PADANG, FOKUSSUMBAR.COM-Ancaman banjir dan longsor menjadi perhatian dalam pembangunan kawasan hunian tetap (huntap) bagi penyintas galodo Batu Busuak di Kampung Talang, Kota Padang, Sumatera Barat.
Untuk memberikan rasa aman bagi warga, pemerintah mempercepat pembangunan drainase, dinding penahan tebing dan jalan beton dengan anggaran lebih dari Rp1,1 miliar.
Selasa (3/11/2026), progres fisik pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) tersebut telah mencapai 65 persen. Pekerjaan ditargetkan tuntas pada pertengahan November 2026.
Infrastruktur ini melengkapi 10 unit rumah yang telah disediakan bagi keluarga penyintas bencana di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh. Kehadiran rumah saja belum cukup.
Lingkungan tempat tinggal juga membutuhkan saluran air yang memadai, akses jalan yang layak, serta perlindungan terhadap lereng yang rawan longsor.
Pelaksana proyek dari CV Gapurus Jaya Bersama, Randa mengatakan, pengerjaan saat ini dipusatkan pada penyelesaian drainase dan dinding penahan tebing. Setelah tahapan tersebut selesai, pekerja akan melanjutkan pengecoran jalan lingkungan.
“Realisasi fisiknya sudah 65 persen. Target penyelesaiannya di pertengahan November ini,” kata Randa saat ditemui di lokasi proyek.
Drainase 300 Meter dan Penahan Tebing 27 Meter
Kawasan huntap Kampung Talang berada di kaki bukit dengan kondisi lahan berundak. Situasi tersebut membuat pengelolaan aliran air hujan dan pengamanan lereng menjadi bagian yang mendapat perhatian dalam pembangunan infrastruktur lingkungan.
Dinding penahan tebing dibangun sepanjang kurang lebih 27 meter dengan ketinggian tiga meter. Struktur ini dirancang untuk menahan tanah di sekitar kawasan, terutama ketika hujan deras meningkatkan risiko pergerakan tanah.
Menurut Randa, tebing di dekat akses masuk perumahan sebelumnya rawan mengalami longsor. Karena itu, pembangunan penahan tebing diharapkan dapat mengurangi ancaman terhadap jalan dan rumah warga.
Konstruksi menggunakan pasangan batu kali dan beton bertulang, dilengkapi kolom beton vertikal sebagai penguat. Pipa PVC juga dipasang untuk mengalirkan air dari balik dinding sehingga tekanan air tanah dapat dikurangi.
Di sisi lain, saluran drainase beton dibangun sepanjang sekitar 300 meter mengelilingi kawasan perumahan. Saluran tersebut diarahkan untuk mengendalikan limpasan air dari perbukitan dan mencegah air menggenangi halaman maupun jalan lingkungan.
Jalur drainase mengikuti kemiringan lahan agar air dapat mengalir menuju saluran pembuangan utama. Sistem ini diharapkan membuat lingkungan lebih tertata dan nyaman, terutama ketika hujan berintensitas tinggi.
Pekerjaan berikutnya adalah menyelesaikan badan jalan yang saat ini masih berupa tanah dan kerikil. Setelah diratakan serta dipadatkan, jalan akan dilapisi beton agar akses keluar-masuk kawasan huntap lebih layak digunakan.
Warga Berharap Tak Lagi Dihantui Genangan dan Longsor
Bagi penghuni huntap, pembangunan saluran air mulai membawa perubahan yang dirasakan langsung. Desmaniar (54), salah seorang warga, mengungkapkan bahwa genangan air sebelumnya kerap membuat jalan di lingkungan tempat tinggalnya becek.
Kini, ia berharap perbaikan drainase dapat menjaga kawasan tetap nyaman, termasuk ketika hujan turun dengan deras.
“Alhamdulillah setelah adanya irigasi ini, air tidak tergenang lagi, dan kita tidak waswas kalau seandainya hujan lebat,” ujar Desmaniar saat ditemui di teras rumahnya, Selasa (3/11/2026).
Meski kondisi saluran air mulai membaik, kekhawatiran terhadap tebing di sekitar pintu masuk perumahan masih menjadi perhatian warga. Pengalaman longsor sebelumnya membuat keberadaan dinding penahan dinilai memberi perlindungan tambahan bagi keluarga yang kini menetap di lokasi tersebut.
Harapan warga tidak berhenti pada tersedianya rumah. Mereka juga membutuhkan lingkungan yang aman dan akses yang memadai agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan tanpa terganggu persoalan infrastruktur.
Sepuluh Rumah untuk Keluarga Penyintas Galodo
Kompleks Huntap Mandiri Kampung Talang terdiri atas 10 unit rumah tipe 36. Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi 10 keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat galodo Batu Busuak pada November 2025.
Bangunan menggunakan material bata interlock Sepablock produksi PT Semen Padang. Kawasan perumahan berdiri di atas tanah ulayat Kaum Suku Tanjung seluas 1.800 meter persegi yang diberikan untuk dimanfaatkan sebagai tempat tinggal para penyintas.
Pembangunan PSU menjadi tahapan lanjutan agar rumah-rumah tersebut didukung infrastruktur lingkungan yang memadai. Dalam pelaksanaannya, sejumlah warga penyintas juga dilibatkan sebagai tenaga kerja proyek.
Pekerjaan ini memiliki nilai kontrak Rp1.108.113.098 dan didanai melalui Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan tahun anggaran 2026. Pelaksanaannya berada di bawah Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Padang, dengan CV Kifikra Graha Konsultan sebagai pengawas.
Kontrak pekerjaan tercatat dengan nomor 67/Kont-PSU/APBD/DPERKIM/2026, tertanggal 14 Agustus 2026.
Pemko Padang Genjot Jalan dan Drainase Lingkungan
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Padang, Tri Hadiyanto, mengatakan pembangunan PSU di Kampung Talang sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas infrastruktur permukiman.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan pembangunan dan pemeliharaan jalan lingkungan sepanjang 24 kilometer. Hingga awal November, realisasinya telah mencapai 16 kilometer.
Sementara itu, pekerjaan pembangunan dan pemeliharaan drainase mencatat realisasi lebih dari 10 kilometer, melampaui target tahunan sekitar empat kilometer.
Capaian tersebut menggambarkan upaya pemerintah memperbaiki lingkungan permukiman melalui pembangunan akses jalan dan sistem pengendalian air. Di kawasan huntap, kedua fasilitas itu menjadi bagian dari kebutuhan dasar yang menunjang kehidupan warga setelah bencana.
Infrastruktur Dasar Jadi Perhatian dalam Pemulihan Pascabencana
Kebutuhan melengkapi hunian dengan infrastruktur dasar juga menjadi perhatian pemerintah pusat.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian sebelumnya menekankan, pembangunan huntap perlu disertai ketersediaan jalan, air, listrik, dan fasilitas lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan saat mendorong percepatan pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada September 2026.
Tito menegaskan, masyarakat yang kehilangan rumah atau mengalami kerusakan berat membutuhkan kepastian tempat tinggal agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
“Kami ingin agar warga-warga yang terdampak, yang rumahnya hilang, rusak berat, itu segera mereka dibangunkan huntapnya. Supaya mereka ada ketenangan, ya, bahwa pemerintah itu hadir,” kata Tito.
Pada 28 Oktober 2026, Tito kembali menegaskan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera akan berlanjut hingga 2028. Ia juga meminta kementerian dan lembaga mempercepat penanganan infrastruktur terdampak demi mendukung pemulihan masyarakat secara berkelanjutan.
Di Kampung Talang, upaya tersebut kini diwujudkan melalui pembangunan jalan, drainase, dan penguatan tebing. Ketika pekerjaan selesai sesuai target, 10 keluarga penyintas galodo diharapkan dapat menempati hunian dengan dukungan lingkungan yang lebih aman dan nyaman. (kpc)






