

Ruangan yang biasanya digunakan untuk penelitian berubah menjadi ruang kebersamaan. Tidak ada keluarga di sana. Namun suasananya terasa seperti keluarga. Dan saat itulah seluruh kerinduan terobati.

Sebenarnya makanan yang kami santap saat itu tidak semewah hotel berbintang. Namun rasanya luar biasa. Karena yang membuat makanan menjadi istimewa bukan hanya bumbunya. Melainkan kebersamaan yang menyertainya.

Dalam acara seperti itu, tidak ada yang bertanya siapa profesor dan siapa mahasiswa baru.

Tidak ada yang peduli siapa yang berasal dari negara maju atau negara berkembang. Tidak ada yang mempermasalahkan warna kulit, bahasa, ataupun paspor.

Yang ada hanyalah manusia-manusia yang sedang berbagi makanan dan cerita. Dan pada saat itu, dunia terasa jauh lebih sederhana dan lebih indah.


Bertahun-tahun telah berlalu sejak masa studi itu. Sebagian teman kini menjadi profesor. Sebagian menjadi peneliti. Sebagian menjadi pejabat. Sebagian kembali mengabdi di negaranya masing-masing.

Namun uniknya, ketika nama mereka disebut, yang pertama kali teringat bukan penelitian yang pernah kami lakukan bersama. Melainkan makanan yang pernah mereka bawa saat potluck.

Ada yang selalu membawa kari. Ada yang terkenal dengan kue buatannya. Ada yang selalu datang dengan makanan paling pedas. Ada yang masakannya selalu habis paling cepat.

Dan sampai hari ini, ketika mengingat Jepang, ingatan itu tidak hanya berisi ruang kuliah, laboratorium, atau tumpukan jurnal.

Ada pula kenangan tentang meja panjang yang dipenuhi makanan dari berbagai negara.

Tentang tawa yang tidak memerlukan penerjemah. Tentang persahabatan yang lahir dari berbagi hidangan. Tentang rasa rindu yang sedikit terobati oleh sepiring makanan hangat.

Potluck mengajarkan satu pelajaran yang sangat indah. Bahwa dunia tidak selalu harus dipersatukan oleh kesamaan.

Kadang dunia justru menjadi indah karena perbedaan. Perbedaan rasa. Perbedaan budaya. Perbedaan bahasa. Perbedaan kebiasaan. Yang kemudian dipertemukan dalam satu meja, lalu dinikmati bersama dengan penuh kegembiraan.

Dan mungkin itulah alasan mengapa hingga hari ini, kenangan tentang potluck masih terasa hangat.

Karena yang dibagikan saat itu bukan hanya makanan. Melainkan persahabatan, kerinduan, dan sepotong rumah yang dibawa perantau dari negaranya sendiri💕.

Jakarta, 17 Juni 2026

Exit mobile version