Catatan Budaya: Pinto Janir
Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan anggota SATUPENA Sumbar yang telah mengusulkan nama saya sebagai salah seorang dari sembilan calon Ketua SATUPENA Sumbar yang akan bermusyawarah pada 1 November 2026.
Sembilan nama yang diusulkan itu adalah Pinto Janir, Yurnaldi, Armaidi Tanjung, Dilla, Hasanuddin, Leni Marlina, Ranti Arastri, Rita Novita, dan Yozarwadi Usama Putra.
Angka sembilan memiliki sejumlah catatan penting dalam sejarah, tradisi, dan penyebutan dalam Islam. Bulan Ramadan, misalnya, merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan yang penuh berkah dan di dalamnya diwajibkan ibadah puasa.
Asmaul Husna dikenal terdiri atas 99 nama. Angka sembilan juga muncul dalam sejumlah kisah Al-Qur’an. Di antaranya, Surat Al-Isra’ ayat 101 yang menyebut sembilan tanda yang diberikan kepada Nabi Musa AS.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 25, terdapat kisah Ashabul Kahfi yang tinggal di dalam gua selama 300 tahun ditambah sembilan tahun, atau 309 tahun menurut perhitungan qamariah.
Sementara itu, Surat An-Naml ayat 12 berkaitan dengan tanda-tanda yang diberikan kepada Nabi Musa, sedangkan ayat 48 menyebut sembilan orang yang berbuat kerusakan di tengah kaum Tsamud.
Ayo, kita melakukan “Jihad Literasi”, sebuah gerakan yang meniupkan semangat dakwah bagi kehidupan yang adil, taat, harmonis, sejahtera, cerdas, dan beradab, menuju kebahagiaan yang abadi.
Ya, dalam sejarah Islam di Indonesia, angka sembilan sangat lekat dengan Wali Songo, sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Dalam percakapan ekonomi Indonesia, kita juga mengenal istilah Sembilan Naga, yang kerap dikaitkan dengan pengaruh besar dalam sejumlah sektor strategis perekonomian.
Dalam kajian filsafat numerik yang bersentuhan dengan Feng Shui, metafisika Tiongkok, simbolisme angka, dan perjalanan peradaban manusia, angka sembilan kerap dimaknai sebagai lambang puncak, kematangan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan penyelesaian.
Tentu saja, angka hanyalah lambang. Namun, lambang kadang-kadang dapat menjadi pintu masuk untuk membaca sesuatu yang lebih luas daripada dirinya sendiri.
Maka, saya berharap Ketua SATUPENA Sumbar ke depan adalah sosok yang matang. Matang dalam pikiran, matang dalam pelaksanaan, mencerahkan dalam gagasan, serta bijaksana dalam bersikap dan menyelesaikan persoalan.
Dalam kosmologi Yin-Yang, angka ganjil kerap dikaitkan dengan Yang, yakni energi aktif, maskulin, ekspansif, dan bergerak. Dalam pemaknaan simbolis seperti itu, literasi pun dapat dibaca sebagai energi aktif. Literasi adalah pergerakan.
Ketua SATUPENA ke depan harus memiliki watak ekspansif. Artinya, memiliki kecenderungan untuk berkembang, meluas, dan bergerak keluar dari batas-batas sebelumnya.
Ekspansif menggambarkan keinginan untuk maju, keberanian mengambil inisiatif, dorongan untuk memimpin dan memengaruhi, kemampuan memperluas jangkauan, serta semangat menciptakan sesuatu yang lebih besar.
SATUPENA Sumbar akan tumbuh menjadi organisasi yang kuat dalam cita-cita literasi apabila dipimpin oleh sosok yang tidak gemar diam. Ia harus selalu ingin bergerak, tumbuh, dan menjangkau ruang yang lebih luas.
Kemudian, ya, maskulin.
Maskulin di sini bukan semata-mata berarti laki-laki atau sifat biologis seorang pria. Maskulin adalah simbol energi yang aktif dan dinamis; tegas dalam mengambil keputusan, berani menghadapi tantangan, melindungi dan membangun, serta memiliki daya dorong, kepemimpinan, dan keteguhan atau istiqamah.
Ada sembilan nama yang akan mengikuti pemilihan Ketua SATUPENA. Di luar nama saya, ada delapan nama: Yurnaldi, Leni Marlina, Armaidi Tanjung, Dilla, Hasanuddin, Ranti Arastri, Rita Novita, dan Yozarwadi Usama Putra.
Sebelum menakar-nakar siapa calon ketua yang tepat menurut pikiran saya,tentu saja di luar nama saya sendiri, izinkan saya terlebih dahulu menakar siapa sosok sekretaris yang tepat. Sebab, sekretaris merupakan salah satu kekuatan penting yang menentukan kelancaran perjalanan organisasi.
Mengapa begitu?
Organisasi membutuhkan sekretaris yang terampil. Bukan sekretaris yang semata-mata bertugas mencatat rapat, membuat surat, menyimpan dokumen, atau mengurus administrasi. Lebih dari itu, sekretaris merupakan salah satu poros yang menjaga agar organisasi tetap tertib, terarah, terhubung, dan mampu bergerak secara berkesinambungan.
Dalam perspektif manajemen organisasi, sekretaris adalah posisi strategis. Ia bekerja di antara gagasan, keputusan, kepemimpinan, dan pelaksanaan program. Pikiran boleh lahir dari mana saja, keputusan boleh ditetapkan bersama, tetapi sekretariatlah yang ikut memastikan agar semuanya berjalan dengan tertib dan terukur.
Kalau saya diminta memilih, saya akan memilih Armaidi Tanjung sebagai Sekretaris SATUPENA Sumbar. Kawan yang sudah saya kenal sejak 1986 ini, dalam urusan kesekretariatan, sudah sangat teruji. Ia sosok yang tekun dan taat pada pekerjaan. Selain itu, ia santun dan tidak banyak bicara.
Siapa pun ketuanya kelak, menurut pendapat saya, sekretarisnya tetap Armaidi.
Begini, kawan. Ada orang yang tepat duduk sebagai ketua atau pemimpin. Namun, jangan salah, ada pula orang yang tepat dan pas menjadi sekretaris. Tidak semua orang harus berada di depan. Setiap orang memiliki tempat dan kekuatan masing-masing dalam sebuah organisasi.
Sekarang, mari kita masuk ke soal siapa calon yang tepat menjadi Ketua SATUPENA Sumbar menurut “Pikiran Pinto”.
Baiklah. Saya mengenal sosok Yurnaldi sudah sejak bertahun-tahun silam, tepatnya sejak 1989. Ketika itu saya menjadi redaktur di Mingguan Canang, sementara Yurnaldi merupakan salah seorang koresponden sebuah surat kabar, sebelum kemudian bergabung dengan Kompas.
Walaupun sejak beberapa tahun terakhir saya menetap di Jakarta, hubungan kami tetap terjaga. Komunikasi tak pernah putus. Saya sering membakar semangat Yurnaldi.
“Ayo, Da. Ayo, semangat. Teruslah turun ke sekolah-sekolah, memberi pencerahan di ruang literasi.”
Secara pribadi, saya juga telah turun ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus, bahkan masuk dari nagari ke nagari, mengembangkan semangat literasi melalui berbagai program. Mulai dari pelatihan menulis, jurnalistik sekolah dan kampus, kepenulisan kreatif, hingga menjadi motivator bagi kaum muda untuk menggerakkan semangat membaca dan menulis agar tumbuh menjadi insan yang kreatif dan inovatif. Kegiatan semacam ini telah saya laksanakan sejak 1989 hingga sekarang.
Oh, ya….
Yurnaldi sering berkunjung ke Kantor Redaksi Mingguan Canang . Ia berkawan dengan dua redaktur Mingguan Canang lainnya, yakni Bang Harris Effendi Thahar dan Alwi Karmena. Dua abang kita ini adalah sastrawan, wartawan, aktor, sekaligus penyair. Pokoknya, Bang Harris dan Bang Alwi merupakan dua sosok yang ikut mewarnai dunia pikiran, jurnalistik dan sastra kita.
Kami bertiga sering maota-ota. Yang kami perbincangkan tidak jauh-jauh dari dunia jurnalistik, kebudayaan, peradaban, dan pikiran. Berat memang!
Yurnaldi, di mata saya, adalah lakon tanang yang kritis dan lihai menulis berita. Dalam dunia kewartawanan dan kepengarangan, keterampilan penulis buku Wartawan Hebat ini tidak mudah diagak. Saya, Bang Harris, Bang Alwi, dan Yurnaldi juga sama-sama penyair.
Yurnaldi patut menjadi Ketua SATUPENA Sumbar.
Bagaimana dengan yang lain?
Saya menjagokan Leni Marlina. Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ini gemar menulis dan telah melahirkan sejumlah karya buku. Ia cakap, pintar, memiliki jiwa kepemimpinan, serta berpandangan ke depan dan inovatif dalam berkreasi. Leni Marlina pantas menjadi Ketua SATUPENA Sumbar.
Leni Marlina adalah seorang dosen yang gemar menulis puisi. Kelebihannya terletak pada kecakapannya menerjemahkan puisi berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Ia juga memiliki jejaring pertemanan internasional. Keyakinan saya, Leni akan mampu “menduniakan” karya sastra SATUPENA Sumbar.
Bila Yurnaldi dan Leni dipadukan, keduanya dapat saling melengkapi. Masing-masing memiliki pengalaman dan kekuatan yang dapat memberi warna bagi perjalanan organisasi. Yurnaldi mengakar, sementara Leni Marlina mendunia.
Dengan demikian, ada tiga serangkai kekuatan yang dapat membawa pembaruan dan harapan bagi pengembangan dunia pikiran di Rumah Gadang SATUPENA Sumbar: Yurnaldi, Leni Marlina, dan Armaidi Tanjung.
Namun, siapa pun yang kelak menjadi ketua, ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab.
Bagaimana visinya terhadap masa depan organisasi? Bagaimana membangun jaringan penulis? Bagaimana mengembangkan literasi digital? Bagaimana mempertemukan penulis senior dengan generasi muda? Bagaimana memperkuat posisi SATUPENA Sumbar di tengah kehidupan kebudayaan daerah?
Lebih jauh lagi, bagaimana tugas-tugas pemikiran seorang ketua dalam menggagas, mendorong, dan menciptakan daya pikir untuk membangun literasi di kota, kabupaten, dan provinsi? Bagaimana menjadikan kota, kabupaten, dan provinsi benar-benar tumbuh sebagai ruang literasi yang kreatif?
Dalam hal ini, ketua dan seluruh jajaran pengurus SATUPENA harus mampu menjadi semacam konsultan literasi bagi para kepala daerah. Mereka dapat menawarkan gagasan-gagasan terprogram sehingga gerakan literasi tidak hanya menjadi penyelenggara kegiatan, tetapi menjelma menjadi gerakan yang berkelanjutan, membumi, dan mengakar dalam ranah kebudayaan.
Perspektif pikiran saya sederhana: SATUPENA Sumbar jangan sampai hanya menjadi organisasi yang sibuk menyelenggarakan kegiatan. Pertemuan, diskusi, peluncuran buku, dan berbagai kegiatan seremonial memang penting. Akan tetapi, semua itu belum cukup.
Organisasi penulis harus memiliki kemampuan memproduksi pemikiran dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Harus mewarnai, bukan sekadar diwarnai.
Ingat, SATUPENA jangan terjebak menjadi semacam event organizer (EO) atau penyelenggara acara semata. Ia adalah penyelenggara pikiran nan membumi dan membudaya.
Walau begitu, saya melihat setidaknya ada enam arah yang semestinya mulai dipikirkan.
Pertama, SATUPENA Sumbar sebagai Rumah Gadang Penulis.
Ia harus menjadi ruang berhimpun bagi penulis lintas generasi, genre, profesi, dan latar belakang pemikiran. Rumah yang lapang, tempat setiap orang dapat datang, bertukar pikiran, dan merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Kedua, sebagai Pusat Dokumentasi Literasi.
SATUPENA perlu membangun pangkalan data penulis, karya, sejarah sastra, dan perjalanan intelektual Sumatera Barat. Sebab, sebuah peradaban tidak cukup hanya melahirkan karya. Ia juga harus merawat ingatan dan mendokumentasikan jejaknya.
Ketiga, sebagai Laboratorium Gagasan.
Organisasi ini perlu menyelenggarakan diskusi yang melahirkan pemikiran, bukan sekadar pertemuan yang menghasilkan dokumentasi foto. Gagasan harus dibicarakan, diuji, dikembangkan, dan, jika mungkin, diwujudkan.
Keempat, sebagai Pusat Regenerasi Penulis.
SATUPENA harus menghubungkan penulis senior dengan penulis muda melalui pendampingan, kelas kreatif, dan penerbitan. Pengetahuan dan pengalaman tidak boleh berhenti pada satu generasi. Ia harus berpindah, tumbuh, dan diwariskan.
Kelima, sebagai Jembatan Kebudayaan.
SATUPENA perlu menghubungkan dunia sastra dengan pendidikan, pemerintahan, perguruan tinggi, media, dan komunitas kebudayaan. Sastra tidak boleh asyik hidup sendirian di dalam ruangnya sendiri. Ia harus bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Keenam, sebagai Rumah Advokasi Penulis.
Organisasi ini harus ikut memperjuangkan penghargaan terhadap profesi penulis, perlindungan hak cipta, kesejahteraan, dan kebebasan berekspresi. Penulis bukan hanya orang yang menghasilkan tulisan. Ia juga warga kebudayaan yang memiliki hak dan martabat.
Jika keenam hal ini dapat dijalankan, SATUPENA Sumbar akan memiliki identitas dan relevansi sosial yang kuat.
Ketua boleh berganti. Sekretaris pun demikian. Pengurus pun boleh datang silih berganti.
Tetapi arah pemikiran organisasi tidak boleh berubah hanya karena pergantian orang.
Di sinilah pentingnya sebuah gagasan yang saya sebut Gerakan Peradaban.
Olala, begini saja….
Lalu, SATUPENA Sumbar mau memilih siapa? Kita tunggu saja hasilnya pada tanggal sembilan itu.
Lalu, bagaimana dengan saya?
Bagi saya, untuk menyampaikan pikiran tidak harus menjadi ketua. Gerakan saya adalah Gerakan Peradaban: merawatnya, mengembangkannya, dan mewariskannya sampai kepada anak cucu kita kelak.
Saya cukup membisik-bisikkan gagasan ke telinga para pemimpin. Itu tugas saya. Bukan menjadi ketua!
Olala, tunggu tulisan saya berikutnya: “SATUPENA Sumbar Mau ke Mana?” Tulisan ini akan saya hadiahkan kelak kepada “Sang Ketua” terpilih. Harapan saya, kado berupa tulisan ini dapat menjadi salah satu pedoman untuk merumuskan program yang membumi dan berkelanjutan, bukan program sesaat.
Tentu saja, sebuah tulisan yang sarat dengan visi dan gagasan.
Jakarta, 30 Oktober 2026
