Ini Pun akan Berlalu

Oleh: Nurul Jannah*)

Hari ini kita menggenggam tangan orang yang kita cintai. Esok, boleh jadi tangan itu hanya bisa kita rindukan.

Hari ini kita tertawa bersama. Esok, kursi di sebelah kita bisa kosong untuk selamanya.

Begitulah kehidupan.

Tidak ada yang benar-benar menetap. Bahkan waktu yang terasa begitu panjang diam-diam sedang mengantarkan kita menuju perpisahan.

Ini pun akan berlalu.

Empat kata sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang begitu dalam.

Ketika hidup terasa indah, ingatlah bahwa kebahagiaan tidak selamanya tinggal. Ketika kesedihan menghimpit dada, percayalah bahwa air mata pun memiliki waktunya untuk berhenti mengalir.

Ada masa kita sehat, bebas melangkah ke mana saja. Lalu datang sakit yang membuat kita menyadari betapa berharganya satu tarikan napas tanpa rasa nyeri. Ada masa kita terbaring lemah, kemudian Allah SWT menghadirkan kesembuhan yang membuat kita kembali bersujud penuh syukur.

Ini pun akan berlalu.

Ada hari ketika rezeki mengalir, urusan terasa mudah, dan doa-doa menemukan jawabannya. Namun, ada pula masa ketika pintu demi pintu terasa tertutup, harapan tertunda, dan kita menangis diam-diam dalam sujud yang panjang.

Baca Juga :  Bank Sampah

Jangan sombong ketika hidup sedang memanjakan. Jangan menyerah ketika kesulitan datang menguji. Sebab, Allah SWT telah mengingatkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.

Namun, dari seluruh pergantian itu, yang paling menggetarkan adalah kebersamaan yang berubah menjadi perpisahan.

Dahulu, ada suara yang setiap hari kita dengar. Ada wajah yang menyambut, tangan yang menggenggam, dan tawa yang memenuhi rumah. Lalu suatu hari, semuanya berubah. Yang tersisa hanya foto, kenangan, dan nama yang kita sebut dengan suara bergetar dalam doa.

Betapa sering kita menunda meminta maaf, menahan ucapan sayang, dan membiarkan persoalan kecil merampas kehangatan. Kita mengira masih memiliki banyak waktu. Padahal, tidak ada jaminan bahwa esok kita masih dapat saling menyapa.

Hidup pun akan berlalu. Kematian akan datang tanpa menunggu kita menyelesaikan seluruh urusan, memperbaiki semua kesalahan, atau memeluk orang-orang yang pernah kita lukai.

Maka, selagi sehat, syukurilah. Selagi bersama, sayangilah. Ketika bahagia, rendah hatilah. Saat berduka, bersabarlah. Dalam kemudahan, jangan lupakan Allah. Dalam kesulitan, jangan kehilangan keyakinan kepada-Nya.

Baca Juga :  1.059 Kader Dasawisma Terima Uang Transportasi Semester I Tahun 2026

Jangan terlalu lama menyimpan amarah. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran.

Sebab, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan bukan selalu kepergiannya, melainkan penyesalan atas cinta yang terlambat diungkapkan dan maaf yang tak sempat disampaikan.

Pada akhirnya, semua akan berlalu. Usia, kecantikan, kekuatan, jabatan, harta, bahkan suara kita yang dahulu begitu akrab di telinga orang-orang tercinta.

Yang tertinggal adalah jejak kebaikan, doa, dan kenangan tentang bagaimana kita memperlakukan mereka.

Hari ini pun akan berlalu.

Orang-orang yang kita cintai sedang menua. Dan kesempatan untuk membahagiakan mereka tidak sedang bertambah, melainkan terus berkurang.

Maka, jangan tunggu rumah menjadi sunyi untuk merindukan suara yang dahulu kita abaikan. Jangan tunggu tangan menjadi dingin untuk menyesali pelukan yang tak pernah kita berikan. Jangan tunggu nama berubah menjadi tulisan di batu nisan untuk mengucapkan betapa berharganya ia dalam kehidupan.

Sebab, kelak bukan hanya orang-orang yang kita cintai yang akan pergi. Kita pun akan menyusul.

Baca Juga :  98 Tahun Sumpah Pemuda Membara, Wali Kota Ajak Pemuda Jadi Motor Era Baru Sawahlunto Maju

Dan ketika saat itu tiba, tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kata-kata yang melukai, mengembalikan waktu yang terbuang, atau mengulang hari yang telah berlalu.

Sebelum kita menangisi kepergian orang lain, ingatlah: boleh jadi justru kitalah yang lebih dahulu ditangisi.

Ini pun akan berlalu. Termasuk hari ini. Termasuk kita.❤️

Bogor, 28 Oktober 2026

Nurul Jannah adalah dosen Sekolah Vokasi IPB University, pemerhati lingkungan, penulis, dan auditor lingkungan hidup. Menyelesaikan pendidikan doktoral di Hiroshima University, Jepang, ia memiliki keahlian dalam audit lingkungan, Life Cycle Assessment (LCA), Program Peringkat Kinerja Lingkungan (PROPER), Corporate Sosial Responsibility (CSR) dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *