Dompet Ibu

Oleh: Nurul Jannah*)

“Telurnya setengah kilo saja, Bang.”

“Biasanya sekilo, Bu.”

“Iya. Anak-anak sekarang enggak terlalu suka telur.”

Aku menoleh. Perempuan berkerudung lusuh di sebelahku itu tersenyum sambil membuka dompet kecilnya. Jemarinya yang mulai keriput memilah beberapa lembar uang. Dihitung sekali, lalu dihitung lagi dan akhirnya diselipkan kembali dengan hati-hati.

“Cabainya jadi, Bu?” tanya pedagang.

“Enggak dulu. Masih ada di rumah.”

Padahal, sejak tadi kulihat ia memegang cabai cukup lama, sebelum akhirnya mengembalikannya.

Pagi itu, pasar di Bogor tetap riuh. Pedagang menawarkan dagangan, pembeli menawar harga, dan kantong-kantong belanja berpindah tangan. Namun, di antara keramaian itu, aku melihat perjuangan yang terasa begitu akrab.

Harga beras, telur, minyak, dan kebutuhan dapur terus menjadi bahan percakapan. Tetapi di balik angka-angka itu, ada cerita yang tak pernah tercatat pada papan harga: tentang ibu yang harus memilih mana yang dibeli, mana yang dikurangi, dan mana yang terpaksa dilupakan.

Ada ibu yang datang membawa daftar kebutuhan, tetapi pulang membawa daftar keinginan yang harus ditunda.

Aku teringat Ibu.

Ingatan itu membawaku kembali ke sebuah rumah sederhana, bertahun-tahun silam.

Dulu, ketika aku masih sekolah, Ibu mempunyai dompet cokelat yang sudutnya mulai mengelupas. Dompet itu hampir selalu berada di dekatnya, seolah seluruh urusan keluarga tersimpan di dalamnya.

“Bu, besok harus bayar uang kegiatan sekolah.”

“Berapa, Nak?”

“Lima puluh ribu.”

Ibu membuka dompet. Ada beberapa lembar uang lusuh, secarik daftar belanja, dan foto keluarga yang mulai pudar.

Kulihat Ibu menghitung uangnya. Ia berhenti sebentar, lalu menutup dompet itu perlahan.

“Besok pagi Ibu kasih, ya. Sekarang tidur. Besok jangan terlambat.”

Aku menurut tanpa banyak bertanya.

Malamnya, aku terbangun mendengar suara mesin jahit dari ruang tengah. Ibu duduk membungkuk, menyelesaikan pesanan seragam tetangga. Cahaya lampu kecil jatuh di wajahnya yang lelah.

Baca Juga :  Lisda Hendrajoni Turun ke Lokasi Banjir Tapan, Sembilan Nagari Terdampak jadi Perhatian

“Belum tidur, Bu?”

“Sebentar lagi.”

“Kenapa masih menjahit?”

“Biar besok bisa diantar ke pemiliknya.”

Aku terdiam.

“Belajar yang rajin, ya.”

Ibu mengusap kepalaku dengan tangan yang masih menggenggam benang. Aku mencium tangannya, lalu kembali tidur. Sementara Ibu melanjutkan pekerjaannya, ditemani suara mesin jahit dan malam yang semakin larut.

Aku kembali ke kamar. Belum cukup dewasa untuk memahami bahwa setiap lembar uang yang diberikan Ibu kadang harus dibayar dengan berjam-jam kantuk yang ditahannya sendiri.

“Bu, berasnya jadi berapa kilo?”

Suara pedagang membuyarkan lamunanku.

Perempuan tadi masih berdiri di depan timbangan.

“Dua kilo saja, Bang. Nanti kalau kurang, saya beli lagi.”

Aku melihatnya memasukkan belanjaan ke tas kain yang warnanya telah memudar. Sebelum pergi, ia kembali menghitung uang di dompetnya.

Lalu ia merapikan ujung kerudung, mengangkat tas belanja, dan berjalan meninggalkan lapak. Tidak ada yang istimewa bagi orang-orang di sekitarnya. Namun, bagiku, langkah perempuan itu seperti membawa pulang seluruh kenangan tentang Ibu.

Gerakannya persis seperti Ibu dulu.

Aku teringat meja makan kami. Meja kecil yang selalu terasa cukup untuk menampung seluruh kebahagiaan keluarga, meskipun lauk di atasnya sering kali sangat sederhana.

Ketika lauk tinggal sepotong ikan, Ibu selalu mengambil bagian kepala.

“Bu, kok kepalanya terus?”

“Ibu paling suka kepala ikan.”

Kami percaya begitu saja. Bahkan pernah berebut bagian daging tanpa menyadari bahwa Ibu sedang membagi makanan dengan cara yang paling sunyi.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru mengerti. Bukan kepala ikan yang paling disukai Ibu, melainkan melihat anak-anaknya kenyang.

Dan yang membuat dadaku sesak hari ini, kami tak pernah bertanya apakah Ibu benar-benar sudah makan.

Sepulang dari pasar, aku membuka lemari dan mengambil dompet cokelat peninggalan Ibu. Kulitnya retak, jahitannya terlepas di beberapa bagian. Namun, aroma kenangan terasa begitu dekat ketika benda itu berada dalam genggamanku.

Baca Juga :  ATR/BPN Terapkan Pengukuran Terjadwal di 462 Kantah, Pangkas Alur Kerja dan Edukasi Pemohon

Aku mengusap permukaannya dengan ibu jari. Di dompet inilah dahulu tersimpan uang belanja, ongkos sekolah, biaya berobat, dan harapan-harapan kecil yang selalu Ibu usahakan agar menjadi nyata.

Di dalamnya masih terselip secarik kertas.

Beras. Minyak. Telur. Sabun. Ongkos sekolah.

Di bagian paling bawah, dengan tulisan lebih kecil, ada satu kata.

Sandal.

Aku membacanya berulang kali.

Satu kata yang dahulu tak pernah menarik perhatianku. Kini justru membuat tanganku gemetar.

Tiba-tiba aku teringat sandal Ibu yang talinya berkali-kali diperbaiki. Setiap kami menyuruhnya membeli yang baru, jawabannya selalu sama.

“Masih bagus, Nak.”

“Tapi sudah jelek, Bu.”

“Yang penting masih bisa dipakai.”

Sementara itu, sepatu sekolah kami tak pernah dibiarkannya terlalu sempit. Seragam yang mulai kekecilan segera diperbaiki. Buku pelajaran diusahakan tetap tersedia.

Keperluan kami selalu mendapat giliran pertama. Keinginan Ibu terus menunggu di urutan terakhir.

Aku lama terdiam sambil memandangi kertas itu.

Betapa hebat cara Ibu mengatur uang. Ia tidak pernah belajar teori inflasi, tetapi memahami kenaikan harga melalui isi keranjang belanja. Ia tak pernah berbicara tentang daya beli, tetapi setiap hari berjuang agar penghasilan keluarga cukup sampai akhir bulan.

Ia tahu kapan harus menawar, mengurangi lauk, menunda membeli pakaian, atau mengatakan sudah kenyang.

Ibu bahkan tahu bagaimana membuat kami merasa berkecukupan ketika ia sendiri sedang berjuang menghadapi kekurangan.

Dan kami, anak-anaknya, terlalu sering percaya bahwa semuanya baik-baik saja.

Kami melihat nasi tersaji, tetapi tidak melihat kegelisahan di baliknya. Kami mengenakan sepatu baru, tetapi lupa memperhatikan sandal Ibu.

Kami menikmati hasil pengorbanannya tanpa pernah benar-benar menghitung harga yang harus ia bayar.

Kini, setiap kali mendengar harga kebutuhan pokok naik, aku teringat dompet-dompet kecil yang dibuka dengan cemas di pasar.

Baca Juga :  Yogyakarta Jangan Dikhianati Jakarta

Ada ibu yang mengurangi belanja agar anaknya tetap makan. Ada yang menunda berobat demi membayar sekolah. Ada pula yang mengambil pekerjaan tambahan ketika seluruh anggota keluarga telah terlelap.

Aku mendekap dompet cokelat itu ke dada. Menangis untuk malam-malam ketika Ibu tidak tidur, untuk lauk yang tak pernah ia nikmati, untuk sandal yang tak kunjung terbeli, dan untuk seluruh pengorbanan yang terlambat kupahami.

Sebab mencintai ibu bukan hanya mencium tangannya atau mengucapkan terima kasih pada hari istimewa. Cinta juga berarti memperhatikan apa yang diam-diam ia kurangi dari hidupnya agar kita tidak kekurangan.

Aku kembali menatap dompet cokelat di pangkuanku. Dulu aku selalu percaya ketika Ibu berkata, “Uangnya cukup.”

Kini aku mengerti, cukup bukan selalu berarti uangnya tersedia. Kadang, cukup berarti Ibu telah memutuskan kebutuhan dirinya sendiri boleh menunggu.

Air mataku jatuh tepat di atas kertas belanja itu.

Sandal.

Hanya satu kata. Keinginan kecil yang berkali-kali kalah oleh kebutuhan keluarga.

Aku ingin kembali ke masa lalu. Menggenggam tangan Ibu, mengajaknya ke toko, dan berkata, “Bu, hari ini kita beli sandal untuk Ibu dulu.”

Tetapi waktu tak pernah menyediakan jalan pulang semacam itu.

Ibu telah tiada. Dompetnya masih kusimpan. Dan sandal baru yang dulu ingin kubelikan kini tak lagi memiliki kaki untuk memakainya.❤️

Jakarta, 14 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *