Cerpen : Hazwan Jamil*)
Di ujung sebuah pulau terpencil tempat sinyal sering hilang dan perahu adalah satu-satunya harapan Ferdi berdiri memandang garis pantai yang porak-poranda. Banjir bandang baru saja menyapu tiga desa, meninggalkan lumpur, puing-puing, dan diam yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Belum seminggu berlalu sejak ia memutuskan menjalankan aksi kemanusiaan, namun langkahnya terasa berat karena berita miring yang entah dari mana datangnya.
Pemerintah daerah mulai mempertanyakan niatnya, menuduh ada “agenda tersembunyi” di balik gerak cepatnya.
Padahal, yang ia bawa sejak awal hanya keinginan sederhana dan secerca cahaya, memastikan tak ada lagi keluarga yang menangis dalam gelap gulita tanpa pertolongan.
Ferdi memulai semuanya dari ruang kecil di rumah panggung yang dulu dipakai ibunya menjemur ikan asin. Di ruangan kecil itu, Ferdi mulai mengajak satu per satu orang yang masih percaya padanya. Tak ada yang mereka punya selain niat baik dan sedikit keberanian yang terus dipaksa tumbuh.
Mereka duduk melingkar di bawah cahaya lampu minyak yang berkelip pelan, membicarakan bagaimana cara menembus desa-desa yang terputus, siapa yang harus mereka bantu lebih dulu, dan bagaimana membagi logistik yang jumlahnya tak seberapa.
Setiap orang menyumbangkan pendapat, bahkan yang paling pelan sekali pun, dan justru itulah yang menguatkan Ferdi.
Selama masih ada suara-suara tulus apa adanya seperti itu, maka ia tahu kemanusiaan belum mati di pulau ini, meski fitnah mulai merayap, menggrogoti dan menggoyahkan kepercayaan sebagian warga.
Namun ia tahu, sebelum membuktikan apa pun, mereka harus bergerak dulu. Pagi itu, saat Ferdi memanggil timnya untuk berkumpul di dermaga tua, angin laut membawa aroma garam dan kabar buruk bersamaan.
Beberapa relawan datang dengan raut gelisah, membawa potongan pesan singkat dari orang-orang yang percaya isu pemerintah, bahwa Ferdi “terlalu mencolok”, “menyaingi pemerintah”, bahkan “mencari panggung di atas duka penderitaan musibah”.
Tuduhan itu menghantamnya lebih keras daripada gelombang laut yang memecah karang. Namun di hadapan timnya wajah-wajah yang berharap kepadanya Ferdi hanya berkata, pelan namun pasti, “Kita tidak di sini untuk menjawab fitnah. Kita di sini untuk menjawab jeritan orang yang menunggu bantuan dan kemanusiaan.”
Dan kalimat itu, untuk sesaat, membuat semuanya diam, sebelum badai sebenarnya dimulai.
Saat Ferdi dan timnya hendak mengangkut bantuan ke perahu, seorang aparat kecamatan datang membawa selebaran resmi.
Sebuah surat peringatan ditulis tergesa dan penuh nada curiga menyatakan bahwa kegiatan Ferdi “harus dihentikan sementara untuk pemeriksaan administrasi.” Ferdi tercekat.
Pemeriksaan administrasi?
Di tengah darurat seperti ini?
Tapi aparat itu hanya mengangkat bahu, seolah ia juga tak mengerti tapi harus menjalankan perintah atasan. Ferdi mencoba menjelaskan kondisi pengungsi yang masih terisolasi, namun jawabannya hanya dijawab dengan tatapan datar.
Upaya pertamanya untuk tetap bergerak berakhir buntu. Timnya saling pandang, antara marah dan bingung, sementara bantuan yang sudah disusun mulai basah oleh embun pagi.
Tak mau menyerah, Ferdi mengajak timnya mencari jalur laut lain pelabuhan kecil yang jarang dipakai nelayan.
Namun sesampainya di sana, mereka mendapati perahu sewaan yang sudah dipesan tak jadi datang. Pemiliknya tiba-tiba membatalkan, katanya “ia tak mau berurusan dengan pemerintah.”
Kata-katanya menggantung seperti kabut, menegaskan bahwa fitnah itu sudah menyebar lebih jauh dari dugaan Ferdi.
Ia mencoba menenangkan timnya yang mulai kehilangan semangat, tapi dalam hatinya sendiri, ia merasakan sesuatu runtuh pelan-pelan. Di satu sisi ada warga yang menunggu bantuan, di sisi lain ada bayang-bayang kekuasaan yang memblokir langkahnya.
Ferdi mencoba opsi ketiga mengangkut bantuan lewat jalur darat, melewati bukit batu yang biasanya bisa ditempuh satu jam berjalan kaki. Tapi setengah jalan hancur oleh longsor, membuat rombongan terpaksa kembali karena dua relawan hampir tergelincir.
Kembali ke titik awal, mereka mendapati kabar baru, oknum pemerintah menyebarkan pesan suara yang menuding Ferdi “mengumpulkan dana tanpa izin” dan “memutar bantuan untuk kepentingan pribadi.”
Tuduhan itu memukul lebih keras daripada longsor di bukit tadi. Dua relawan muda yang masih rentan tekanan akhirnya mundur karena takut keluarganya disalahkan.
Untuk pertama kalinya sejak bencana terjadi, Ferdi merasa benar-benar sendirian meski timnya masih berdiri di sekelilingnya.
Malam harinya, saat tim berkumpul di bawah cahaya lampu minyak di dermaga tua, suasana terasa makin berat. Beberapa warga yang awalnya ingin membantu kini tak berani mendekat.
Fitnah itu tumbuh seperti duri yang menusuk di tempat yang tak terlihat. Ferdi menatap bantuan yang belum bergerak sejengkal pun sejak pagi, lalu menatap wajah timnya yang lelah bukan hanya lelah tubuh, tapi lelah mempertahankan keyakinan.
“Apa kita masih sanggup untuk terus maju?” salah satu relawan bertanya dengan suara hampir tak terdengar.
Ferdi ingin menjawab dengan keyakinan penuh, tapi yang keluar hanya helaan napas panjang. Namun, saat angin laut berhembus membawa suara anak kecil dari kejauhan entah dari posko, entah dari rumah yang dingin nan gelap.
Ferdi merasakan tekadnya kembali menyala. Ia tahu rintangan ini bukan akhir, tapi justru awal dari perjuangan yang lebih berat.
Di dermaga, tiba-tiba datang tiga mobil dinas lampu sein berkedip, seragam rapi, dan seorang camat yang wajahnya tampak diketatkan oleh keputusan yang bukan ia pilih sendiri. Di tangannya ada surat lainnya, perintah penyegelan gudang bantuan sampai kasus “diselidiki.”
Di belakangnya berdiri dua polisi yang menatap seperti menunggu komando. Waktu mengalir kian menyusut. Di seberang lapangan, seorang ibu menahan napas sambil menutup mulut bayinya yang batuk dia sudah menunggu obat sejak subuh.
Pilihan Ferdi cuma dua: patuh, menyerahkan semua logistik ke tangan birokrasi yang lamban dan mungkin hilang, atau melangkah menerobos larangan, membawa bantuan sekarang juga dengan risiko ditangkap, barang disita, dan timnya diberi cap kriminal yang akan menghancurkan masa depan mereka.
Tidak ada yang benar-benar aman; setiap keputusan adalah taruhan nyawa. Jantungnya berdegup cepat. Ia melihat wajah relawan, anak kecil di pelukan ibu, dan papan nama desa yang hampir terendam dan tahu bahwa menunda berarti menambah duka.
Pada malam harinya. Ferdi mengambil napas, lalu memilih jalan yang paling berbahaya: bergerak malam ini, menyusup lewat selat sempit yang hanya dikenali beberapa nelayan tua.
Ritme terasa menjadi lebih cepat, perintah-perintah dibisikkan, karung-karung diseret ke perahu kecil, dua relawan jadi umpan untuk mengalihkan perhatian petugas, satu tim medis bersembunyi dengan obat.
Mereka meluncur penuh ketegangan. Gelombang menabrak lambung perahu. Di sela suara mesin dan debur, terdengar ketukan telapak tangan di dada Ferdi, seperti hitungan mundur.
Risiko terbesar menunggu, jika tertangkap, bukan hanya bantuan yang hilang, bahkan rekam jejak mereka bisa dijadikan alat politik, ketakutan kembali mendonor kedalam diri, dan pulau itu kembali tanpa harapan selama berminggu-minggu. Sirene jauh terdengar menambah napas pendek semua orang.
Ferdi menutup mata sejenak, memikirkan ibu yang menggenggam selimut anaknya, lalu membuka mata, menguatkan suara yang hampir pecah,“Ke mana kita pergi, kita pergi bersama.”
Perahu menembus gelap. Di balik gelap itu, nasib mereka tergantung pada keputusan paling berani atau paling bodoh yang pernah dibuatnya.
Perahu Ferdi akhirnya menepi di desa yang terisolasi itu menjelang fajar. Begitu mereka turun, warga yang masih terjaga terbelalak, lalu berlari menyambut seolah kedatangan itu adalah cahaya pertama setelah malam yang terlalu panjang.
Tim medis segera membagikan obat, relawan menurunkan logistik, dan ibu yang bayinya sakit langsung menangis lega saat anaknya minum obat pertama setelah dua hari.
Di tengah hiruk-pikuk syukur itu, sebuah kabar mengejutkan datang, rekaman warga tentang petugas yang mencoba menghentikan bantuan tersebar luas dan memicu simpati publik.
“Bang, kalian dianggap pahlawan di kota,” ujar seorang pemuda sambil mengatur tenda darurat.
Ferdi hanya tersenyum tipis, masih terengah setelah melalui malam panjang yang menegangkan.
“Pahlawan?
Kita cuma melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan,” balasnya pelan.
Tapi senyum warga, tatapan lega anak-anak, dan ucapan terima kasih yang terus mengalir membuat hatinya terasa penuh, penuh dengan kemenangan yang sederhana tapi sangat berarti.
Menjelang siang, bantuan besar dari pemerintah pusat akhirnya datang, kali ini dengan permintaan maaf atas tindakan oknum daerah yang menyebarkan fitnah.
Di hadapan warga dan relawan, seorang pejabat menggenggam tangan Ferdi dan berkata, “Terima kasih sudah tidak menyerah pada kemanusiaan.”
Ferdi tertawa kecil, melepas ketegangan yang ia tahan terlalu lama. “Kalau kami menyerah, pulau ini kehilangan harapan,” jawabnya.
Relawannya mengangguk, beberapa menepuk bahunya dengan bangga. Angin laut berhembus lebih hangat hari itu, seolah ikut merayakan.
Bagi Ferdi, kemenangan ini bukan soal siapa yang benar atau salah, ini tentang memilih tetap berdiri saat keadaan memaksanya jatuh, tentang percaya bahwa kebaikan akan sering diserang dan dijatuhkan, pasti tetap punya ruang untuk diperjuangkan.
Dan ketika matahari perlahan naik, ia tahu satu hal dengan pasti, tak ada fitnah yang bisa menutup cahaya kemanusiaan yang berakarkan keikhlasan dan tumbuh dari lubuk hati yang terdalam.
Berbulan-bulan setelah badai itu berlalu, Ferdi kembali berjalan di sepanjang dermaga tua tempat segalanya dulu hampir runtuh.
Ia menemukan papan kecil yang dipaku diam-diam oleh warga “Terima kasih, karena memilih tetap percaya saat kami hampir menyerah tanpa arah.”
Ferdi terdiam, merasakan sesuatu hangat memenuhi dadanya, twist kecil yang tak pernah ia duga ternyata diam-diam menyimpan beribu makna, kebaikan mereka telah menjadi jangkar harapan bagi orang lain.
Dari kejauhan terdengar tawa anak-anak yang dulu ia obati, kini berlari bebas di bawah matahari yang lebih jinak.
Dalam hati ia membatin bahwa hidup memang tak pernah menunggu semuanya aman untuk berbuat baik.
Kadang justru di tengah fitnah, keraguan, dan gelap yang menyesakkan, manusia menemukan keberaniannya yang paling jujur.
Dan sambil menatap laut yang perlahan tenang, Ferdi berbisik pada dirinya sendiri dan pada siapa pun yang kelak berjalan di jalan yang sama bahwa kebaikan mungkin tidak selalu dilihat, tapi selalu kembali, entah lewat tangan yang tak dikenal, atau lewat kekuatan kecil yang tumbuh di hati mereka yang memilih untuk tidak berhenti. []
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang*)
