Ya Sudah

Oleh: Nurul Jannah*)

Ada kemenangan yang membuat kita bangga. Namun ada pula kemenangan yang terasa menyakitkan.

Hari itu aku menang dari Ibu.

Aku punya alasan. Aku punya bukti. Aku bahkan tahu bagaimana menyusun kata-kata agar pendapatku sulit dibantah.

Ibu mencoba menjelaskan. Aku menyela.

Ibu menjawab. Aku membalas.

Sampai akhirnya Ibu diam. Ia menatapku sebentar, lalu berkata pelan,

“Ya sudah…”

Dua kata. Selesai.

Harusnya aku puas. Bukankah itu yang kuinginkan?

Tetapi melihat wajah Ibu, entah mengapa kemenangan itu mendadak terasa menyakitkan.

Tiba-tiba ingatanku berlari jauh ke belakang.

Mengapa aku begitu ingin menang dari perempuan yang sepanjang hidupnya berkali-kali memilih mengalah untukku?

Bukankah ia yang selalu mengurangi lauk di piringnya agar anak-anaknya kenyang?

Bukankah ia yang selalu menunda membeli kebutuhannya karena uang sekolah harus dibayar?

Bukankah ketika hidup sedang sempit, ia tetap tersenyum agar anak-anaknya merasa semuanya baik-baik saja?

Ibu sering mengalah.

Mengalah pada kantuk. Mengalah pada lapar. Mengalah pada lelah. Mengalah pada keinginannya sendiri.

Bukan karena Ibu tidak ingin menang. Ia hanya sedang memberi jalan agar anak-anaknya memenangkan kehidupan.

Lalu anak-anak itu tumbuh besar. Membawa pulang pendidikan, pengalaman, jabatan, pengetahuan, dan kemampuan berbicara.

Baca Juga :  Atlet Tenis Meja kota Padang Koleksi 2 Emas 1 Perak 1 Perunggu, Erianto Berikan Apresiasi

Ironisnya, ketika semua itu ada, justru kita gunakan untuk memenangkan perdebatan dengan orang yang mengajari kita mengucapkan kata pertama.

Dulu ketika belum tahu banyak hal, kita percaya penuh kepada Ibu. Sekarang ketika merasa tahu banyak hal, kita malah menganggap Ibu tidak tahu apa-apa.

“Zaman sudah berubah, Bu.”

Benar. Zaman memang berubah. Teknologi berubah. Cara bekerja berubah. Cara berpikir berubah. Cara berkomunikasi berubah. Cara melihat dunia pun berubah.

Tetapi satu hal yang nyaris tidak berubah, Ibu tetap mencintai anaknya dengan cara yang ia tahu.

Kadang caranya memang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Nasihatnya terasa berlebihan. Kekhawatirannya terasa mengganggu. Pertanyaannya terlalu banyak.

Kita menyebutnya cerewet. Ibu menyebutnya peduli. Kita merasa penuh kekhawatiran. Ibu menyebutnya sayang. Barangkali bahasa cinta Ibu memang tidak selalu sama dengan bahasa yang ingin kita dengar. Tetapi cintanya tetap utuh untuk sang cinta itu sendiri.

Berbakti ternyata bukan perlombaan menjadi anak paling manis di depan orang lain. Melainkan kemampuan menjaga hati Ibu ketika tidak ada siapa pun yang melihat.

Menahan satu kalimat yang sebenarnya bisa kita lontarkan. Merendahkan suara meski kita mampu membalas. Memahami kekhawatirannya sebelum berkata,

Baca Juga :  Padang Pariaman Juara Umum Arung Jeram Porprov XVI, Padang Cuma Bawa Pulang 1 Perunggu

“Ibu tidak mengerti aku.”

atau, boleh lah sesekali kita bertanya, “Bu, apa yang membuat Ibu bahagia?”

Sesederhana itu. Tetapi pernahkah kita benar-benar menanyakannya?

Kita hafal makanan kesukaan pasangan. Tahu ulang tahun teman. Tahu kopi favorit kolega. Bahkan tahu apa yang sedang ramai dibicarakan dunia. Tetapi belum tentu tahu apa yang diam-diam membuat Ibu menangis?.

Maka aku hanya ingin tahu, kapan harus bicara dan kapan ego wajib diturunkan.

Ibu juga tidak harus selalu benar untuk tetap layak dihormati. Aku juga tidak harus selalu mengalah untuk memuliakannya.

Aku hanya perlu mengingat, tidak semua perbedaan membutuhkan pemenang. Ada hubungan yang nilainya jauh lebih mahal daripada sekadar sebuah kemenangan.

Maka jika suatu hari aku kembali berdebat dengan Ibu, aku akan berhenti sebentar. Menatap wajah Ibu, sembari mengingat berapa banyak peluh yang sudah ia lepaskan agar aku bisa berada sejauh ini.

“Jika toh aku memenangkan perdebatan, tetapi melukai hati Ibu, sebenarnya siapa yang menang?”

Tidak ada. Karena ada kemenangan yang membuat kita besar. Ada pula kemenangan yang justru membuat kita malu. Maka aku tidak ingin selalu menjadi anak yang paling benar.

Baca Juga :  GPM Kembali Digelar, Pemko Sediakan Komoditas Pangan Harga Terjangkau

Aku hanya ingin, ketika Ibu merebahkan tubuhnya malam ini, tidak ada lagi air mata yang harus ia sembunyikan karena ucapanku.

Sebab semakin dewasa, aku semakin memahami bahwa memuliakan Ibu bukan tentang seberapa rendah kita menunduk ketika mencium tangannya. Melainkan seberapa tinggi kita menempatkan perasaannya, dan seberapa hati-hati kita menjaga hatinya.

Barangkali, cara paling sederhana mencintai Ibu adalah tidak membiarkan hatinya terluka hanya karena kita ingin menang.

Sebab suatu hari nanti, ketika suara nya tidak lagi terdengar, kita rela kalah dalam seribu perdebatan hanya untuk mendengar sekali lagi dua kata yang dahulu terasa begitu biasa,

“Ya sudah…” ❤️

Jakarta, 7 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *