Oleh: Nurul Jannah*)
Bulan Maulid datang lagi. Alhamdulillah.
Masjid-masjid dan mushala kembali dipenuhi shalawat. Majelis-majelis kembali semarak dan bercahaya. Nama Nabi Muhammad SAW menggema dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang datang membawa cinta, rindu, dan air mata.
Indah.
Namun di tengah semua kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang terasa menyesakkan dada:
Jika Rasulullah SAW hadir di tengah kita hari ini, akankah beliau menemukan jejak akhlaknya dalam keseharian kita?
Kita bershalawat untuk Nabi yang menjaga lisannya, tetapi betapa mudah lisan ini melukai.
Kita menangis mendengar kisah Nabi yang pemaaf, tetapi betapa lama kita mampu menyimpan dendam.
Kita memuji Nabi yang begitu lembut kepada keluarganya, tetapi terkadang justru orang-orang terdekat menerima ucapan paling keras dari lisan kita.
Kita mengenang Nabi yang merangkul kaum lemah, sementara kepentingan diri sendiri masih sering kita dahulukan.
Kita berdiri penuh haru ketika mahallul qiyam dilantunkan.
Namun setelah majelis selesai, apakah ego kita ikut duduk dan bersedia tunduk?
Barangkali, di situlah salah satu pertanyaan terpenting dari Maulid.
Sebab Nabi Muhammad SAW tidak diutus hanya agar namanya disebut.
Beliau diutus membawa risalah yang mengajarkan kita bagaimana hidup, mencintai, memaafkan, dan memuliakan sesama.
Beliau datang membawa cahaya di tengah zaman ketika nilai-nilai kemanusiaan membutuhkan tuntunan.
Ketika dihina, beliau tidak kehilangan kemuliaan.
Ketika disakiti, beliau tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Ketika memiliki kesempatan untuk membalas, beliau menunjukkan betapa agungnya memaafkan.
Ketika memiliki kedudukan yang tinggi, beliau tetap menjalani kehidupan dengan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Bahkan kepada umat yang hidup berabad-abad setelah beliau, risalah kasih sayang itu tetap sampai dan kita rasakan hingga hari ini.
Lalu, pantaskah kita begitu lantang mengaku mencintainya jika akhlaknya tidak sungguh-sungguh kita perjuangkan?
Maulid bukan tentang berlomba siapa yang paling meriah memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bukan pula semata-mata tentang seberapa sering lisan mengucapkan shalawat.
Sebab cinta yang sesungguhnya membutuhkan bukti.
Dan bukti itu hadir dalam perbuatan sehari-hari.
Bukti itu terlihat ketika kita memilih jujur meskipun ada kesempatan untuk berbohong.
Ketika memilih diam daripada mengucapkan kata-kata yang melukai.
Ketika meminta maaf meskipun harga diri dan gengsi terasa menahannya.
Ketika memaafkan meskipun luka belum sepenuhnya sembuh.
Ketika tangan kita ringan menolong mereka yang bahkan tidak mampu membalas kebaikan kita.
Dan ketika tidak seorang pun melihat, kita tetap menjaga amanah karena yakin Allah SWT tidak pernah luput melihat kita.
Di sanalah cinta kepada Nabi Muhammad SAW mulai menjelma menjadi akhlak.
Bulan ini adalah bulan yang mengingatkan kita pada kelahiran Sang Cahaya. Tetapi jangan hanya menyalakan lampu-lampu di masjid dan mushala.
Nyalakan pula cahaya itu di dalam hati dan kehidupan kita.
Biarkan kejujuran Rasulullah SAW menerangi pekerjaan kita.
Biarkan kelembutannya menghangatkan rumah kita.
Biarkan kesabarannya hadir dalam cara kita menjaga pernikahan dan keluarga.
Biarkan kasih sayangnya menyentuh tetangga, kaum lemah, dan siapa pun yang membutuhkan uluran tangan di sekitar kita.
Biarkan kerendahan hatinya menundukkan kesombongan yang diam-diam tumbuh ketika kita merasa lebih berilmu, lebih kaya, lebih berhasil, bahkan lebih saleh daripada orang lain.
Sebab mungkin salah satu kehilangan terbesar dalam peringatan Maulid bukan ketika kita tidak mampu membuat perayaan yang meriah.
Melainkan ketika nama Nabi Muhammad SAW ribuan kali kita sebut, tetapi akhlaknya tidak kita izinkan menyentuh dan mengubah hidup kita.
Kelak semua majelis akan selesai.
Lampu akan dipadamkan.
Karpet akan digulung.
Pengeras suara akan dimatikan.
Jamaah akan pulang.
Suara shalawat mungkin tak lagi terdengar dari pengeras suara.
Namun ada satu hal yang seharusnya tidak ikut padam:
Cinta kepada Rasulullah SAW yang tetap menyala di dalam hati.
Bawalah cinta itu pulang ke rumah.
Bawa ke tempat kerja.
Bawa ke jalan raya.
Bawa ke media sosial.
Bawa ke dalam cara kita memperlakukan pasangan, anak, orang tua, sahabat, bawahan, orang yang tidak kita kenal, bahkan mereka yang pernah melukai kita.
Jadikan dunia mengenal keindahan ajaran Nabi Muhammad SAW bukan hanya melalui buku-buku sirah yang kita baca, tetapi juga melalui akhlak yang orang lain temukan ketika berjumpa dengan kita.
MARHABAN, BULAN KELAHIRAN SANG CAHAYA.
Mari bershalawat sebanyak yang kita mampu.
Mari membiarkan mata basah karena rindu kepada beliau.
Namun setelah air mata itu mengering, mari berani bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang berubah dalam diriku setelah mengenal Nabi Muhammad SAW?”
Sebab kerinduan terindah kepada Rasulullah SAW bukan hanya ketika mata basah saat namanya disebut.
Kerinduan terindah adalah ketika hidup kita perlahan berubah karena ingin berjalan mengikuti jejak mulianya.
Dan barangkali, hadiah Maulid terindah yang dapat kita persembahkan bukanlah kemeriahan, melainkan satu keburukan dalam diri yang berani kita tinggalkan karena cinta kepada Rasulullah SAW.
Satu dendam yang akhirnya kita lepaskan.
Satu maaf yang akhirnya kita berikan.
Satu kebohongan yang kita hentikan.
Satu hati yang memilih tidak lagi kita sakiti.
Satu silaturahmi yang kita sambungkan kembali.
Satu kesombongan yang kita tundukkan.
Dan satu kebaikan yang mulai kita hidupkan.
Sebab boleh jadi, perubahan-perubahan kecil itulah yang kelak menjadi saksi bahwa Maulid tidak hanya pernah kita rayakan; tetapi benar-benar pernah mengubah kita.
Agar ketika kelak kita berharap dikumpulkan bersama Rasulullah SAW, kita tidak hanya datang membawa shalawat yang pernah terucap dari lisan, tetapi juga membawa jejak perjuangan dalam meneladani akhlaknya di sepanjang kehidupan kita.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad.
Semoga cinta itu tidak selesai ketika Maulid berakhir.
Semoga ia tetap menyala: hingga kelak mengantarkan kita kepada Sang Cahaya yang kita rindukan.
Jakarta, 24 Agustus 2026
Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi, Pemerhati Lingkungan*)






