Pulang ke Kotamu

Oleh: Nurul Jannah*)

Malioboro sedang gerimis ketika Laras melihat lelaki itu lagi.

Binar lampu toko pecah di trotoar basah. Laras berhenti di bawah kanopi toko batik. Payung masih terlipat di tangannya.

Di seberang jalan berdiri seorang lelaki berkemeja putih. Rambut di pelipisnya mulai beruban. Tubuhnya lebih kurus. Wajahnya menyimpan lelah yang tidak Laras kenali.

Namun satu kebiasaan tidak berubah. Tangan kiri masuk ke saku celana ketika gugup.

Dua belas tahun.

Kota bisa berubah. Tubuh bisa menua. Jalan yang dulu akrab bisa terasa asing. Tetapi hati memiliki ingatan yang keras kepala.

Anggara Abimanyu.

Lelaki yang dikenalnya ketika mereka sama-sama mahasiswa UGM. Lelaki yang pernah merancang masa depan bersamanya dari meja angkringan.

Dan lelaki yang dua belas tahun lalu membiarkannya menunggu sendirian di Stasiun Tugu.


“Laras?”

Ah, suara itu.

Dua belas tahun berlalu, tetapi suara itu masih mampu membuka pintu yang susah payah ia tutup.

Larasati berbalik. Hanya beberapa langkah memisahkan mereka.

“Masih ingat?”

Larasati Setyaningrum tersenyum tipis.

“Tentu saja.”

Anggara tertawa kecil. Tawa yang dulu membuat Laras jatuh cinta, kini menyentuh luka yang ia kira sudah sembuh.

“Kamu masih suka hujan di Malioboro?”

“Dulu.”

Anggara terdiam.

Dulu.

Satu kata. Tetapi cukup luas untuk menyimpan cinta, kehilangan dan rindu selama dua belas tahun.


Tiga Belas Tahun Sebelumnya

Tiga buku Laras jatuh di sebuah toko buku dekat kampus. Anggara membantu memungutnya.

Sepuluh menit kemudian mereka bertemu lagi di kasir.

Lalu di parkiran.

Sejam kemudian di halte.

Anggara tertawa.

“Kalau kita ketemu sekali lagi, kamu harus kasih nomor telepon.”

“Percaya diri sekali.”

“Tiga kali dalam sejam. Secara statistik mencurigakan.”

“Kamu anak statistik?”

“Teknik.”

“Pantas garing.”

Mereka tertawa.

Saat itu Larasati mahasiswa tingkat akhir UGM. Anggara setahun lebih tua. Larasati kos dekat kampus meskipun orang tuanya tinggal di Yogyakarta. Anggara anak rantau.

Cinta mereka tumbuh dari hal-hal kecil.

Perpustakaan. Kantin. Tugas akhir. Angkringan. Dan Malioboro.


Suatu malam mereka duduk di bangku trotoar.

“Kalau nanti kita tua, kita ke sini lagi, ya,” kata Anggara.

“Ngapain?”

“Duduk.”

“Cuma duduk?”

“Biar aku bisa lihat wajahmu keriput.”

Laras memukul lengannya.

“Dan, kamu juga boleh lihat aku ubanan.”

Laras ikut tertawa.

Ia tidak tahu, bertahun-tahun kemudian doa kecil itu terkabul dengan cara yang begitu menyakitkan.

Mereka memang bertemu lagi. Anggara sudah beruban. Hanya saja, mereka tidak pernah sempat menua bersama.


Setahun Kemudian

Mereka lulus.

Anggara diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan teknik di Jakarta.

Sebulan kemudian, Laras diterima di sebuah lembaga riset di kota yang sama.

Anggara menelepon malam itu.

“Laras!”

“Apa?”

“Kita satu kota!”

Larasati tertawa.

“Belum tentu aku ambil.”

“Lho?”

“Gajinya kecil.”

“Gajiku juga.”

“Terus kita makan apa?”

“Nasi kucing.”

“Di Jakarta?”

“Kita bawa angkringannya dari Jogja.”

Larasati tertawa sampai perutnya sakit.

Malam itu, dua anak muda mulai menyusun hidup, seolah masa depan bisa ditulis serapi daftar belanja.

Anggara akan tinggal di kos dekat kantornya. Larasati sementara tinggal bersama tantenya di Depok.

Mereka akan bekerja.

Menabung. Lalu menikah tahun berikutnya.

Di buku cokelat milik Larasati, Anggara menulis:

Target: satu tahun lagi menikah.

Di bawahnya:

Pulang ke Jogja setiap ulang tahun pernikahan.

Larasati menambahkan:

Kalau punya uang.

Anggara mencoretnya.

Kalau nggak punya uang, tetap pulang. Naik kereta ekonomi.

Mereka tertawa.

Saat itu mereka mengira yang paling sulit dalam hidup hanyalah mencari pekerjaan, mengumpulkan uang lalu menikah.

Mereka belum tahu bahwa hidup kadang runtuh justru ketika kita merasa telah merencanakan semuanya.


Beberapa bulan sebelum keberangkatan mereka ke Jakarta, ayah Anggara meninggal.

Larasati datang melayat.

Menjelang magrib, ia menemukan Angga duduk sendirian di belakang rumah.

Laras menghampiri, lalu duduk di sebelahnya.

“Aku takut, Laras.”

“Takut apa?”

“Nggak tahu.”

Laras menggenggam tangannya.

“Aku di sini.”

Angga memejamkan mata.

Saat itu Laras percaya, selama mereka tetap bersama, tidak ada kesedihan yang terlalu berat untuk dilewati.

Ia tidak tahu bahwa setelah pemakaman, keluarga Anggara menemukan utang usaha yang besar. Rumah mereka menjadi jaminan. Ibunya kemudian jatuh sakit. Adiknya masih kuliah.

Dan Anggara menyimpan semuanya sendirian.

**

Malioboro, Malam Ini

“Mau jalan sebentar?” tanya Angga.

Laras seharusnya menolak.

Namun dua belas tahun terlalu panjang untuk hidup bersama satu pertanyaan tanpa jawaban.

“Bagaimana kamu tahu aku di Jogja?”

“Bagas.”

Sahabat mereka semasa kuliah.

“Dia bilang kamu pulang dari Jakarta. Ada reuni kecil anak-anak UGM.”

Baca Juga :  Kodim 0310/SS Gelar Aksi Sosial Salurkan Air Bersih di Tanjung Ampalu

“Jadi kamu sengaja datang dari Bandung?”

“Iya.”

“Hanya untuk menemuiku?”

Anggara memandang jalan di depan mereka.

“Aku ingin melihatmu sekali lagi.”

Larasati menoleh.

Ada nada ganjil dalam kalimat itu, tetapi ia memilih tidak bertanya.

Mereka berhenti di sebuah angkringan.

Angga memesan dua teh.

Satu manis. Satu tanpa gula.

“Tehmu selalu tanpa gula.”

“Dua belas tahun. Ternyata kamu masih ingat”

Anggara tersenyum.

“Ada hal-hal yang rupanya tidak ikut tua.”

Larasati memalingkan wajah.

“Setelah Ayah meninggal, semuanya berubah,” kata Angga.

“Aku tahu.”

“Tidak semuanya.”

Lalu keluarlah cerita yang selama dua belas tahun tidak pernah Laras dengar. Utang ayahnya. Rumah yang menjadi jaminan. Ibunya yang sakit. Adiknya yang masih membutuhkan biaya.

Laras terdiam.

“Kenapa kamu nggak cerita?”

“Karena aku tahu kamu.”

“Maksudnya?”

“Kamu akan tetap berangkat ke Jakarta bersamaku.”

“Tentu.”

“Kamu akan pakai tabunganmu buat bantu Ibu.”

“Kenapa tidak?.”

“Kamu akan bantu adikku.”

“Kalau aku mampu.”

Anggara tersenyum getir.

“Nah.”

“Nah apa?”

“Itulah yang aku takutkan.”

Larasati menatapnya tak percaya.

“Aku takut cintamu kepadaku membuatmu mengorbankan hidupmu.”

“Lalu kamu pikir meninggalkanku adalah cara menyelamatkanku?”

Anggara menunduk.

“Waktu itu, aku pikir begitu.”

Air mata Laras jatuh

“Kamu salah Angga.”

Suaranya bergetar.

“Mencintaiku seharusnya berarti membiarkan aku memilih. Bukan memilihkan hidup untukku.”

Anggara diam.

“Aku menunggumu di Stasiun Tugu.”

“Aku tahu.”

“Aku menunggu sampai keretanya pergi.”

Anggara menelan ludah.

“Aku tahu.”

Larasati tertawa getir di antara air mata.

“Aku bahkan pernah berharap kamu sudah mati.”

Anggara menatapnya.

“Karena kematian terasa lebih mudah daripada kenyataan bahwa kamu sengaja meninggalkanku.”

Hening.

Lalu Anggara tersenyum tipis.

“Kalau suatu hari itu benar-benar terjadi, jangan marah lagi sama aku, ya.”

Laras mengernyit.

“Jangan ngomong begitu.”

“Masih suka marah?”

“Karena kamu masih menyebalkan.”

“Syukurlah.”

“Kenapa?”

Anggara menatapnya.

“Berarti masih ada sedikit Anggara yang hidup dalam ingatanmu.”


Hari Keberangkatan. 17.10

Hari itu seharusnya menjadi awal kehidupan baru.

Senin berikutnya Anggara mulai bekerja di Jakarta.

Laras mulai bekerja dua hari kemudian. Mereka membeli tiket kereta yang sama.

Angga akan turun di Gambir lalu menuju kosnya. Laras akan dijemput tantenya dan tinggal sementara di Depok.

Sebelum ke stasiun Tugu, Angga mampir ke rumah orang tua Larasati untuk berpamitan.

Ayah Laras menemuinya di teras.

“Duduk sebentar.”

Awalnya mereka bicara tentang pekerjaan.

Kemudian ayah Laras bertanya,

“Masalah keluargamu sudah selesai?”

Anggara terdiam.

“Masalah apa?”

“Utang peninggalan ayahmu.”

Wajah Angga berubah.

“Bapak tahu?”

“Laras tahu?”

Anggara menggeleng.

“Kenapa?”

“Saya tidak ingin membebaninya.”

Ayah Laras menatapnya.

“Lalu kamu mau menikahinya tanpa memberitahunya?”

“Saya akan menyelesaikannya.”

“Bagaimana?”

Anggara diam.

“Kalau Laras tahu semuanya malam ini, apa yang akan dia lakukan?”

Anggara tahu jawabannya. Laras akan tetap ikut.

“Justru karena saya tahu anak saya akan memilihmu,” kata ayah Laras, “saya takut dia kehilangan dirinya sendiri untuk menyelamatkan keluargamu.”

Anggara melihat jam.

17.18.

“Apa yang Bapak minta?”

“Jangan bawa dia ke Jakarta malam ini.”

“Bapak meminta saya meninggalkan Larasati?”

“Saya meminta kalian menunda pernikahan.”

“Dia akan menunggu.”

“Kalau begitu temui dia. Ceritakan semuanya. Biarkan Larasati memilih.”

Anggara berdiri.

Seharusnya ia melakukan itu.

Pergi ke Stasiun Tugu. Menemui Larasati. Menceritakan semuanya.

Kadang, seseorang memilih pergi karena ingin melindungi orang yang dicintainya. Namun, tanpa disadari, kepergiannya justru meninggalkan luka paling dalam.

Anggara keluar pukul 17.26. Sebuah taksi berhenti.

“Stasiun Tugu, Mas?”

Anggara membuka pintu. Di kepalanya terdengar suara Larasati.

Aku tetap ikut.

Lalu wajah ibunya. Utang. Rumah. Adiknya.

Anggara menutup kembali pintu taksi.

“Maaf, Pak. Nggak jadi.”

Taksi pergi.

Jam menunjukkan 17.28.

Pada menit itulah, impian masa depan yang mereka tulis, runtuh. Bukan karena cinta mereka kalah. Keberanian Anggaralah yang kalah.


18.20 . Stasiun Tugu

Kereta menuju Jakarta bergerak. Laras tidak naik.

Di dalam tasnya ada buku cokelat.

Menabung.

Menikah tahun depan.

Pulang ke Jogja setiap ulang tahun pernikahan.

Setengah jam berlalu. Anggara tidak datang. Satu jam. Tetap tidak ada.

Seorang petugas mendekat.

“Mbak, sudah malam.”

Larasati berdiri. Membawa koper yang sama. Membawa buku yang sama.

Hanya masa depannya yang tidak lagi sama.

Ia pulang ke rumah tanpa pernah tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, Anggara berdiri di teras yang sama .

Lelaki yang ditunggunya sebenarnya tidak jauh.

Hanya beberapa kilometer.

Tetapi malam itu, beberapa kilometer menjadi jarak yang membutuhkan dua belas tahun untuk ditempuh.

Baca Juga :  81 Tahun Sumatera Barat: Dashboard Pembangunan, Inovasi Pemerintahan Modern

Dua hari kemudian Laras tetap berangkat ke Jakarta.

Sendirian. Ia bekerja. Membangun karier.
Belajar hidup tanpa Anggara.

Jogja menjadu kota kenangan. Jakarta menjadi tempat ia belajar bertahan.

Dan di antara dua kota itu, rindu bolak balik tanpa pernah menemukan alamat pulang.

Larasati tidak pernah lagi menunggu Anggara.

Setidaknya begitulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.


Malam Setelahnya

Anggara menulis surat.

Laras, Aku datang kemarin. Aku bahkan hampir menuju stasiun. Aku tidak datang bukan karena berhenti mencintaimu. Aku tidak datang karena takut kamu akan memilihku. Dan sekarang aku sadar, mungkin itulah kesalahan terbesarku.

Beberapa hari kemudian ia membawa surat itu ke rumah Larasati.

Laras sudah berada di Jakarta.

Ayah Laras menerima amplop tersebut.

“Tolong berikan kepada Larasati, Pak.”

“Kenapa tidak kirim sendiri?”

Anggara memandang rumah itu.

“Karena kalau saya mendengar suaranya, saya takut tidak akan sanggup pergi lagi.”

Ayah Laras memahami itu.

“Saya akan berikan.”

Namun surat itu tidak pernah sampai.

**

Malioboro, Malam Ini

“Aku menikah, Laras.”

“Kapan?”

“Tujuh tahun lalu.”

“Anak?”

“Perempuan. Enam tahun.”

“Namanya?”

“Larasati Kirana Abimanyu.”

Larasati menatapnya.

“Kamu gila.”

“Istriku yang memilih nama itu.”

“Dia tahu tentang aku?”

“Tahu.”

“Perempuan hebat.”

Anggara mengiyakan.

“Sangat.”

“Jaga dia.”

“Selalu.”

Larasati pernah membayangkan kabar pernikahan Anggara akan menghancurkannya.

Ternyata tidak.

Ada memang sedikit nyeri.

Tetapi juga lega.

Lelaki yang pernah gagal pulang kepadanya, ternyata telah menemukan rumah.

Dan Larasati memahami cinta yang dewasa tidak meminta untuk dimiliki kembali. Kadang ia hanya mampu berkata: berbahagialah, meski bahagiamu bukan lagi bersamaku.


22.31. Stasiun Tugu

“Kereta berangkat jam berapa?”

“22.40.”

“Ke Bandung?”

“Jakarta.”

“Kerja?”

Anggara tersenyum.

“Kurang lebih.”

Ia mengeluarkan amplop tua.

Untuk Larasati.

Laras mengenali tulisan itu.

“Ini…”

“Surat dua belas tahun lalu.”

Beberapa bulan sebelumnya, ibu Larasati membereskan dokumen lama peninggalan suaminya, Bagas membantu memilah kotak-kotak.

Surat itu ditemukan. Bagas menghubungi Anggara.

Anggara meminta surat tersebut dikembalikan kepadanya.

“Kenapa tidak langsung diberikan kepadaku?”

“Aku ingin memberikannya sendiri.”

“Kenapa sekarang?”

Anggara menatap Laras. Cukup lama. Seolah sedang menghafal wajahnya.

“Karena tidak semua orang punya waktu sebanyak yang mereka kira.”

“Apa maksudmu?”

Pengumuman keberangkatan terdengar.

“Baca setelah aku pergi.”

“Anggara…”

Anggara menatap wajah Laras.

“Laras.”

“Hm?”

“Pernah bahagia sama aku?”

Mata Laras memanas.

“Pernah.”

“Banyak?”

Laras menahan tangis.

“Banyak. Mungkin itu sebabnya, sakitnya juga lama.”

Anggara tertawa pelan.

Matanya basah.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Pernah mencintaiku.”

“Kenapa ngomongnya seperti mau pergi jauh?”

Anggara tersenyum.

“Memangnya dua belas tahun belum cukup jauh?”

Ia berbalik.

Larasati ingin sekali memanggilnya. Ingin memeluknya.

Namun ia tetap berdiri. Ada cinta yang dahulu begitu dekat, tetapi setelah bertahun-tahun hanya berani saling memandang dari beberapa langkah.

Anggara masuk ke stasiun.

Dan Larasati tidak tahu, punggung yang menjauh malam itu adalah punggung yang terakhir kali dilihatnya.


23.17. Malioboro

Laras membaca surat itu.

Laras, Aku datang hari itu. Aku datang ke rumahmu sebelum ke stasiun. Aku seharusnya tetap menemuimu. Aku seharusnya menceritakan semuanya dan membiarkanmu memilih. Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, jangan pernah berpikir aku meninggalkanmu karena aku tidak mencintaimu.

Di bagian paling bawah tertulis:

Yang kurang hari itu bukan cintaku, Laras. Yang kurang adalah keberanianku.

Larasati menangis.

Dua belas tahun lalu. Ia menunggu di Stasiun Tugu.

Anggara berada di rumahnya. Hanya beberapa kilometer.

Ternyata, jarak terjauh bukanlah antara Jogja dan Jakarta, melainkan antara dua hati yang saling mencintai, tetapi terpisah oleh kebenaran yang tak pernah sampai.

Larasati menelepon. Baru panggilan ketiga, telepon diangkat.

“Laras?”

“Kenapa kamu nggak datang ke stasiun?”

“Aku takut.”

“Aku menunggumu.”

“Aku tahu.”

“Dua belas tahun.”

“Aku tahu.”

“Kalau hari itu kamu datang, aku pasti ikut.”

Hening panjang. Kemudian suara Anggara pecah.

“Itulah yang paling aku takutkan.”

“Bodoh.”

“Iya.”

“Anggara bodoh.”

“Iya.”

Larasati tertawa di antara tangis.

“Kenapa kita begini?”

Anggara menarik napas. “Karena waktu itu kita tahu bagaimana saling mencintai, tetapi belum tahu bagaimana cara memperjuangkannya.”

“Angga…”

“Iya?”

“Kalau suatu hari ada kehidupan lain, datang ke stasiun ya.”

Anggara tertawa kecil. Lalu menjawab,

“Aku akan datang lebih awal.”

Sambungan berakhir.

Mereka tidak tahu, itulah percakapan terakhir mereka.


Beberapa menit kemudian nomor asing menelepon.

“Mbak Laras?”

“Iya.”

“Saya Mira.”

Istri Anggara.

“Angga menitipkan nomor Mbak sebelum berangkat ke Jogja.”

“Kenapa?”

Baca Juga :  Kodim 0310/SS Gelar Aksi Sosial Salurkan Air Bersih di Tanjung Ampalu

“Dia bilang, kalau aku tidak sempat menjelaskan semuanya, jangan biarkan Laras sekali lagi hidup dengan pertanyaan.”

Dada Laras mendadak dingin.

“Maksudnya?”

“Anggara sakit.”

Hening.

“Leukemia. Hampir dua tahun.”

Laras menutup mulut. Tubuh kurus. Tatapan panjang.

Tidak semua orang punya waktu sebanyak yang mereka kira.

Terima kasih pernah mencintaiku.

Semua kalimat Anggara malam itu mendadak menemukan makna.

“Arah kereta ke Jakarta?”

“Besok pagi dia masuk rumah sakit.”

Mira menangis.

“Dokter masih akan mencoba pengobatan terakhir sebelum transplantasi.”

Larasati memejamkan mata.

Kini ia mengerti. Anggara tidak pulang ke Jogja untuk meminta masa lalu kembali. Ia pulang karena takut kematian datang lebih dahulu sebelum kebenaran sempat sampai.


“Mira…”

“Iya?”

“Kenapa putri kalian bernama Larasati?”

“Larasati anak angkat kami. Saya yang memilih namanya.”

“Kenapa?”

“Karena Anggara pernah bercerita tentang Mbak.”

Larasati terdiam.

“Saya pernah cemburu,” lanjut Mira. “Sampai akhirnya saya mengerti bahwa mencintai orang dewasa berarti menerima bahwa hidupnya tidak dimulai ketika kita datang.”

Mira menahan napas.

“Saya tidak menikahi Anggara untuk menghapus Mbak dari masa lalunya. Saya menikahinya untuk menemani kehidupan yang akhirnya menjadi milik kami.”

Malam itu dua perempuan yang mencintai lelaki yang sama, tidak menjadi lawan.

Yang satu adalah cinta yang tidak sempat menjadi rumah. Yang lain adalah rumah tempat Anggara akhirnya pulang.*


Tiga Hari Kemudian

Pukul 04.26. Pesan Mira masuk.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mbak Laras, Anggara pergi pukul 04.17. Sebelum kondisinya memburuk, ia sempat berkata: “Sekarang Laras sudah tahu aku datang hari itu.”

Larasati membaca pesan itu berkali-kali.

Laras mengambil buku cokelat tua.

Di halaman terakhir masih ada tulisan Angga.

Pulang ke Jogja setiap ulang tahun pernikahan.

Ia buru-buru mengambil pena. “Kalau ada kehidupan lain, aku akan menunggumu di stasiun. Datanglah lebih awal.”

Barulah Larasati menangis.

Bukan hanya karena Anggara telah pergi.

Ia menangisi kehidupan yang tidak pernah mereka jalani. Kontrakan yang tidak pernah mereka sewa. Pernikahan yang tidak pernah terjadi. Pertengkaran kecil yang tidak pernah mereka alami. Rambut putih yang tidak pernah mereka lihat tumbuh bersama.

Dan, perjalanan pulang ke Jogja setiap ulang tahun pernikahan yang selamanya hanya tinggal tulisan di dalam buku cokelat.

**

Setahun Kemudian

Pada tanggal yang dahulu mereka rencanakan sebagai hari pernikahan, Larasati kembali ke Yogyakarta.

Ia menjenguk ibunya.

Menjelang malam, ia berjalan sendiri ke Malioboro.

Dua teh dipesannya. Satu tanpa gula. Satu manis.

“Yang satu untuk siapa, Mbak?”

Laras tersenyum. “Untuk orang yang pernah pulang ke kotaku.”

Ia duduk di bangku yang sama.

“Anggara…”

Angin malam bergerak lembut.

“Ternyata cinta tidak selalu berakhir karena pengkhianatan”.

Air matanya jatuh.

“Kadang dua orang tetap saling mencintai, tetapi hidup membawa mereka pulang menuju rumah yang berbeda.”

Larasati memandang kursi kosong.

“Dan mencintaimu sekarang dengan benar berarti menghormati rumah yang telah kamu bangun bersama Mira.”

Ia mengusap air mata.

“Terima kasih sudah pulang…”

Dari kejauhan, terdengar suara kereta.

Dua belas tahun lalu Larasati menunggu Anggara datang.

Setahun lalu Anggara pulang ke Yogyakarta untuk menjelaskan sebuah kebenaran.

Malam ini, Larasati tidak lagi menunggu siapa-siapa.

Ia berdiri.

“Anggara…”

“Kalau memang ada kehidupan setelah ini…”

Suaranya bergetar.

“…datanglah tepat waktu.”

Ia tersenyum di antara air mata.

“Aku akan menunggumu.”


Anggara Abimanyu benar-benar menepati janjinya.

Ia pulang ke Yogyakarta.

Ke kota tempat cinta mereka bermula.

Ke kota tempat Laras pernah menunggunya.

Ia pulang ke kotamu, Laras.

Dua belas tahun lalu, Larasati menunggu, dan Anggara tidak datang.

Dua belas tahun kemudian, Anggara datang, ketika waktu tinggal telah habis.

Ia tidak pulang untuk meminta Larasati kembali.

Ia hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Sekaligus untuk menyampaikan satu kebenaran yang tertunda selama dua belas tahun. Bahwa Laras tidak pernah ditinggalkan. Angga tidak pernah berhenti mencintainya.

Dan barangkali, itulah cinta terakhir yang masih bisa Anggara berikan, mengembalikan kebenaran, mengakhiri salah paham, dan membebaskan Laras dari pertanyaan yang telah dibawanya selama dua belas tahun.

Larasati berdiri.

Lalu ia berjalan lurus tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, segelas teh manis perlahan kehilangan uap.

Yogyakarta tetap menyala.

Malioboro tetap ramai.

Kereta tetap datang dan pergi.

Jakarta, 28 September 2026❤️

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *