Oleh: Khoiriah Malinda Ritonga, S.Hum*)
Di sebuah ruang kelas di Medan, suara riuh anak-anak “Gen-Alpha” bersahutan dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka adalah anak-anak yang lahir dengan gawai di tangan, yang melihat dunia melalui algoritma, dan tumbuh dalam lingkungan sekolah internasional yang serba global, kritis, dan skeptis.
Di hadapan mereka, penulis berdiri bukan hanya sebagai guru kelas, melainkan sebagai penafsir nilai-nilai langit yang mencoba membumikan Al-Qur’an di tengah arus modernitas.
Tantangan terbesar pendidik saat ini bukan lagi soal transfer pengetahuan, melainkan pembangunan worldview (pandangan alam). Bagi Gen-Alpha, narasi agama tidak bisa lagi disampaikan dengan pola indoktrinasi satu arah. Mereka membutuhkan logika, keindahan, dan relevansi.
Menggeser Paradigma: Dari Hafalan ke Pemahaman
Selama ini, pendidikan agama pada level dasar sering kali terjebak pada mekanika hafalan tanpa pemaknaan. Namun, di sekolah internasional di mana kurikulum menekankan inquiry-based learning, pengajaran Al-Qur’an harus bertransformasi.
Membangun worldview Qur’ani pada Gen-Alpha berarti mengajak mereka melihat dunia melalui “kacamata” Al-Qur’an. Saat mereka belajar tentang perubahan iklim dalam kurikulum global, penulis masuk dengan narasi Khalifatullah fil Ardh (manusia sebagai penjaga bumi).
Al Qur’an tidak lagi dipandang sebagai teks kuno, melainkan solusi atas krisis ekologi global. Inilah titik temu antara tradisi tafsir dengan kebutuhan kurikulum internasional.
Al-Qur’an dalam Bahasa “Digital-Bilingual”
Mengajar di sekolah internasional di Medan memberikan perspektif unik. Siswa-siswi di sini adalah individu yang terpapar pada keragaman budaya (multikultural). Di sinilah konsep Lita’arafu (saling mengenal) dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menjadi sangat relevan.
Alih-alih merasa terasing dengan identitas keislamannya, anak-anak ini diajak untuk bangga bahwa Al-Qur’an justru merayakan keberagaman. Tafsir inklusif ini menjadi benteng bagi mereka agar tidak terjerumus pada radikalisme di satu sisi, dan tidak kehilangan identitas muslimnya (inklusivitas tanpa asimilasi) di sisi lain.
Gen-Alpha bertanya dengan sangat lugas: “Why did God create us differently?” atau “How can the Quran guide me in the age of AI?”. Menjawab ini memerlukan kedalaman literatur tafsir yang dipadukan dengan keterampilan pedagogi modern.
Penulis coba menjawab pertayaan kritis Gen-Alpha di sekolah internasional memerlukan pendekatan yang menggabungkan Tafsir Tekstual (berdasarkan ayat) dan Tafsir Kontekstual/Falsafi (berdasarkan logika dan sains).
1. “Why did God create us differently?”
(Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda?). Pendekatan: Tafsir Tematik (Al-Hujurat: 13) Landasan Ayat: “…لتعارفوا وقبائل شعوبا وجعلناكم…” (Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal).
Penulis memahami Aspek Teologis (Sunnatullah): Perbedaan bukan sebuah kecelakaan sejarah, melainkan desain yang disengaja. Jika dunia ini seragam (satu warna, satu rasa), maka tidak akan ada dinamika kehidupan. Perbedaan adalah cara Tuhan menunjukkan kekayaan kreativitas-Nya.
Aspek Sosiologis (Lita’arafu): Kata Lita’arafu (saling mengenal) memiliki makna mendalam. Mengenal bukan sekadar tahu nama, tapi memahami keunikan orang lain. Perbedaan diciptakan agar manusia saling membutuhkan (interdependensi). Jika semua orang adalah dokter, siapa yang akan membangun rumah?
Aspek Keadilan: Perbedaan fisik atau latar belakang tidak menentukan nilai manusia di mata Tuhan. Penutup ayat tersebut (“Inna akramakum…”) menegaskan bahwa sistem penilaian Tuhan adalah kualitas moral (takwa), bukan kuantitas fisik. Ini memberikan rasa percaya diri pada anak bahwa identitas mereka berharga.
2. “How can the Quran guide me in the age of AI?”
(Bagaimana Al-Qur’an membimbingku di era Kecerdasan Buatan/AI?). Landasan Ayat: “Wasanurihim ayatina fil afaqi wa fi anfusihim…” (Akan Kami perlihatkan tanda-tanda Kami di ufuk/alam semesta dan pada diri mereka sendiri…) QS. Fussilat: 53.
Penjelasan dari ayat Al-Qur’an sebagai Sumber Etika (The Moral Compass): AI bisa
mengolah data secara cepat, tapi AI tidak memiliki bashirah (mata hati) atau kompas moral. Al-Qur’an memberikan batasan etika: apakah teknologi ini membawa maslahat (kebaikan) atau mudarat (kerusakan)? AI tanpa panduan Al-Qur’an bisa menjadi alat penindasan; dengan Al Qur’an, AI menjadi alat dakwah dan kemanusiaan.
Membedakan Pencipta dan Ciptaan: AI adalah hasil olah pikir manusia (ayatina fil afaq). Al-Qur’an mengingatkan bahwa sehebat apa pun kecerdasan buatan, ia tetaplah makhluk (sesuatu yang dibuat). Ini menjaga agar Gen-Alpha tidak terjebak pada “pemujaan teknologi” dan tetap meletakkan Tuhan sebagai otoritas tertinggi. Integritas Data dan Kebenaran (Tabayyun):
Di era AI yang penuh dengan hoax dan deepfake, Al-Qur’an mengajarkan konsep Tabayyun (verifikasi) dalam QS. Al-Hujurat: 6. Prinsip ini menjadi metode sangat relevan bagi siswa untuk menyaring informasi yang dihasilkan oleh algoritma.
Keunikan Ruhani: AI bisa meniru logika manusia, tapi tidak bisa meniru Ruh. Al-Qur’an membimbing manusia untuk mengasah sisi spiritual yang tidakbisa digantikan oleh mesin secerdas apa pun.
Membangun worldview Qur’ani di sekolah internasional adalah upaya menanam benih di tanah yang menantang namun subur. Kita tidak sedang mencetak penghafal yang robotik, melainkan generasi saintis, diplomat, dan pemimpin masa depan yang memiliki “hati” Al-Qur’an.
Sebagai kesimpulan penjelasan dari pertanyaan Gen-Alpha di atas: Al-Qur’an tidak berbicara tentang cara membuat coding AI, tapi Al-Qur’an berbicara tentang mengapa kita membuat AI dan bagaimana cara menggunakannya agar kita tetap menjadi manusia yang beradab.”
Refleksi ini membawa penulis pada sebuah kesadaran bahwa tugas sebagai pengajar di perantauan bukan sekadar profesi, melainkan sebuah misi peradaban. Menjadi pengajar SD di sekolah internasional sambil menempuh studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir adalah dialektika yang mendewasakan.
Di satu sisi, penulis bergulat dengan teks-teks klasik yang sakral, dan di sisi lain, penulis harus menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami oleh anak-anak Gen-Alpha yang berpikir sangat logis dan bilingual.
Pada akhirnya, setiap ayat yang penulis sampaikan di ruang kelas adalah butir-butir janji yang penulis tunaikan kepada almarhumah. Keinginan beliau agar anaknya menjadi orang yang bermanfaat melalui jalur ilmu kini mewujud dalam wajah-wajah kritis siswa.
Jarak ribuan kilometer dari kampung halaman dan rasa rindu pada keluarga yang ditinggalkan terbayar lunas ketika melihat binar mata siswa yang mulai memahami bahwa Islam dan modernitas bukanlah dua hal yang harus dibenturkan.
Di hadapan Gen-Alpha, penulis melihat harapan. Dengan bimbingan yang tepat, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu memijakkan kaki di kemajuan zaman, namun tetap menundukkan kepala di hadapan Sang Pencipta.
Inilah harmoni ilmu dan iman yang sejati; sebuah warisan abadi yang ingin penulis titipkan, dari satu meja belajar ke meja belajar lainnya, hingga ke ujung dunia kelak. []
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta *)
