Back to Nature

Oleh : Nurul Jannah*)

Ketika Mencintai Bumi Terasa Mahal

Sejak kapan mencintai bumi harus dibayar mahal?

Di rak supermarket, produk berlabel ramah lingkungan tampil menggoda. Deterjen mudah terurai, sabun berbahan alami, pakaian berkelanjutan, hingga perlengkapan rumah tangga berlabel hijau berjajar menawarkan harapan. Namun, ketika melihat harganya, banyak tangan yang semula terulur perlahan menarik diri.

Betapa ironis! Ketika bumi membutuhkan kepedulian semua kalangan, pilihan yang disebut lebih ramah lingkungan justru kerap terasa seperti barang mewah.

Lantas, apakah menjaga bumi hanya menjadi hak mereka yang berpenghasilan lebih? Bagaimana dengan seorang ibu yang harus membagi uang belanja untuk makan, sekolah anak, listrik, dan kebutuhan keluarga? Haruskah cinta kepada bumi menunggu sampai dapur tak lagi mencemaskan hari esok?

Tentu tidak. Sebab, bumi bukan milik orang kaya, dan kepedulian terhadapnya tidak boleh diukur dari tebalnya dompet.

Back to nature, atau kembali ke alam, bukan berarti meninggalkan teknologi dan kembali hidup seperti masa lalu. Maknanya adalah mengembalikan kebijaksanaan dalam cara kita memperlakukan alam. Mengambil secukupnya, menggunakan dengan bertanggung jawab, dan memberi kesempatan kepada bumi untuk memulihkan diri. Teknologi tetap diperlukan, sepanjang membantu mengurangi kerusakan dan penggunaan sumber daya.

Persoalannya, gaya hidup hijau kini kerap diidentikkan dengan produk premium. Sebagian memang memerlukan bahan baku, pengujian, sertifikasi, atau proses produksi yang lebih mahal. Namun, harga tinggi bukan jaminan ramah lingkungan, sebagaimana harga murah bukan bukti bahwa sebuah produk pasti merusak alam.

Kinerja lingkungan perlu dilihat dari bahan baku, proses produksi, penggunaan, hingga pengelolaan setelah produk tidak terpakai. Jangan sampai kita membeli citra hijau dengan harga mahal, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan yang menguras bumi.

Langkah pertama adalah berhenti membeli yang tidak diperlukan.

Lihatlah kehidupan sehari-hari.

Seorang ibu menggunakan deterjen sesuai takaran, mencuci pakaian dengan muatan mesin yang cukup, dan memperbaiki keran bocor. Ia tidak membeli produk premium, tetapi sedang menghemat air, energi, dan bahan pembersih. Di tangannya, kepedulian lingkungan hadir bersama perjuangan menjaga pengeluaran keluarga.

Baca Juga :  Miko Kamal: Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal Harus Diusut Tuntas, Hukum Makar Layak Dipertimbangkan

Seorang pedagang menggunakan kembali wadah yang masih layak, mengurangi kantong plastik, dan memilah sampah dagangannya. Tidak ada penghargaan di dinding warungnya. Namun, setiap hari ia melakukan tindakan yang sering kali lebih bermakna daripada slogan hijau yang hanya terpampang di spanduk.

Seorang mahasiswa tetap menggunakan botol minum lamanya, memperbaiki perangkat elektronik, mencetak tugas seperlunya, dan menghabiskan makanan. Ia tidak sibuk mengikuti tren perlengkapan ramah lingkungan. Ia memahami bahwa barang yang paling hemat sumber daya sering kali adalah barang yang tidak perlu dibeli lagi.

Bukankah ketiganya sedang mencintai bumi?

Mereka tidak sedang membeli kepedulian. Mereka sedang menjalaninya.

Lalu, dari mana kita memulai?

Pertama, habiskan yang masih ada. Gunakan pakaian, tas, botol minum, dan peralatan rumah tangga selama masih layak. Jangan membuang barang yang masih berfungsi hanya untuk menggantinya dengan produk berlabel hijau. Mengurangi pembelian baru sering lebih bermakna daripada mengganti seluruh isi rumah demi terlihat ramah lingkungan.

Kedua, gunakan secukupnya. Deterjen berlebihan tidak menjamin pakaian lebih bersih. Gunakan sesuai petunjuk, hemat air dan listrik, serta perbaiki kebocoran. Bumi tidak membutuhkan busa yang melimpah, tetapi kebiasaan yang lebih bijaksana.

Ketiga, jangan sia-siakan makanan. Ambil sesuai kebutuhan, simpan dengan benar, dan manfaatkan bahan pangan sebelum rusak. Sisa organik yang sesuai dapat diolah menjadi kompos.

Betapa pilu membayangkan kerja keras petani, air, tanah, dan energi berakhir membusuk di tempat sampah hanya karena kita mengambil lebih dari yang mampu dihabiskan.

Keempat, kurangi barang sekali pakai. Bawa tas belanja yang sudah dimiliki, gunakan wadah berulang kali, dan hindari kemasan yang tidak diperlukan. Tidak harus sempurna sejak hari pertama. Satu kebiasaan baik yang bertahan jauh lebih berarti daripada seratus janji yang terlupakan.

Kelima, rawat lingkungan terdekat. Jangan membuang sampah ke sungai, bersihkan saluran air, rawat tanaman, dan ajak tetangga mengelola sampah. Sungai yang bersih tidak hanya lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dari tangan-tangan yang berhenti menjadikannya tempat pembuangan.

Baca Juga :  Pengalaman Imigran: Harmonisasi Identitas Budaya dalam “The Arrival” karya Shaun Tan

Bagaimana dengan sabun dan deterjen ramah lingkungan?

Pilihlah produk dengan informasi komposisi dan klaim lingkungan yang jelas. Ekolabel yang kredibel dapat menjadi pertimbangan apabila tersedia dan terjangkau. Namun, jangan terkecoh oleh kata alami, karena bahan yang berasal dari alam pun dapat menimbulkan dampak lingkungan apabila digunakan atau dibuang secara tidak tepat.

Air bekas cucian juga tidak otomatis aman untuk tanaman atau tanah. Kandungan surfaktan, garam, pewangi, dan bahan lainnya tetap perlu diperhatikan.

Ramah lingkungan harus dibuktikan melalui dampaknya, bukan hanya dipercantik melalui kemasannya.

Di sisi lain, tanggung jawab menjaga bumi tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada konsumen. Produsen harus menghadirkan produk yang lebih rendah dampak lingkungannya, efektif, dan terjangkau. Pemerintah perlu memperkuat standar, pengawasan klaim lingkungan, edukasi, serta kebijakan yang mendorong produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Jangan meminta keluarga berpenghasilan terbatas menyelamatkan bumi dengan membeli produk mahal, sementara pencemaran berskala besar dibiarkan terus berlangsung.

Sekolah dan kampus juga perlu menghadirkan pembelajaran yang membumi. Mahasiswa dapat menghitung penghematan air, membandingkan penggunaan deterjen sesuai dosis, atau mengukur pengurangan sampah makanan di kantin. Dengan begitu, kepedulian lingkungan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi pengetahuan yang melahirkan tindakan nyata.

Ada satu hal yang sering luput kita renungkan.

Bayangkan seorang ibu berdiri lama di depan rak supermarket. Di tangannya ada deterjen berlabel hijau yang harganya hampir dua kali lipat produk biasa. Ia ingin memilih yang lebih baik bagi bumi, tetapi teringat uang sekolah anaknya yang belum dibayar.

Perlahan, ia mengembalikan deterjen itu ke rak.

Apakah ia kurang mencintai bumi? Tidak! Ia sedang berjuang menjaga kehidupan keluarganya, dan perjuangan itu pun layak dihormati.

Baca Juga :  Wamen ATR/BPN Titip Pesan kepada Irjen Baru: Perkuat Pengawasan, Cegah Penyimpangan Sejak Dini

Barangkali di rumah, ibu yang sama telah bertahun-tahun menggunakan barang hingga habis, memperbaiki pakaian yang robek, menyimpan makanan dengan cermat, dan tidak membuang apa pun yang masih berguna. Ia tidak menyebut dirinya pejuang lingkungan. Namun, dalam kesederhanaannya, ia telah mempraktikkan kebijaksanaan yang justru sedang kita cari melalui berbagai kampanye keberlanjutan.

Back to nature bukan perlombaan siapa yang paling banyak memiliki produk hijau. Ini adalah keberanian mengubah cara hidup, dari kebiasaan menghabiskan menjadi kebiasaan menghargai, dari membeli tanpa berpikir menjadi menggunakan dengan penuh kesadaran.

Sungai yang bersih bukan milik orang kaya. Udara yang sehat bukan hak istimewa mereka yang mampu. Dan bumi yang lestari tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati sebagian keluarga.

Kita tidak harus memulai dari hal mahal. Mulailah dari barang yang masih bisa digunakan, air yang bisa dihemat, makanan yang tidak perlu terbuang, dan sampah yang tidak lagi kita lemparkan ke sungai.

Jangan sampai kita sibuk mencari produk paling hijau, tetapi lupa memperbaiki cara hidup yang terus melukai bumi.

Mencintai alam adalah seberapa sungguh-sungguh kita menjaga apa yang telah dipercayakan kepada kita.

Bumi hanya meminta satu hal: berhentilah memperlakukannya seolah ia memiliki segalanya untuk diberikan, sementara kita tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menjaganya.❤️

Jakarta, 4 November 2026

Nurul Jannah adalah dosen Sekolah Vokasi IPB University, pemerhati lingkungan, penulis, dan auditor lingkungan hidup. Menyelesaikan pendidikan doktoral di Hiroshima University, Jepang, ia memiliki keahlian dalam audit lingkungan, Life Cycle Assessment (LCA), Program Peringkat Kinerja Lingkungan (PROPER), Corporate Sosial Responsibility (CSR) dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *