Oleh: Nurul Jannah Alhasymy*)
(Episode 2)
Bersabarlah ketika tangan ini mulai gemetar.
Anakku sayang,
Kali ini Ayah hanya meminta satu hal: jangan terlalu cepat pergi.
Ayah tahu kau sudah dewasa.
Duniamu semakin luas. Ada pekerjaan, keluarga, cita-cita, dan banyak urusan yang memanggil namamu.
Pergilah. Kejarlah hidupmu.
Ayah tidak ingin menjadi alasan langkahmu berhenti.
Tetapi sesekali, pulanglah…
Ayah hanya ingin mendengar pintu terbuka, lalu suara langkah yang sejak kecil sudah Ayah hafal.
Dulu, ketika kau belum pulang, Ayah menunggu karena khawatir.
Kini, Ayah menunggu karena rindu.
Dan ternyata, menunggu anak pulang pada usia senja terasa jauh lebih panjang. Karena Ayah sadar; waktu kita bersama justru semakin pendek.
Anakku,
Di usiamu sekarang, kau sedang mengejar kehidupan.
Di usia Ayah kini, Ayah sedang belajar melepaskannya.
Kau menghitung berapa banyak waktu yang kau punya untuk mengejar impian.
Ayah menghitung berapa kali lagi kita masih sempat duduk bersama.
Kadang kau berkata,
“Nanti ya, Ayah. Aku sedang sibuk.”
Ayah mengerti. Ayah selalu berusaha mengerti.
Tetapi setelah telepon ditutup, Ayah menatap layar yang telah gelap sedikit lebih lama.
Bukan karena marah, apalagi kecewa.
Hanya ada rindu yang tidak tahu harus mengetuk pintu siapa.
Jika suatu hari kau mengingat kesalahan Ayah, maafkanlah.
Ayah tidak selalu benar.
Ada kata yang pernah melukaimu.
Ada kemarahan yang seharusnya tidak terjadi.
Ada keputusan yang Ayah kira terbaik, tetapi diam-diam membuatmu menangis.
Ada saat Ayah terlalu keras karena takut kau salah jalan.
Ada pula saat Ayah terlalu sibuk mencari nafkah, hingga lupa bahwa anaknya tidak selalu membutuhkan uang; kadang ia hanya membutuhkan Ayahnya pulang lebih cepat.
Maafkan Ayah.
Menjadi ayah ternyata tidak pernah datang bersama buku petunjuk.
Ayah belajar menjadi ayah ketika kau belajar menjadi anak.
Kadang Ayah berhasil. Kadang Ayah gagal.
Kadang Ayah ingin melindungimu, tetapi caranya justru melukaimu.
Namun percayalah; cara Ayah mencintaimu memang tidak sempurna, tetapi cinta itu tidak pernah setengah-setengah.
Kelak, ketika wajah Ayah dipenuhi keriput, jangan hanya melihat lelaki tua yang berjalan semakin pelan.
Lihatlah lebih dalam.
Di balik wajah tua itu pernah ada lelaki muda yang berlari mencari obat ketika tubuhmu demam.
Pernah ada lelaki muda yang diam-diam menghitung biaya sekolahmu.
Pernah ada lelaki muda yang berkali-kali dihantam dunia, tetapi pulang dengan senyum agar anaknya percaya bahwa rumah masih baik-baik saja.
Barangkali kau jarang melihat Ayah menangis. Bukan karena Ayah tidak pernah menangis.
Ayah hanya belajar meletakkan air mata di tempat yang tidak dapat kau lihat.
Sebab ketika kau memandang Ayah, Ayah ingin kau percaya bahwa selama Ayah masih berdiri, kau masih punya tempat nyaman untuk pulang.
Anakku,
Jika kelak Ayah semakin banyak diam, duduklah sebentar di sampingnya.
Tidak perlu percakapan besar. Ceritakan harimu. Tentang pekerjaan. Tentang anak-anakmu. Tentang hujan di perjalanan.
Tentang apa saja.
Sebab pada usia tertentu, bahagia tidak lagi membutuhkan banyak hal.
Anak pulang. Duduk di sebelah. Dan tidak tergesa-gesa melihat jam, adalah segalanya.
Jika Ayah memandang wajahmu agak lama, jangan bertanya mengapa.
Biarkan.
Ayah sedang menghafal wajah yang paling tidak ingin dilupakannya.
Sebab Ayah semakin sadar bahwa waktu tidak lagi sepanjang dahulu.
Anakku sayang,
Jangan menunggu Ayah sakit untuk menyediakan waktu. Jangan menunggu langkahnya berhenti untuk berjalan di sampingnya. Jangan menunggu suaranya hilang untuk merindukan nasihatnya.
Dan jangan menunggu kursinya kosong untuk menyadari betapa berharganya orang yang selama ini duduk di sana.
Sebab kehilangan mempunyai cara paling kejam. Ia membuat hal-hal yang dahulu terasa biasa menjadi hal yang paling ingin diulang.
Kelak kau bisa saja merindukan suara batuk Ayah dari kamar sebelah.
Pertanyaan-pertanyaan yang sama. Nasihat-nasihatnya yang panjang. Bahkan tegurannya yang dulu selalu membuatmu kesal.
Tetapi rumah tidak lagi menjawab.
Yang tersisa hanya kursi kosong. Beberapa benda. Kenangan. Dan rindu yang tidak lagi mempunyai tubuh untuk dipeluk.
Anakku…
Ayah pernah berada di sampingmu ketika kau pertama kali membuka mata.
Tubuhmu begitu kecil. Ayah menggendongmu dengan tangan gemetar karena takut menyakitimu.
Ayah melihatmu belajar duduk. Berdiri. Berjalan. Lalu berlari.
Sampai suatu hari, langkah kecil yang dahulu selalu mencari Ayah itu tumbuh dewasa dan berjalan menuju dunianya sendiri.
Ayah bahagia. Sebab tugas ayah bukan membuat anaknya terus bergantung kepadanya.
Tugas Ayah adalah membuat anakmu cukup kuat untuk tetap berjalan ketika kelak Ayah tidak lagi bisa berjalan di sampingmu.
Tetapi Ayah punya satu permintaan.
Kelak, ketika kaki ini tak lagi kuat melangkah, ketika mata semakin berat terbuka, ketika suara Ayah tinggal bisikan, dan ketika perjalanan ini benar-benar sampai di ujungnya, jangan biarkan Ayah pulang sendirian.
Jika Allah mengizinkan, duduklah di samping Ayah.
Genggam tangan yang dahulu menggenggam tangan kecilmu ketika belajar berjalan.
Bacakan doa. Bisikkan kalimat-kalimat baik. Tidak perlu meminta Ayah bertahan lebih lama.
Setiap yang datang, pada waktunya memang harus pulang.
Cukup genggam tangan Ayah dan katakan,
“Ayah… tenanglah. Aku di sini.”
Barangkali setelah seumur hidup berusaha membuatmu merasa aman, pada detik-detik terakhir itu Ayah hanya ingin merasakan hal yang sama: aman karena anaknya ada di sisinya.
Dahulu, ketika kau lahir, Ayah menyambut tangan kecilmu memasuki dunia.
Kelak, ketika waktunya tiba, genggamlah tangan Ayah saat ia harus meninggalkannya.
Dan setelah Ayah pergi, jangan menangis terlalu lama.
Jalani hidupmu. Sayangi keluargamu. Jaga silaturahmi.
Jadilah orang baik, bahkan ketika tidak ada lagi suara Ayah yang mengingatkan.
Dan jika suatu malam rindu datang begitu kuat, jangan mencari Ayah di kursi kosong itu.
Kirimkan doa.
Sebab setelah kematian memisahkan dua tangan yang dahulu saling menggenggam, masih ada satu yang tidak kehilangan alamat, yaitu doa.
Ia tahu jalan pulang. Ia tahu kepada siapa harus sampai.
Selamat menjalani hidup, Anakku.
Ayah pernah menemanimu ketika kau datang ke dunia.
Jika waktunya tiba, temani Ayah ketika pulang.
Barangkali, setelah seumur hidup menjadi tempat anaknya pulang, seorang ayah hanya menginginkan satu hal di penghujung perjalanan. Anaknya ada di sana; menggenggam tangannya, ketika akhirnya giliran Ayah yang harus pulang. ❤️
Jakarta, 5 Oktober 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan
