Pasar Tradisional

Oleh: Nurul Jannah*)

“Melatinya, Bu. Masih segar, baru dipetik tadi pagi.”

Aku berhenti di depan penjual bunga di sebuah pasar tradisional. Aroma melati itu menyergap begitu akrab, seolah ada tangan kecil yang menarikku kembali ke masa puluhan tahun silam. Di tengah riuh pedagang dan langkah pembeli, tiba-tiba aku merindukan satu suara.

“Jangan jauh-jauh, Nduk. Pegang tangan Ibu.”

Ah, Ibu. Betapa satu kalimat sederhana mampu membuat dadaku sesak oleh rindu.

Dulu, sebelum matahari benar-benar terbit, setiap minggu, aku selalu menemani Ibu ke pasar. Keranjang anyaman bergantung di lengannya, sementara tanganku sibuk menggenggam jemarinya.

Wangi rempah, daun pisang, jajanan tradisional dan gorengan hangat bercampur menjadi aroma pagi yang tak pernah kulupakan.

Bagiku, pasar adalah negeri kecil yang penuh keajaiban, tempat Ibu bisa menawar harga sambil tertawa. Pasar pula yang membuatku sangat bahagia hanya karena sepotong kue.

“Bu, beli kue itu, ya?”

“Yang mana, Nduk?”

“Yang merah muda!”

Ibu tertawa. “Boleh banget sayang.”

Aku menerima kue dengan sigap, lalu menggigit kue dengan wajah puas. Ibu mengusap remah di bibirku.

Aku tak pernah membayangkan bahwa kelak sentuhan kecil itulah yang paling ingin aku rasakan kembali.

Di pasar, hampir semua pedagang mengenal Ibu. Ada yang menyapa dari kejauhan, ada yang menanyakan kabar keluarga, bahkan ada yang menyelipkan cabai tambahan ke keranjangnya.

“Lho, Bu, kok cabainya dilebihkan?”

“Biar masakannya tambah pedas, Bu!”

Ibu tertawa senang.

Begitulah pasar masa kecilku. Harga ditawar, kabar dipertukarkan, dan keakraban tumbuh begitu alami.

Baca Juga :  Lisda Hendrajoni Ajak Warga Pessel Waspada Kabut Asap, Germas Digelar dengan Layanan Kesehatan Gratis

Namun, kenangan paling manis justru tersimpan di dekat kios kain.

Di sanalah Ayah sering menunggu kami, membawa dua bungkus bubur hangat dan seikat melati.

“Sudah selesai belanjanya, Bu?” tanya Ayah.

“Belum. Masih kurang beberapa.”

Ayah melirik keranjang yang hampir penuh. “Yang kurang belanjaannya atau waktu jalan-jalan sama aku?”

Ibu tersipu. “Ah, Bapak ini. Geer aja!”

Aku terkikik bahagia melihat mereka.

Ayah lalu mengambil keranjang dari tangan Ibu, sementara Ibu merapikan kerah baju Ayah yang sedikit terlipat. Tak ada pelukan mesra atau janji berbunga-bunga. Tetapi dari cara mereka saling memperhatikan, aku melihat romantisme cinta yang begitu teduh.

“Melatinya buat Ibu ya?” tanyaku polos.

Mata Ayah nampak berbinar-binar “Iya dong.”

“Kalau buat aku apa Ayah?”

“Kamu dapat buburnya. Juga dapat senyum Ayah dan Ibu, ya!”

Kami tertawa bersama. Tiga orang berjalan di antara keramaian pasar, membawa belanjaan, bubur hangat, dan kebahagiaan yang saat itu terasa tak akan pernah berakhir.


“Bu, melatinya jadi dibeli?”

Suara penjual bunga membuyarkan lamunanku. Aku kembali berdiri di pasar, puluhan tahun setelah pagi-pagi indah itu berlalu.

“Jadi, Pak. Satu ikat.”

Aku menerima bunga putih mungil tersebut. Wanginya masih sama. Pasarnya pun masih hidup. Pedagang masih berseru menawarkan dagangan, pembeli masih menawar, dan anak-anak masih merengek meminta jajanan. Hanya wajah-wajah yang berganti, sementara waktu diam-diam mengambil orang-orang yang paling kucintai.

Kini, keranjang anyaman Ibu tinggal kenangan. Tak ada lagi tangannya yang menggenggamku di tengah keramaian. Tak ada lagi Ayah yang menunggu di dekat kios kain sambil membawa bubur dan melati.

Baca Juga :  Bhumi ATR/BPN Permudah Masyarakat Telusuri Informasi Pertanahan Lewat Peta Digital

Tetiba kenangan indah bersama mereka kembali menyeruak.

Ketika melihat seorang Ibu menggandeng anak perempuannya, aku tersenyum. Anak itu menunjuk jajanan berwarna merah muda, persis seperti yang dahulu kulakukan.

“Bu, beli itu, ya?”

Ibunya tertawa. “Boleh dong, Sayang.”

Aku memalingkan wajah. Ada air mata yang mendadak ingin jatuh. Aku pernah memiliki kebahagiaan serupa, dan baru memahami betapa berharganya setelah semuanya menjadi kenangan.

Aku melanjutkan langkah melewati kios sayur. Seorang bapak tua sedang membantu istrinya membawa belanjaan. Sesekali mereka saling menggoda, lalu tertawa kecil.

Aku teringat Ayah. Teringat Ibu. Teringat dua bungkus bubur yang dahulu selalu terasa lebih lezat karena kami menikmatinya bersama.

Ternyata romantisme tak selalu lahir dari makan malam mewah atau hadiah mahal. Kadang cinta tumbuh dari kesediaan menunggu di depan kios kain, membawakan keranjang belanja, atau menyisihkan seikat melati untuk orang tercinta.

Pasar tradisional masih bisa ditemukan hingga hari ini. Di tengah pusat perbelanjaan modern dan kemudahan berbelanja melalui telepon genggam, pasar tetap memiliki pesonanya sendiri.

Di sana, kita tidak hanya membeli kebutuhan, tetapi juga bertemu wajah-wajah yang bekerja dengan harapan, mendengar cerita, dan merasakan kehangatan yang tumbuh dari sapaan sederhana.

Aku ingin anak-anak zaman sekarang juga mengenal keindahan itu. Biarlah mereka sesekali menggandeng tangan orang tuanya menyusuri lorong pasar, memilih buah, mencicipi jajanan, dan mendengar canda para pedagang. Sebab kenangan masa kecil tidak selalu dibangun melalui perjalanan mahal. Sering kali, ia tumbuh dari pagi biasa yang dijalani bersama orang-orang tercinta.

Baca Juga :  Puluhan Paket Ganja Disita, Kapolres Pimpin Langsung PenangkapanTerduga Bandar

Menjelang keluar pasar, aku kembali menatap seikat melati di tanganku.

“Bu, hari ini aku membeli bunga kesukaanmu,” bisikku. “Pasarnya masih ramai. Jajanan yang dulu kusukai pun masih ada.”

Aku tersenyum getir.

“Hanya tangan Ibu yang tak lagi bisa kugenggam. Dan Ayah tak lagi menunggu kita di depan kios kain.”

Angin pagi menyentuh wajahku. Aku mendekap bunga itu lebih erat, lalu melangkah perlahan.

Andai Allah memberiku satu pagi lagi bersama mereka, aku tak akan meminta hadiah apa pun. Aku hanya ingin menjadi anak kecil itu kembali, berjalan di antara Ayah dan Ibu, mendengar tawa mereka, dan menggenggam tangan yang dahulu membuat seluruh dunia terasa aman.

Dan, pasar tradisional masih ada. Melati masih harum. Bubur hangat masih dijajakan. Bahkan suara tawar-menawar masih terdengar seperti puluhan tahun lalu.

Yang tak bisa kubeli kembali hanyalah satu pagi ketika Ayah dan Ibu masih berjalan di sampingku.❤️

Jakarta, 21 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *