BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Pagi di Bukittinggi selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kejutan. Usai mengikuti peringatan 1 Muharram di Masjid Jamiak Tigobaleh, langkah kami mengarah ke Pasar Atas, sekadar mencari sarapan dan menikmati denyut kota yang perlahan bangun. Tak ada rencana besar. Semua mengalir biasa, sampai sebuah pertemuan mengubah arah pagi itu.
Di tengah keramaian pasar, kami berjumpa dengan Indra Jaya, Koordinator Lapangan Jam Gadang yang sehari-hari bertugas menjaga ikon kota itu. Dengan santai namun penuh kehangatan, ia melontarkan tawaran yang tak pernah kami duga.
“Kalau ibu-ibu ingin naik ke atas Jam Gadang, silakan. Bisa sekalian meliput atau membuat konten. Mumpung bulan ini genap 100 tahun,” katanya.
Ajakan itu datang seperti pintu yang tiba-tiba terbuka menuju ruang yang selama ini hanya bisa dibayangkan. Lebih dari empat dekade hidup di Bukittinggi, inilah kali pertama kami mendapat kesempatan menapaki bagian dalam bangunan yang selama ini hanya menjadi latar foto, penanda waktu, dan simbol kebanggaan kota.
Usai sarapan, kami bergegas menuju Jam Gadang. Di pelatarannya, aktivitas sudah tampak sibuk. Panggung melingkar sedang dibangun sebagai persiapan puncak Perayaan 100 Tahun Jam Gadang yang akan digelar pada 20–21 Juni 2026.
Menurut Pak Jaya, rangkaian acara telah disiapkan dengan meriah. Selain pementasan seni budaya, masyarakat juga akan disuguhi 20 ribu porsi makanan khas Minangkabau secara gratis pada Minggu, 21 Juni.
Tak hanya itu, kawasan Jam Gadang juga tengah menjadi ruang terbuka bagi pemutaran film layar lebar dari berbagai negara selama sepekan sebagai bagian dari perayaan seabad.
“Ini momen besar untuk Bukittinggi. Kami ingin masyarakat ikut merasakan kemeriahan dan sejarahnya,” ujarnya.
Kami pun mulai menaiki tangga sempit di dalam bangunan. Bersama Bu Widyawati (SDN 04 Birugo), Bu Enny Revita (SMPN 5 Bukittinggi), dan Bu Tuti Khairina (SMPN 2 Bukittinggi), satu per satu langkah terasa seperti menembus lapisan waktu.
Di dalam, aroma kayu tua dan dinding yang menyimpan usia satu abad seolah berbicara. Saat sampai di ketinggian, pemandangan Kota Bukittinggi tersaji utuh: atap-atap rumah, jalur Pasar Atas, hingga lekuk hijau Ngarai Sianok membentang seperti lukisan hidup.
Salah satu ruang yang paling menarik perhatian adalah ruang informasi, tempat pengeras suara besar dipasang. Dari ruangan inilah, informasi dan pengumuman dapat disiarkan hingga membahana ke seluruh kawasan Pasar Atas.
Bu Widyawati mendapat kesempatan langka mencoba menyampaikan himbauan melalui pengeras suara itu. Suaranya menggema, mengajak warga Bukittinggi datang meramaikan perayaan 100 tahun Jam Gadang dan menikmati berbagai agenda, termasuk pemutaran film internasional.
Pak Jaya menjelaskan, penyampaian himbauan seperti itu memang dilakukan setiap satu jam sekali selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Di sela kunjungan, ia juga berbagi cerita tentang bagaimana Jam Gadang dirawat. Bersama lima petugas lain, ia bekerja dalam dua shift untuk menjaga kebersihan dan ketahanan bangunan.
Setiap pagi pukul 07.00 WIB, pintu Jam Gadang dibuka agar sinar matahari dan sirkulasi udara masuk, mengurangi kelembapan yang bisa merusak struktur bangunan. Pintu baru ditutup kembali pada pukul 22.00 WIB.
“Perawatan harus berkoordinasi dengan Balai Cagar Budaya di Batusangkar. Bahkan pengecatan jam hanya boleh sekali setahun dengan warna yang sama, supaya keasliannya tetap terjaga,” jelasnya.
Untuk mesin jam, proses pengengkolan dilakukan secara manual setiap tiga hari sekali agar dentang tetap hidup.
“Jam ini akan berdentang sesuai waktu yang ditunjukkan. Tidak pernah meleset,” katanya.
Meski begitu, Pak Jaya menegaskan bahwa akses ke dalam Jam Gadang tidak dibuka untuk umum. Biasanya hanya peneliti, budayawan, akademisi, atau mahasiswa yang diberi izin untuk kepentingan riset sejarah dan arsitektur.
Percakapan kemudian beralih pada satu mitos lama yang tak pernah padam: benarkah Jam Gadang dibangun dengan campuran putih telur?
Pak Jaya hanya tersenyum.
“Besok, di seminar nasional, para ahli yang akan menjawab. Kalau benar pakai putih telur, kita harus hitung berapa ton yang dibutuhkan,” ujarnya.
Seminar Nasional itu akan digelar pada 18 Juni 2026 di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, Anhar Gonggong, serta sejumlah pakar sejarah, dipandu wartawan senior Hasril Chaniago.
Menjelang pukul 11.00 WIB, langit Bukittinggi mulai berubah kelabu. Gerimis tipis turun perlahan, menyelimuti Jam Gadang dalam nuansa yang syahdu. Kami pun turun, meninggalkan ruang-ruang tua yang baru saja memberi kami kesempatan mendengar sejarah berbicara.
Pagi itu, kami pulang dengan satu kesadaran baru: Jam Gadang bukan hanya penunjuk waktu. Ia adalah saksi zaman, penjaga ingatan, dan denyut sejarah yang tak pernah berhenti berdentang. (dilla)
