Oleh : Nurul Jannah*)
“Di hari yang disebut kemenangan ini, yang paling kutakuti… adalah kembali menjadi diriku yang lama.”
Hari ini,
orang-orang menyebutnya kemenangan.
Namun aku masih berdiri
di antara gema takbir,
tak sepenuhnya pulang,
tak sepenuhnya tenang.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar,
Allahu Akbar walillaahil hamd,
yang menggulung langit dan bumi,
yang menembus dada
hingga ke ruang paling sunyi dalam diri ini,
namun entah mengapa,
hati ini belum sepenuhnya ringan.
Memang ada yang telah selesai, namun lebih banyak yang belum benar-benar usai.
Langit dipenuhi pujian,
masjid-masjid bergetar oleh haru,
alunan takbir terus menggema,
tidak hanya di udara,
bahkan, sampai menghantam
dinding-dinding jiwa yang lama tertidur.
Namun masih ada tanya yang tak bisa dibungkam di hati ini,
Kemenangan mana, yang benar-benar telah kuraih?
Apakah menang
karena berhasil menahan lapar? Atau sejatinya hanya menunda kenyang, untuk kembali rakus saat gema takbir ini mereda?
Apakah menang, karena menahan amarah?
Atau sejatinya hanya menguburnya sementara,
lalu membiarkannya tumbuh di hari-hari biasa tanpa Ramadan?
Hari ini, semua orang saling memaafkan.
Tangan berjabat,
pelukan menghangat,
air mata jatuh dengan alasan sama,
ingin kembali bersih.
Namun aku tahu,
tidak semua masalah selesai dengan satu kata “maaf”,
tidak juga semua retak pulih hanya dengan saling memeluk.
Ada yang tertinggal dalam dada,
tak sempat diucapkan,
tak berani dihadapi,
dan dalam diam itu, terasa
lebih nyaring
daripada gema takbir di luar sana.
Ya Allah,
jika ini hari kemenangan,
maka izinkan aku jujur di hadapan-Mu, bahwa
aku belum sepenuhnya berada dalam kemenangan itu.
Masih ada kekurangan,
yang belum sempat dibuat lengkap,
masih ada langkah
yang diam-diam malah menjauh,
meski lisan telah sibuk bertakbir
menyebut asma-Mu.
Dan di tengah semua itu,
Engkau tidak pernah menutup pintu-Mu.
Engkau tetap menunggu,
meski aku datang dengan iman yang rapuh.
Engkau tetap memanggil,
meski aku sering berpaling tanpa arah.
Hari ini,
aku tidak ingin merayakan kemenangan
dengan gegap gempita.
Aku ingin merayakannya
dengan satu janji sunyi,
namun lebih lantang dari gema takbir manapun, untuk selalu dekat dengan-Mu, Duhai Allah, meski Ramadan telah benar-benar pergi.
Jika kemenangan ini nyata,
maka ia bukan pada pakaian baru,
bukan pada meja yang penuh hidangan,
bukan pada senyum yang dipaksakan sempurna.
Kemenangan ini ada
pada hati yang berani berubah,
pada jiwa yang memilih pulang,
pada langkah yang tetap menuju kepadaMu, ya Allah, meski gema takbir telah senyap.
Hari ini,
aku tidak ingin kembali
menjadi diriku yang lama,
yang mudah lalai,
yang cepat lupa,
yang merasa masih punya waktu panjang,
padahal kematian bisa datang,
tanpa satu pun tanda.
Hari ini,
aku ingin menjadi hamba
yang tidak hanya baik saat dilihat,
tetapi juga tetap tunduk dan bersujud,
meski dunia tak lagi menyaksikan.
Hari kemenangan,
ternyata bukan tentang selesai.
Ia adalah awal paling sunyi,
awal dari perjuangan yang sesungguhnya.
Dan jika suatu hari nanti
aku kembali lalai,
kembali jauh,
ingatkan aku, ya Allah,
pada gema takbir hari ini,
yang telah mengguncang hatiku,
yang telah membuatku berjanji,
untuk tidak lagi kembali
menjadi diriku yang dulu.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar…
Allahu Akbar walillaahil hamd…
Karena kemenangan yang sejati
bukan saat Ramadan berakhir,
melainkan saat aku tetap bertahan
di jalan-Mu,
meski gema itu telah usai.
Bogor, 21 Maret 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
