Puisi : Khoiriah Malinda Ritonga, S.Hum*)
Di bawah langit Kota Medan yang tak pernah terlelap,
aku berdiri, memeluk bayangmu dalam dekap.
Satu dekade lalu, jemarimu terlepas dari genggaman,
namun petuahmu tetaplah kompas
menuntun langkah di belantara perantauan.
Aku adalah sulungmu, Ibu…
Pundak ini memang memikul beban yang menderu,
namun langkahku takkan pernah terpaku.
Di sela debu kapur dan deretan bangku sekolah,
kusematkan wajahmu pada tiap lelah,
menghidupkan sunyi yang nyaris patah.
Melalui pendar layar digital, kukejar ilmu,
menyusun bata demi bata bagi rumah impianmu.
Meski raga terpisah samudera dari pusara dan halaman,
doamu adalah jembatan
yang menghubungkan rindu dengan kenyataan.
Kini, mataku menatap jauh melampaui cakrawala,
ada tanah asing yang ingin kupijak, membawa nama kita.
Bukan untuk lari dari rindu yang mendalam,
tapi untuk menuntaskan janji
yang pernah kau bisikkan di malam-malam kelam.Ibu, aku adalah perpanjangan napasmu yang tertunda;
menjadi Profesor, menjadi pembelajar, menjadi pejuang dunia.
Anak pertamamu ini takkan berhenti mendaki,
hingga mimpi-mimpimu tumbuh subur
di negeri yang jauh nanti. []
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta *)
