Penulis: Agler Zeroun Mutazam*)
Perkenalkan, namaku Agler. Aku anak terakhir dari empat bersaudara. Aku punya tiga kakak. Cita-citaku ingin menjadi pemain sepak bola profesional. Saat ini aku duduk di bangku kelas 7.4 di SMPN 2 Bukittinggi, dengan wali kelas kami yang sangat baik hati, Buk Dila.
Pada suatu sore, saat aku berjalan pulang lewat sebuah gang sempit di Bukittinggi, tiba-tiba aku mendengar suara lirih memanggil namaku dari belakang.
“Agler… Agler… sini nak…”
Di dalam ruangan itu, di atas kain usang, melayang empat buah bola bercahaya yang sangat indah. Bola-bola itu bersinar dengan warna yang berbeda: Kuning yang berkilau seperti matahari, Biru yang tenang seperti lautan, Pink yang lembut seperti bunga, dan Merah yang menyala seperti api.
“Anak baik,” kata kakek itu, “Pilihlah satu bola. Setiap bola memiliki kekuatan rahasia takdirnya sendiri.”
Aku bingung. Kuning terlihat hebat, merah terlihat kuat. Tapi entah kenapa, mataku terus tertuju pada bola biru. Warnanya mengingatkanku pada cita-citaku, pada lapangan sepak bola dan langit yang luas.
“Saya pilih yang biru, Kek,” jawabku mantap.
Kakek itu tersenyum misterius. Aku bertanya, “Apa kekuatan bola biru ini, Kek?”
Kakek itu hanya menggeleng dan berkata, “Kamu akan tahu besok pagi, saat matahari terbit. Pulanglah dan jagalah baik-baik.”
Aku pun membawa bola biru itu pulang. Kugenggam erat sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, aku langsung tertidur dengan bola itu di samping tempat tidurku.
Keajaiban terjadi!
Aku menoleh. Seorang kakek tua dengan janggut putih dan memakai peci hitam berdiri di depan pintu kayu yang sudah lapuk. Dengan tatapan ramah, ia menarik tanganku pelan masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang penuh cahaya.
Keesokan paginya, aku terbangun bukan karena ayam berkokok, tapi karena sinar matahari yang masuk dari jendela yang sangat besar. Aku kaget! Ini bukan kamarku! Kamar ini sangat luas, indah, dan mewah. Selimutku lembut, lemari pakaianku penuh dengan seragam baru dan sepatu bola impianku!
Aku lari keluar kamar. Rumahku yang dulu sederhana, kini telah berubah menjadi rumah megah yang sangat cantik dengan taman bunga di sekelilingnya. Ibu, ayah, dan ketiga kakakku sudah ada di ruang makan yang besar, dengan wajah bahagia dan terpukau sama sepertiku.
Bola biru di tanganku bersinar pelan, lalu perlahan menghilang menjadi debu cahaya biru yang beterbangan di udara.
Ternyata kekuatan bola biru bukanlah sekadar kekayaan, melainkan kekuatan untuk mewujudkan rasa syukur dan kerja keras sebuah keluarga menjadi kenyataan.
Sejak hari itu, aku sangat bersyukur telah memilih bola biru. Aku menikmati hidupku dengan bahagia, tetap rajin belajar, dan semakin semangat berlatih sepak bola untuk membanggakan keluarga dan Buk Dila. []
Pesan Moral: Kekayaan sejati bukan hanya tentang rumah mewah, tetapi tentang rasa syukur dan usaha untuk meraih cita-cita.

Penulis adalah Siswa Kelas 7.4 SMPN 2 Bukittinggi*)
