Lambaian Terakhir Marhen

Gambar ilustrasi AI

Cerpen Hendri Parjiga*

Marhen duduk di ujung petak ladang kecilnya. Keringat menetes dari pelipis, dan sekujur badan, membasahi kaos singlet yang warnanya sudah tak lagi putih.

Usianya hampir tujuh puluh, tapi tangannya masih kuat menggenggam cangkul.

Marhen menanam cabai, sayur, jagung, dan singkong di bawah matahari yang menyala garang.

Padahal, kalau mau, Marhen tak perlu lagi bekerja. Ia pensiunan aparat berseragam, berpangkat perwira menengah.

Gajinya dulu lumayan, bahkan sempat membangun lima belas petak toko dari hasil kerja kerasnya.

Toko-toko itu kini disewakan dan menjadi sumber hidup keluarga.

Rumahnya besar, berdiri di kompleks perumahan elit. Di sana Ia tinggal bersama Suzana, istrinya, dan empat anak perempuan mereka yang semuanya sudah dewasa.

Ratna, si sulung, tiga puluh delapan tahun, tapi belum menikah. Tiga adiknya pun sama, cantik, berpendidikan, tapi belum punya pekerjaan tetap.

Keluarga itu hidup serba cukup. Namun entah sejak kapan, kehangatan di rumah itu perlahan sirna.

Kini, kalau lapar, Marhen harus mencari makan sendiri.

“Lagi malas masak, Pi,” kata Suzana suatu hari.

“Saya dan anak-anak tadi sudah makan. Pesan makanan lewat GoFood. Kalau Papi lapar, beli aja di rumah makan sebelah.”

Marhen hanya tersenyum. Ia tak ingin berdebat. Sejak itu, ia terbiasa menanak nasi sendiri. Kadang makan dengan ikan asin dan sambal di piring seng yang catnya mulai mengelupas.

Baju-bajunya jarang dicuci, apalagi disterika. Sementara Suzana dan anak-anaknya tak pernah absen belanja setiap kali habis mengambil uang pensiun, atau sewa toko cair.

Lama-lama, Marhen muak juga. Ia merasa seperti tamu di rumah sendiri.

Ia pun lebih sering tidur di pondok kecil yang didirikannya di tanah kaum berjarak kurang lebih 4 km dari istananya. Menggarap lahan kosong, menanam sayur, cabai, jagung, dan singkong. Di sanalah ia merasa hidup kembali.

Bahkan, Marhen jarang pulang ke rumah megahnya. Anak dan istrinya seakan tak peduli. Sering ia pulang sekali dalam sebulan, setiap tanggal baru.

Itu pun, kalau dijemput anaknya. Mereka butuh tanda tangan Marhen untuk pencairan uang pensiun. Setelah itu, Marhen diacuhkan lagi.

Kadang, Zulham, tetangganya, datang berkunjung. Mereka duduk di bangku bambu, ditemani secangkir kopi dan singkong rebus hasil ladang di pondok.

Angin sore berhembus lembut, membawa suara jangkrik bersahutan dari pematang.

“Dulu,” kata Marhen pelan, “setiap saya pulang kerja, anak-anak berebut buka sepatu.”

Ia menatap jauh ke arah ladang. Di langit yang berubah warna jingga, gerombolan burung terbang, pulang ke sarang setelah sejak pagi ditinggalkan mencari makan.

“Saya kira karena mereka sayang… ternyata karena tahu ada uang di kaki celana saya.”

Ia tersenyum getir sembari berdiri. Marhen melipat tangan di dada. Raut kecewa terbayang jelas di wajahnya yang sudah banyak kerutan dimakan usia.

“Saya bolongkan saku samping, biar uang langsung jatuh ke bawah. Mereka berebut mengambil. Waktu itu saya bangga. Sekarang saya tahu, bukan kasih sayang yang mereka cari.”

Zulham hanya diam. Kopi di tangannya mendingin, bersama udara senja yang mulai berat.


Beberapa bulan kemudian, Marhen tampak lebih cerah. Ia mendapat kabar bahwa anak dan istrinya mendaftarkannya berangkat umrah.

“Biar cuma umrah,” katanya lirih, “saya sudah bahagia. Kalau mati nanti pun saya ikhlas.”

Ia tidak tahu, biaya keberangkatannya berasal dari hasil menjual satu petak toko tanpa seizinnya. Tapi ia tak ingin tahu. “Asal bukan dari uang haram, saya rela,” ujarnya tulus.

Hari keberangkatan tiba. Marhen tampak gagah dalam balutan pakaian ihram. Wajahnya berseri. Matanya teduh seperti langit yang bersih sehabis hujan.

Suzana dan anak-anaknya mengantar ke bandara. “Kami doakan Papi sehat di sana, ya,” kata Suzana pelan.

Marhen tersenyum, menatap istri dan keempat putrinya penuh arti. “Papi sudah bahagia, kok.”

Sebelum naik ke pesawat, ia sempat menoleh. Tangannya terangkat tinggi, melambai panjang. Lambaian yang tenang, seolah berpamitan bukan hanya kepada keluarga, tapi juga kepada dunia.

Suzana menitikkan air mata. Entah kenapa dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang akan pergi untuk selamanya.

Pesawat mulai bergerak di landasan.
Anak dan istrinya masih melambaikan tangan di pagar kawat bandara. Melambaikan rindu yang terlambat.

Lalu, tiba-tiba dentuman keras mengguncang udara. Asap tebal membubung dari ujung landasan. Orang-orang menjerit. Ratna dan ketiga adiknya serempak berteriak histeris.

“Papiiiiii….!!!”

Pesawat yang ditumpangi Marhen meledak sebelum sempat tinggal landas.
Tak satu pun penumpang selamat.


Seminggu kemudian, pondok kecil itu masih berdiri di tengah ladang. Cangkul tua bersandar di dinding bambu.
Di atas meja kayu tak beralas, sebuah Al Quran lusuh terbuka di surat Yasin.

Di halaman, tanaman singkong dan cabai tumbuh hijau subur, seolah ikut mendoakan pemiliknya yang telah pergi dengan damai.

Zulham sering datang ke sana menjelang senja. Duduk di bangku bambu, menatap ladang yang sunyi.

Kadang, di sela hembusan angin sore, ia merasa mendengar suara lirih dari arah ladang:

“Biar cuma sekali… aku bisa pergi dengan bahagia.”

Dan di bawah langit jingga yang perlahan padam, Zulham tahu, lambaian itu bukan sekadar perpisahan, tapi doa terakhir seorang ayah yang akhirnya menemukan rumahnya sendiri: ketenangan. []

Sinopsis

Lambaian Terakhir Marhen: mengisahkan seorang pensiunan perwira yang hidup mapan namun terlupakan oleh keluarganya. Di tengah kesepian, ia menemukan ketenangan di ladang kecilnya. Hingga suatu hari, ia mendapat “kejutan” umrah dari keluarga yang selama ini mengabaikannya, perjalanan yang justru menjadi akhir hidupnya yang paling damai dan bermakna. *

Biodata Penulis

Hendri Parjiga mulai menulis cerpen, puisi, dan esai sejak duduk di bangku SMA. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal Sumatera Barat seperti Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Mingguan Canang. Seiring waktu, pria kelahiran Padang, 5 Februari ini terus mengasah kemampuannya hingga beberapa cerpennya menembus media ternama di Ibu Kota. Hanya saja, sejak berprofesi sebagai wartawan pada awal ’90-an, kesibukan sempat menjauhkan dirinya dari dunia sastra. Kini, semangat menulis cerpen kembali menyala dalam dirinya. *

Exit mobile version