Serial Kurenah Malanca: Tukang Kipeh jo Tukang Angek

Oleh: Teddy Chaniago*)

‎SUDAH sebulan ini, info yang diterima masyarakat badarai hanya itu ke itu saja. Tak ada yang benar-benar bisa membuat pikiran tenang, apalagi membuat perut kenyang.

ygc-1

Tapi sudahlah, apa benar pentingnya info itu. Karena belajar dari yang sudah-sudah, itu hanya pekerjaan dari tukang kipeh dan tukang angek saja.

‎Sebab tak mungkin tukang sate yang akan mengipas, karena mengipas daging sate yang tak tak seberapa besar saja, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.

‎Malanca bukan tak tau apa yang sedang terjadi, tapi menurutnya itu bukan urusannya jadi tak perlu ikut campur.

Baca Juga :  Warna-Warni Kehidupan

‎Namun sepandai-pandainya Malanca menahan diri, tapi saat ditawari teh talua tapai, lunak juga hatinya menerima gibah terkait hal yang sebenarnya tak penting untuk dibahas diceritakan itu.

‎Ya, begitulah Malanca. Meski imannya cukup kuat menerima godaan. Tapi saat ada kulek kulek didepannya rontok juga pertahanannya.

‎”Menurut ambo, masalah yang terjadi karena kita tak mau duduk bersama. Cobalah persoalan itu dibahas dengan kepala dingin, rasanya tak ada yang tak terselesaikan,” ucap Malanca bijak.

‎”Ini hanya main pungkang dan main bagak surang,” lanjutnya menambahkan analisanya.

‎Meski tak jelas benar pangkal masalahnya, namun Malanca percaya, selaku tukang kipeh dan tukang angek masih ada, akan begini juga masalah yang akan muncul. []

Baca Juga :  Temani Pulang

Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *