Jangan Cuma Hafal

Oleh : Nurul Jannah*)

Refleksi Hari Kesaktian Pancasila

Pagi ini, 1 Oktober.

Merah Putih naik perlahan.

Semua berdiri tegak.

Pancasila dibacakan.

Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.

Kita hafal. Saking hafalnya, kita nyaris lupa bertanya: setelah lima sila itu selesai diucapkan, ke mana nilai-nilainya kita bawa?


Beberapa jam kemudian, telepon genggam sudah kembali di tangan.

Sebuah berita lewat.
Sebuah video muncul.

Kita tidak tahu cerita lengkapnya, tetapi kolom komentar sudah penuh penghakiman.

Ada yang mencaci.
Ada yang menghina.
Ada yang merasa paling tahu.

Lalu jari ikut bergerak.

Share.

Komentar.

Menghakimi.

Padahal pagi tadi kita baru saja mengucapkan: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Betapa mudahnya menjadi hakim atas kehidupan yang tidak pernah kita jalani.

Kita lupa, di balik sebuah nama ada hati.

Ada ibu yang membaca hinaan tentang anaknya.

Ada anak yang melihat ayahnya dipermalukan.

Ada keluarga yang diam-diam ikut menanggung luka dari kalimat orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal.

Bagi kita, hanya satu komentar. Bagi orang lain, bisa menjadi luka yang dibawa pulang bertahun-tahun.


Sekarang pindah ke sebuah meja makan.

Ayah berbicara.

Ibu menjawab.

Anak berbeda pendapat.

Suara mulai meninggi.

Di ruang sekecil itu, Pancasila sedang diuji.

Apakah yang lebih tua selalu harus menang?

Apakah suara paling keras selalu paling benar?

Padahal pagi tadi kita berbicara tentang musyawarah.

Musyawarah bukan sekadar duduk bersama.

Ia adalah keberanian menurunkan ego agar orang lain tetap memiliki ruang untuk bicara.

Sebab keluarga tidak selalu membutuhkan orang yang paling pandai menjawab.

Kadang, yang paling dibutuhkan adalah hati yang bersedia mendengarkan.


Lalu ingatan melompat jauh ke belakang.

Sejarah.

Ada masa ketika negeri ini melewati hari-hari yang gelap.

Baca Juga :  30 September

Ada ketakutan.
Ada kehilangan.
Ada keluarga yang menunggu seseorang yang tak pernah kembali.

Sejarah tidak selalu tinggal dalam tanggal, nama, dan buku pelajaran. Ada sejarah yang menetap sebagai luka di dalam keluarga, lalu berjalan diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari ini kita mengenangnya.

Bukan untuk memelihara kebencian. Kita mengingat agar bangsa ini tidak kehilangan pelajaran. Hentikan kebencian pada generasi kita.

Sebab anak cucu kita berhak menerima Indonesia dengan lebih banyak harapan daripada luka.


Pancasila pun masuk ke kantor.

Tidak ada pembacaan lima sila. Hanya meja kerja, jabatan, tanda tangan, dan keputusan.

Justru di sinilah Pancasila menemukan ujian sesungguhnya.

Ketika mempunyai kuasa, apakah kita masih menghargai mereka yang tak memiliki jabatan?

Ketika ada kesempatan berbuat curang tanpa diketahui, apakah kita tetap memilih jujur?

Ketika sebuah keputusan menguntungkan diri sendiri tetapi merugikan banyak orang, siapa yang kita bela?

Pancasila ternyata tidak selalu hadir dalam perkara besar.

Kadang ia hanya berdiri di antara dua pilihan: jujur atau curang,

adil atau pilih kasih,

mendengarkan atau meremehkan,

melayani atau meninggikan diri karena jabatan.


Di sudut lain negeri ini, sebuah keluarga sedang menghitung uang belanja.

Di satu meja, makanan tersisa.

Di meja lain, seorang ibu mengurangi porsi makannya agar anaknya bisa kenyang.

Ada anak yang sibuk memilih sekolah terbaik.

Ada anak lain yang bertanya apakah bulan depan ia masih bisa sekolah.

Tiba-tiba sila kelima terdengar berbeda: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ia bukan sekadar kalimat terakhir dalam upacara.

Ia adalah pertanyaan yang mengetuk nurani.

Sudahkah kemajuan negeri ini sampai kepada mereka yang berdiri paling jauh dari pusat perhatian?

Baca Juga :  30 September

Sebab keadilan bukan hanya angka dalam laporan.

Keadilan punya wajah. Punya rumah.
Punya meja makan.
Punya anak-anak yang menyimpan cita-cita.
Dan punya air mata yang tak pernah masuk berita.


Kehidupan di jalan.

Lampu merah.

Klakson bersahutan.

Seseorang memotong jalan.

Emosi naik.

Bahkan Pancasila bisa diuji di persimpangan jalan.

Apakah aturan hanya berlaku ketika ada polisi?

Apakah kita tetap menghargai hak orang lain ketika sedang terburu-buru?

Nilai sebuah prinsip justru terlihat ketika tidak ada yang mengawasi.

Ketika kita memiliki kesempatan untuk melanggar, namun tetap memilih untuk tidak melakukannya.

Di kesempatan lain.

Telepon genggam kembali di tangan.

Ada perbedaan pendapat.

Ada keyakinan yang berbeda.

Ada pilihan hidup yang tak sama.

Ada cara pandang yang berseberangan.

Di sinilah Persatuan Indonesia kembali mengetuk pintu.

Persatuan tidak meminta semua kepala memikirkan hal yang sama.

Persatuan meminta kita tetap menjaga rasa hormat ketika perbedaan datang.

Kita boleh berbeda, boleh tidak sepakat, bahkan boleh berdebat. Tetapi kita tetap harus mampu dengan lembut menyampaikan; “Aku memang tidak setuju denganmu, tetapi aku tidak harus membencimu.”

Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak keberanian seperti itu. Keberanian untuk berbeda, tanpa kehilangan persaudaraan.


Setelah semua aktifitas usai ditunaikan.

Tidak ada seorang pun tahu apa yang akan kita lakukan.

Di titik itulah Ketuhanan Yang Maha Esa menemukan ruang yang paling pribadi.

Apakah keyakinan bahwa Allah mboten sare, cukup membuat kita tetap jujur ketika sendirian.

Tetap rendah hati ketika berhasil.

Tetap lembut ketika memiliki kuasa.

Dan tetap memilih benar ketika jalan untuk berbuat salah terbuka lebar.

Kembali ke lapangan pagi tadi.

Upacara sudah selesai. Bendera telah berkibar. Mikrofon sudah dimatikan.

Baca Juga :  30 September

Barisan pun sudah dibubarkan. Orang-orang pulang.

Namun, jangan biarkan Pancasila ikut selesai, ketika upacara usai.

Bawa ia ke meja makan, ke kantor, ke jalan raya, ke ruang rapat, ke media sosial, ke ruang ketika kita berbeda pendapat.

Bawa ke manapun ia bersamamu, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Sebab ukuran kecintaan kepada Pancasila bukan seberapa lantang kita mengucapkannya.

Melainkan bagaimana orang lain merasakan nilai-nilai luhur itu, setelah berhadapan dengan kita.

Apakah mereka merasa dihargai?

Didengarkan?

Diperlakukan adil?

Tetap dihormati meskipun berbeda?

Jika belum, pekerjaan kita belum selesai.


Besok kalender menunjukkan 2 Oktober.

Upacara hari ini akan menjadi foto.

Unggahan akan tenggelam.

Bendera kembali disimpan.

Jangan biarkan nilai-nilainya ikut disimpan.

Indonesia tidak kekurangan orang yang hafal Pancasila.

Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang membuat Pancasila terasa hidup.

Di rumah.

Di jalan.

Di tempat kerja.

Di media sosial.

Dan terutama di dalam diri.

Maka hari ini, jangan cuma hafal.

Hiduplah sedemikian rupa hingga orang lain tak perlu mendengar kita mengucapkan Pancasila untuk merasakan bahwa nilai-nilainya hidup dalam diri kita.

Sebab menjaga Indonesia tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Kadang cukup dengan tidak melukai ketika kita mampu membalas.

Tidak mengambil yang bukan haknya, ketika kesempatan terbuka.

Tetap jujur ketika tak seorang pun melihat.

Tetap adil ketika memiliki kuasa.

Dan tetap menghormati ketika kita berbeda.

Itulah Pancasila. Bukan lima sila yang selesai ketika dibacakan.

Tetapi lima nilai yang justru harus mulai hidup setelah upacara selesai. ❤️

Jakarta, 1 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *