Review Lukisan Tangan Ibu Canting Puji Setya Wilujeng dalam “SERPIHAN KOSMIK”

Akrilik di Kanvas, 25 x 30 cm, 2026

Oleh : Nurul Jannah*)

Bukan bentuk yang sempurna, namun bentuk yang jujur

Di tengah hamparan hijau yang terang seperti kehidupan yang terus berjalan, tiba-tiba muncul satu pusat yang liar, tak tertebak, seperti pecahan semesta yang menolak tunduk pada keteraturan.

Inilah Serpihan Kosmik, bukan lukisan biasa, melainkan jejak dari sesuatu yang pernah utuh… lalu pecah… dan memilih tetap bercahaya.

Garis-garisnya tidak rapi.
Warnanya tidak patuh.
Namun justru di sanalah kejujurannya tumbuh,
seperti hidup yang tidak selalu bisa dijelaskan,
tetapi selalu bisa dirasakan.

Ada biru yang seperti luka yang belum selesai.

Ada coklat yang seperti kenangan yang enggan pergi.

Ada kilatan putih yang menyerupai harapan, tipis, tapi tidak pernah benar-benar padam.

Dan di tengah semua itu,
ia tidak diam.

Ia berdenyut.

Ia bergerak.

Ia hidup.

Seperti manusia yang berada di ujung usia,
ketika waktu melambat,
suara dunia meredup,
tetapi justru batin mulai berbicara dengan paling jujur.

Sendiri… tapi tidak sunyi.
Hening… tapi penuh makna.

Lukisan ini seperti ruang tanpa suara, tempat kita akhirnya berani melihat diri sendiri, tanpa topeng, tanpa penjelasan, tanpa pembelaan.

Di sinilah debu-debu pengalaman, luka, cinta, kehilangan, bertabrakan, berputar, lalu menemukan bentuknya.

Bukan bentuk yang sempurna. Tapi bentuk yang jujur.

Dan mungkin, di titik itu kita sadar, bahwa hidup bukan tentang tetap utuh, melainkan tentang berani tetap bersinar, meski telah menjadi serpihan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita bercahaya bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tetap hidup, meski pernah hancur.

Bogor, 15 April 2026❤‍🔥

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version