Oleh : Dilla, S.Pd.*)
DI sebuah pagi yang nyaris tanpa jeda, notifikasi demi notifikasi menyapa tanpa permisi. Layar ponsel menjadi jendela dunia, sementara jari-jari kita menari lincah di atasnya menyusun kata, membalas pesan, memberi respons.
Tanpa sadar, kita hidup dalam arus teks yang tak pernah benar-benar berhenti. Inilah wajah zaman: cepat, padat, dan serba digital.
Kita hidup di abad ke-21, yang kerap disebut sebagai era Revolusi Industri 4.0. Sebuah zaman di mana perubahan tidak lagi berjalan perlahan, tetapi melesat cepat, bahkan sering kali tak sempat kita pahami sepenuhnya.
Kehidupan kini berbasis digital serba internet, serba aplikasi. Teknologi hadir bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan telah menjadi bagian dari cara hidup manusia.
Dampaknya begitu luas. Banyak peluang kerja baru terbuka, namun tak sedikit pula profesi lama yang perlahan menghilang. Kita bisa menyebut salah satunya: pak pos. Pada era 70-an hingga 90-an, surat adalah jembatan rasa ditunggu, dirawat, bahkan disimpan sebagai kenangan.
Kini, peran itu telah bergeser. Surat digantikan oleh pesan instan yang melesat dalam hitungan detik melalui telepon pintar.
Di era digital ini, hampir semua komunikasi berbasis teks. WhatsApp, Facebook, Instagram, Telegram, Twitter, dan berbagai platform lainnya menjadi ruang utama interaksi. Setiap hari, bahkan setiap menit, generasi milenial dan Gen Z memproduksi teks dalam bentuk chat, caption, status, komentar, hingga thread panjang yang kadang lebih hidup daripada percakapan langsung.
Jika seluruh pesan itu dikumpulkan, bukan tidak mungkin akan menjelma menjadi buku setebal ratusan halaman. Ini menunjukkan satu hal penting: sebenarnya generasi ini tidak kekurangan kemampuan menulis. Mereka terbiasa menyusun kata, merangkai kalimat, dan menyampaikan gagasan meski sering kali dalam bentuk yang spontan dan tidak terstruktur.
Namun, pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak menulis,” melainkan “seberapa berkualitas tulisan itu?” Di sinilah kita perlu jujur melihat realitas.
Kemampuan menulis yang dimiliki belum tentu diiringi dengan kedalaman berpikir, ketajaman analisis, dan kekuatan literasi. Begitu pula dengan membaca yang sering kali hanya sekadar memindai, bukan memahami.
Dalam dunia pendidikan, perubahan ini juga terasa nyata. Kurikulum terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman dari KTSP, Kurikulum 2013, hingga revisi terbaru yang semakin menekankan kompetensi literasi. Khusus dalam pembelajaran bahasa, hampir semua berbasis teks. Peserta didik dituntut untuk mampu membaca secara kritis, memahami konteks, serta menulis dengan struktur dan tujuan yang jelas.
Mau tidak mau, suka tidak suka, keterampilan membaca dan menulis menjadi fondasi utama. Ironisnya, di tengah banjir teks yang setiap hari mereka hadapi, masih banyak yang kesulitan memahami isi bacaan secara mendalam atau mengekspresikan gagasan secara runtut.
Di sisi lain, kehadiran generasi digital tidak bisa dilepaskan dari peran para tokoh besar dunia teknologi. Nama-nama seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, Sergey Brin, Jack Dorsey, hingga Jack Ma telah membangun ekosistem digital yang kini kita nikmati.
Platform yang mereka ciptakan bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang interaksi sosial, bisnis, pendidikan, bahkan pembentukan opini publik.
Apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Satu kata: komitmen. Komitmen untuk terus berinovasi, membaca kebutuhan zaman, dan menciptakan solusi yang relevan. Mereka tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga membentuk arah peradaban.
Namun, seperti dua sisi mata uang, era digital juga membawa tantangan serius. Arus informasi yang begitu deras tidak selalu diiringi dengan kebenaran. Hoaks, ujaran kebencian, dan narasi provokatif dengan mudah menyebar, memengaruhi emosi, bahkan memecah belah. Ruang digital yang seharusnya menjadi wadah kolaborasi, terkadang berubah menjadi arena konflik.
Di sinilah pentingnya literasi yang sesungguhnya bukan sekadar mampu membaca dan menulis, tetapi juga mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang kita hasilkan.
Milenial dan Gen Z hari ini adalah generasi yang hidup dalam kelimpahan teks. Mereka mahir mengetik, cepat merespons, dan aktif berkomunikasi. Namun, tantangan ke depan bukan hanya tentang kecepatan, melainkan tentang makna.
Sudah saatnya kita tidak hanya bangga pada banyaknya kata yang ditulis, tetapi juga pada kualitas pesan yang disampaikan. Tidak hanya menjadi pengguna teks, tetapi juga pencipta makna.
Sebab pada akhirnya, di tengah dunia yang bising oleh kata-kata, yang paling dibutuhkan bukanlah mereka yang paling banyak berbicara melainkan mereka yang mampu menghadirkan makna dalam setiap aksara. []
Penulis adalah Guru di SMPN 2 kota Bukittinggi dan SMP Islam AL-Ishlah Bukittinggi. Telah menerbitkan 7 buku tunggal dan puluhan buku Antologi. Penulis bisa dihubungi melalui email, dillaspd6@gmail.com, facebook: Espede Dilla, Instagram: @dilla.spd dan telegram: dilla S.Pd blog: www.dillaspd.my.id *)
