Qana’ah, Mental Orang Kaya

Oleh : Ustad Islami, SH. *)

Ada orang yang hartanya banyak, tetapi hidupnya selalu merasa kurang. Rumahnya besar, kendaraannya bagus, penghasilannya tinggi, tetapi hatinya gelisah.

Sebaliknya, ada orang yang sederhana, hartanya tidak seberapa, tetapi wajahnya tenang, hidupnya damai, dan hatinya penuh syukur.

Apa yang membedakan mereka?
Bukan jumlah hartanya, tetapi keadaan hatinya. Inilah yang disebut qana’ah.

Qana’ah bukan berarti malas bekerja. Bukan berarti menerima kemiskinan tanpa usaha. Qana’ah adalah merasa cukup terhadap rezeki yang Allah berikan setelah kita berusaha maksimal, sambil tetap bersyukur.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menyebut bahwa qana’ah itu sebagai keberuntungan.

Baca Juga :  Porprov XVI Catur Dimulai di Pessel, Reido Dorong Lahirnya Atlet Sumbar Berprestasi

Sebab orang yang tidak qana’ah, sebanyak apa pun hartanya, tetap merasa miskin.

Hari ini punya satu juta, ingin sepuluh juta. Sudah sepuluh juta, ingin seratus juta. Sudah punya rumah, ingin rumah yang lebih besar. Sudah punya kendaraan, ingin yang lebih mewah.

Masalahnya bukan pada harta yang sedikit, tetapi pada keinginan yang tidak pernah sedikit.

Orang kaya yang sesungguhnya bukanlah orang yang memiliki segalanya, tetapi orang yang tidak merasa kehilangan kebahagiaan hanya karena tidak memiliki segalanya.

Ukuran kekayaan bukan dari saldo rekening. Karena ada orang yang rekeningnya besar tetapi hatinya miskin.

Baca Juga :  Di Tengah Kesibukan, Warga Manfaatkan PELATARAN untuk Urusan Pertanahan saat Akhir Pekan

Ada pula yang hartanya sederhana, tetapi hatinya kaya karena selalu berkata, “Alhamdulillah… ini sudah cukup. Allah masih memberi saya kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, dan kehidupan.”

Itulah kekayaan yang sebenarnya.

Kita boleh memiliki dunia di tangan, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati kita.
Karena pada akhirnya, orang yang paling kaya bukan yang paling banyak memiliki, tetapi orang yang paling sedikit membutuhkan selain Allah.

Mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hidup dengan qana’ah.
Mengejar rezeki, tetapi tidak mengejar gengsi.
Menikmati nikmat, tetapi tidak diperbudak nikmat.

Sebab kaya itu bukan ketika kita memiliki banyak, tetapi ketika hati kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dan itulah mental orang kaya.

Baca Juga :  Fisipol Festival 2026 Resmi Dibuka, Rektor UNES: Jadilah Generasi yang Cerdas dan Bermartabat

Allaahu a’lam wabaarakallaah []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *