Oleh: Teddy Chaniago*)
PERJALANAN waktu, membuat Malanca menjadi dekat dengan ketua gedang yang katanya benar-benar gedang, meski yang terlihat gedang hanya celana galembongnya saja.

Saking dekatnya dengan ketua gedang, Malanca diperjalankan ke Kota Bandung dengan judul acara study banding.
Malanca sebenarnya tak begitu paham arti study banding, yang ada dibenaknya berdasarkan kata orang – orang gedang di kedai Tek Upik tempo hari adalah makan enak, cuci mata dan dapat rimih pula.
Ternyata kata orang tersebut, Malanca berangkat dengan kapatabang meski orang menyebutnya pesawat. Lantas dilanjutkan dengan oto sedan bertuliskan TA kali Ciek.
Malanca yang masih terheran-heran, sampai jua di sebuah gaduang besar tinggi dan dingin didalamnya yang menurut Bujang Garembeh disebut hotel.
Puas benar-benar puas, bagaimana tidak, tidur nyenyak, makan lemak, bisa pula berenang meski hanya kecipak kecipuk di kolam renang yang baru kali ini dilihatnya.
Itu baru sekelumit cerita pembuka saja, yang menjadi perut terguncang hebat adalah saat Malanca duduk manis di sebuah cafe mungil yang berada di sebuah daerah ketinggian di ujung selatan kota tersebut.
Melihat pelayan resto yang imut, berkulit putih, seksi dan tak pula berjilbab. Membuat jakun Malanca turun naik bak melihat ayam goreng tengah hari di bulan puasa.
”Apa menu yang jadi rekomendasi di lepau ini Pik?,” Malanca bertanya pada waiters resto tersebut yang dia lupa kalau pelayannya bukanlah Piak Amba, urang Baliak Bukik.
”Kasava,” jawab waiters manis sambil mengeluarkan daftar menunya meski masih heran saat dia dipanggil Upik.
”Saya pesan itu,” Malanca menjawab cepat.
Sampai di sini, semua berlangsung normal dan biasa saja. Bahkan tak ada intrik sama sekali.
Namun, saat kasava diantarkan kehadapannya, Malanca bingung karena tak pernah merasa memesannya.
”Ini pesanan Bapak,” kata sang waiters sambil meletakkan seporsi singkong rebus didepannya.
”Ini apa? Saya tak memesan ubi abuih ini sama sekali,” Malanca menjawab dan memandang heran sang pelayan dengan tensi yang agak meninggi.
”Bapak lupa ya,” waiters masih menjawab ramah.
”Saya pesan itu, camilan yang rekomended di lepau ini,” Malanca menjawab dengan mimik serius yang tak dibuat-buat sama sekali.
”Iya Pak, ini yang rekomended. Namanya Kasava,” balas pelayanan masih dengan penuh kesabaran.
”Saya pesan Kasava, ini yang diantar ubi abuih,” Malanca kembali menjawab tak habis pikir
”Pak, Kasava itu memang terbuat dari singkong,” waiters menjawab dengan senyum tipis.
”O, Kasava itu singkong,” barulah Malanca mengerti kalau Kasiva itu, di kampungnya disebut ubi abuih.
”Kasiva itu bahannya dari singkong Thailand,” jelas waiters sambil berlalu sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah pelayan berlalu, Bujang Garembeh , Buyuang Aman dan Malanca tergelak ngakak, karena ternyata Malanca dan pelayan berdebat tentang sebuah objek yang sama dengan sebutan berbeda.
”Bikin bingung saja, nama diganti-ganti. Kalau ubi abuih ya ubi abuih saja,” kata Bujang Garembeh tertawa keras sampai tak bisa menahan kentut.
”Betul ketua, saya merantau karena sudah bosan makan ubi abuih. Eh di Bandung dipesan Kasiva agar modern sedikit, eh yang diantar tetap saja ubi abuih,” tambah Buyuang Aman dengan tawa tak kalah keras.
”Disangka kita susah hebat, eh masuk perangkap juga di kampung orang,” Malanca menambahkan sambil memasukkan potongan ubi abuih eh Kasiva tersebut kemulutnya.[]
Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)
