Oleh : Nurul Jannah*)
Mengapa Bencana Itu Harus Terjadi, dan Bagaimana Kita Menjawabnya
Ketika negeri ini seperti kehilangan napas, Sumatera, pulau yang selama ini kita banggakan karena hutan yang permai dan sungai yang jinak, mendadak berubah menjadi ruang duka yang mengambang. Hujan yang tak kunjung jeda mengguncang perbukitan, merobek tanah, dan menyeret gelondongan kayu yang seharusnya menjadi penjaga bumi.
Dalam sekejap, air bah menelan rumah-rumah, menutup jalan, meruntuhkan jembatan, dan menghanyutkan kenangan yang belum sempat diselamatkan.
Tragedi ini bukan hanya pertemuan antara air dan tanah semata. Ia adalah pertemuan antara kelalaian manusia dan kesabaran alam yang akhirnya habis.
Sumatera tidak hanya dilanda banjir bandang; ia sedang memanggil kita, dengan suara yang tidak terdengar telinga, tetapi menyentuh ulu hati, agar berhenti, menatap diri, dan bertanya: Apa yang telah kita lakukan pada tanah yang selama ini memberi kita hidup?
Banjir besar ini adalah cermin. Dan cermin tidak pernah berbohong.
Apa yang Sesungguhnya Terjadi?
Tiga provinsi di ujung Sumatera, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kewalahan menghadapi hujan berhari-hari yang meluluhlantakkan tanah. Bukit runtuh, sungai meluap, dan gelondongan kayu hanyut dalam jumlah yang tidak wajar. Setiap meter arah arus memperlihatkan luka yang tidak bisa disembunyikan: rumah ambruk, jalan terputus, usaha warga hilang tenggelam.
Ini bukan bencana biasa. Ini adalah akumulasi dari banyak luka ekologis yang dibiarkan terlalu lama terbuka.
Mengapa Bencana Ini Harus Terjadi?
Jawaban paling sederhana adalah curah hujan. Jawaban sebenarnya adalah lebih dari itu.
Bencana terjadi antara lain karena:
- Hutan yang menyusut lebih cepat daripada yang dipulihkan.
- Sungai yang kehilangan ruang untuk bernapas.
- Daerah tangkapan air yang berubah fungsi.
- Bukit yang perlahan kehilangan akarnya.
- Pengawasan yang tidak secepat kerusakan di lapangan.
- Kebiasaan manusia yang masih memandang alam sebagai tempat yang tak akan pernah marah.
Banjir adalah salah satu contoh bahasa alam. Dan bahasa itu, kini sedang berkata: “Aku tidak baik-baik saja.”
Maka, sekeras apa pun pesan alam, menyalahkan siapa pun kita hari ini, tidak akan mengembalikan nyawa, tidak akan mengeringkan air mata, dan tidak akan mengubah fakta bahwa negeri ini sedang berduka. Tentu saja, yang kita butuhkan saat ini adalah keberanian untuk mengakui, bukan sekadar menunjuk.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kita sering tergoda untuk menunjuk pihak tertentu. Tetapi kebenaran yang paling pahit adalah: Semua kita memegang potongan tanggung jawab itu.
Pemerintah, dengan kewenangannya mengatur dan mengawasi. Dunia usaha, dengan tanggung jawab menjaga keberlanjutan lokasi usaha. Masyarakat, dengan perilaku harian yang sering tak menyadari dampaknya. Akademisi, media, dan seluruh pemangku kepentingan.
Bukan berarti semua sama salah, tetapi setiap pihak punya andil dalam mencegah atau memperparah keadaan.
Bencana sebesar ini hanya bisa dijawab bersama, bukan sendiri-sendiri.
Kapan Kita Harus Berubah?
Jawabannya jelas: Sekarang. Hari ini. Saat air masih surut dan ingatan masih basah.
Alam tidak menunggu rapat kerja. Tidak menunggu anggaran rampung. Tidak menunggu tanda tangan di atas kertas.
Alam bekerja dalam ritmenya sendiri. Maka perubahan kita pun harus setangkas itu.
Di Sisi Mana Perubahan Harus Dimulai?
Perubahan tidak harus dimulai dari ruang megah. Ia bisa dimulai dari yang paling dekat dengan diri kita, antara lain:
- di rumah, saat kita berhenti membuang sampah ke sungai,
- di sekolah, saat anak-anak diajari bahwa bumi adalah titipan,
- di desa dan kota, ketika warga menjaga daerah resapan air,
- di kantor pemerintah, ketika keputusan dibuat dengan integritas,
- di perusahaan, ketika keberlanjutan bukan sekadar jargon,
- di hutan, sungai, dan bukit, tempat alam menunggu kita kembali bersahabat.
Perubahan besar selalu lahir dari keberanian memulai dari hal kecil.
Lalu Bagaimana Jalan Kita ke Depan?
Inilah beberapa langkah yang tak boleh lagi ditunda:
a. Rekonsiliasi dengan Alam
Rehabilitasi hutan dan restorasi sungai bukan agenda pilihan, tetapi mandat keberlanjutan bangsa.
b. Tata Kelola yang Tegas dan Jujur
Pengawasan harus nyata, bukan simbolik. Penegakan hukum harus adil, bukan selektif. Setiap proyek yang mengancam keselamatan publik harus berani dihentikan.
c. Kesiapsiagaan Berbasis Sains dan Kearifan Lokal
Sistem peringatan dini harus hidup. Masyarakat harus dilatih, bukan hanya diberitahu. Data harus terbuka dan mudah diakses.
d. Menghidupkan Kembali Gotong Royong
Karena hanya bangsa yang saling menjaga yang bisa bertahan dari badai sebesar ini.
e. Menata Ulang Cara Kita Melihat Masa Depan
Pembangunan harus berpihak pada generasi yang belum lahir, bukan hanya pada kepentingan yang hidup hari ini.
Jika Air Sudah Surut, Jangan Biarkan Nurani Ikut Surut
Ketika Sumatera menangis, ia sebenarnya sedang memberi kita pelajaran yang tidak bisa dibeli. Ia mengingatkan kita bahwa hubungan kita dengan alam telah terlalu lama renggang, dan sudah saatnya kita kembali.
Bencana bukan semata tragedi; ia adalah pesan yang ditulis dengan air mata dan lumpur.
“Bangunlah. Perbaikilah dirimu. Perbaikilah negeri ini sebelum terlambat.”
Kita mungkin tidak bisa mengubah apa yang terjadi kemarin, tetapi kita masih bisa menyelamatkan esok. Kita masih bisa mencegah air mata berikutnya. Kita masih bisa membuat Sumatera bangkit dengan kehormatan.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari bencana, melainkan bangsa yang berani belajar darinya.
Semoga air yang menenggelamkan hari ini menjadi cahaya yang menerangi pilihan kita di masa depan. Aamiin.❤🔥🌹🎀
Bogor, 12 Desember 2025
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
