ARANG

Cerpen : Amigusra*)

Riak hempasan ombak memecah lamunanku.  Aku baru tersadar ketika Amak datang tergopoh dari arah rumah, membawa jaket tebal berwarna kuning kusam. Jaket itu sudah lama. Bagian sikunya mulai menipis, dan resletingnya kadang macet kalau ditarik terlalu cepat.  Tanpa banyak bicara, beliau menyelimutkannya ke tubuhku. Kedua lengannya kemudian melingkar dari belakang.

“Sudah sore, Nur. Jangan lama-lama kena angin laut.”  Suara Amak nyaris kalah oleh debur ombak.

Aku mengusap punggung tangannya. Kulit itu kasar dan keriput. Ada garis-garis halus yang dulu tidak pernah kuperhatikan. Perlahan kusandarkan kepala ke bahunya. Bahu yang sejak dulu kukenal sebagai tempat segala lelah disembunyikan, meski kini tulangnya semakin terasa di balik kain baju.

“Nur cuma ingin melihat matahari terbenam, Mak.”  Amak tidak menjawab.

Matahari telah condong ke ufuk. Cahayanya pecah di permukaan air, berpendar sebentar sebelum ditelan gelombang. Di kejauhan, beberapa perahu nelayan tampak seperti potongan hitam yang mengambang.

Aku diam dalam pelukan Amak.  Sudah hampir setahun aku duduk di tempat yang sama.  Hampir setahun pula orang-orang di kampung memiliki cerita tentangku.  Aku tidak pernah tahu siapa yang pertama kali memulainya.  Mungkin seseorang di tapian mandi. Mungkin dari dapur rumah gadang. Mungkin dari sebuah percakapan yang awalnya hanya berupa dugaan, kemudian dibawa ke lapau, diselipkan di antara bunyi sendok dan cangkir, lalu pulang menjadi cerita.

Di kampung kami, kabar tidak perlu berjalan jauh untuk sampai ke mana-mana.  Ia cukup dibisikkan kepada satu orang.  Sisanya, orang lain akan menyelesaikan.  Aku pernah bertanya kepada Makdang.

“Tapi kenapa harus Nur, Makdang?”  

Pertanyaan itu pernah lepas dari mulutku dengan suara yang bahkan membuatku sendiri terkejut.  Makdang duduk di ruang tengah dengan pandangan kosong mengarah ke daun pintu. Dari dapur terdengar bunyi sendok mengaduk kanji.  Bau santan dan gula merah memenuhi rumah. Di halaman, pemuda-pemuda bersahut-sahutan dalam pantun. Tawa mereka pecah di sela-sela persiapan alek.

Alek tetap berjalan.  Seolah tidak ada sesuatu yang sedang runtuh di dalam diriku.  Makdang menghela napas.

“Alah tacoreng arang di kaniang.”  Aku menatapnya.

“Nur salah di mana?”  Matanya beralih ke pintu.

Lama.  Seolah ada sesuatu di balik pintu itu yang lebih baik tidak disebut. Kemudian ia hanya berkata, “Sudahlah.”

Ia bangkit dan berlalu.  Kalimatnya tinggal di ruang tengah.  Aku masih duduk di sana ketika suara anak-anak muda dari halaman kembali terdengar.  Pantun, tawa, bunyi piring, bunyi sendok dan bau santan.  Semua berjalan seperti biasa.  Hanya aku yang rasanya tidak lagi berada di tempat yang sama.

Menjelang subuh, sebuah mobil berwarna perak berhenti di halaman rumah gadang. Aku dijemput. Tidak banyak kata, tidak ada lagi yang perlu ditanyakan.  Aku hanya memasukkan sehelai pakaian ke dalam tas dan menyelipkan uang secukupnya.  Pakaian yang sudah disiapkan untuk alek tetap tergantung di dalam lemari.  Baju kurung itu belum pernah kupakai.  Kainnya masih licin, sulam benang emas di bagian dada memantulkan sedikit cahaya ketika pintu lemari terbuka.  Tidak kubawa.

Baca Juga :  Turunkan 8 Atlet Teqball, Kontingen Teqball kota Padang Targetkan 4 Medali

Mungkin karena untuk apa membawa sesuatu yang sejak awal bukan untukku.  Sebelum masuk ke mobil, aku menoleh ke rumah gadang.  Marawa masih berdiri di halaman.  Kainnya bergerak ditiup angin pagi, merah dan hitam, meliuk-liuk seperti tangan seseorang yang ingin melambaikan selamat jalan.

Kupeluk Amak kemudian Abak.  Air mata kami sama-sama jatuh, tetapi tidak seorang pun menyebutnya tangis.

“Amak masuklah. Nanti Nur menyusul.”

Amak menggeleng.

“Amak ingin menemani Nur sampai kapan pun, Nak.”

Aku tersenyum.  Entah mengapa, senyum itu justru membuat mata Amak semakin basah.  Mobil mulai bergerak.  Rumah gadang perlahan mengecil di balik kaca.  Aku melihat halaman. Pohon jambu, sumur tua, tangga batu, marawa.  Semuanya bergerak mundur.  Aku tidak tahu siapa yang pertama kali mengucapkan bahwa aku telah ditinggalkan.

Yang kutahu, ketika mobil itu meninggalkan halaman, aku membawa satu hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam tas sebuah rahasia.

“Bawalah dia berobat ke Angku Lareh!”

Suara Makdang menggelegar dari ruang tengah.  Aku mendengarnya dari balik pintu kamar.

“Dia tidak sakit, Jo.”  Suara Amak bergetar.  

“Nur cuma perlu waktu. Dia sedang menata dirinya.”

“Orang kampung sudah mulai banyak bicara.”

“Biarkan.”

“Bagaimana bisa dibiarkan?”

Aku berdiri di balik pintu, jari-jariku menggenggam ujung baju.

“Kalau dibiarkan, sampai kapan?”

Tidak ada jawaban, setelah itu tak ada suara lagi.  Rumah gadang yang dulu terasa lapang mendadak memiliki terlalu banyak pintu untuk kututup dan terlalu sedikit tempat untuk bersembunyi.  Aku lebih sering tinggal di kamar. Amak dan Abak semakin sering berbicara dalam diam, kadang mereka duduk berhadapan di meja makan tanpa menyentuh apa pun.  Sesekali Abak menyebut nama seseorang. Pelan sekali. Aku selalu pura-pura tidak mendengar, mungkin mereka mengira aku tidak tahu.  Padahal ada nama-nama yang tidak perlu disebut keras-keras agar seseorang dapat mengenalinya.

Tapian mandi kembali ramai.  Kali ini namaku yang datang lebih dulu.

“Anak Etek Mindah yang tidak jadi menikah itu?”

“Iyo.”

“Katanya calon marapulainya kabur dengan pacarnya.”

“Bukannya karena uang japutan tidak sesuai kesepakatan?”

“Entahlah. Banyak ceritanya.”

Air mengalir di antara batu-batu, tangan-tangan perempuan sibuk membilas kain.  Cerita berpindah bersama bunyi air, satu cerita melahirkan cerita lain.  Tak seorang pun benar-benar tahu bagaimana semuanya bermula, tetapi kabar tidak membutuhkan kepastian untuk tumbuh.  Selama hampir setahun, namaku berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain.

Di tapian mandi, di lapau, di jalan menuju surau.  Ada yang bilang aku ditinggalkan, ada yang bilang aku tidak sanggup menerima kenyataan.  Ada yang bilang aku terlalu tinggi hati.  Ada yang bilang keluarga calon marapulaiku tidak sanggup memenuhi permintaan pihak lelaki.  Mereka punya banyak versi dan aku hanya punya satu kehidupan.

Dan kehidupan itu tidak pernah mereka tanyakan.  Suatu sore, ketika melewati tapian mandi, aku mendengar suara seseorang.

“Kalau memang si Nur ditinggalkan, kenapa dia tidak pernah mengejar?”

Percakapan berhenti ketika mereka menyadari aku lewat.  Aku terus berjalan tidak menoleh.

Baca Juga :  Langit yang Terbakar

Di lapau, Ajo Lelo sedang mengaduk kopi.  “Jangan banyak bicara. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Mus tertawa pendek.

“Kalau begitu, kenapa dia pergi?”

Sendok di tangan Ajo Lelo berhenti.  Ia menatap Mus.

“Kadang orang pergi bukan karena tidak punya alasan.”

Aku mendengarnya dari seberang jalan.  Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku ingin menoleh, tetapi kakiku terus melangkah.  Malam-malam tertentu, aku membuka kembali kotak kecil di bawah tempat tidur.  Di dalamnya ada beberapa benda yang tidak berarti bagi siapa pun.  Sebuah kertas kecil, tiket bus yang sudah pudar.  Foto lama yang ujungnya terlipat dan sepotong kain berwarna biru laut.

Aku tidak pernah membuangnya bukan karena berharap seseorang kembali.  Hanya karena ada hal-hal yang tidak perlu dimiliki untuk tetap disimpan.  Kadang-kadang aku menyentuh kain itu dengan ujung jari.  Mengingat warnanya, mengingat hari ketika kain itu diberikan dan kemudian aku menyimpannya kembali.  Tidak ada nama di sana, tidak ada tanggal hanya warna biru yang selalu membuatku teringat pada laut.

Di dalam kepala, terlintas satu sore yang sudah lama berlalu.  Dua orang laki-laki duduk di beranda rumah yang satu calon marapulaiku, yang satu lagi sahabatnya.  Mereka tertawa seperti dua orang yang belum tahu bahwa persahabatan dapat membawa manusia pada pilihan-pilihan yang tidak pernah direncanakan.  Aku berdiri di balik jendela.  Dari celah tirai, kulihat mereka berbicara.  Calon marapulaiku sesekali menepuk bahu sahabatnya. Sahabatnya hanya tersenyum lalu ia mengatakan sesuatu.  Aku tidak mendengarnya.  Angin membawa suaranya menjauh, salah seorang dari mereka menoleh.  Mata kami bertemu walaupun hanya sebentar.  Tetapi cukup untuk membuatku tahu bahwa sesuatu telah berubah. Aku menutup tirai.

Tidak lama kemudian terdengar suara motor meninggalkan halaman.

Aku masih berdiri di balik jendela.

Tidak mengejar.

Tidak bertanya.

Sore itu, untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa ada perpisahan yang dimulai jauh sebelum seseorang benar-benar pergi.


Hari-hari terus berjalan.

Aku mulai sesekali keluar rumah.

Menyapu halaman.

Membantu Amak ke pasar.

Mengantar makanan ke rumah tetangga yang sedang sakit.

Orang-orang masih memandang.

Aku membiarkannya.

Ada hari-hari ketika pandangan mereka terasa seperti duri.

Ada hari-hari ketika aku bahkan tidak lagi menyadarinya.

Suatu pagi, seorang perempuan tua yang jarang berbicara kepadaku menghampiri ketika aku sedang membeli cabai.

“Nur.”

Aku menoleh.

Ia tersenyum tipis.

“Jangan terlalu dipikirkan.”

Aku tidak tahu apa yang dimaksudnya.

Tetapi aku mengangguk.

Kadang orang memberikan nasihat kepada luka yang bahkan tidak mereka kenali.


Setahun hampir berlalu.

Aku mulai lebih sering duduk di tepi pantai.

Bukan untuk menunggu.

Hanya karena di sana tidak banyak orang yang bertanya.

Laut tidak pernah ingin tahu siapa yang meninggalkan siapa.

Laut tidak pernah meminta penjelasan.

Ia hanya menerima apa pun yang datang.

Hari itu matahari turun perlahan.

Aku duduk di pasir ketika mendengar suara Abak dari kejauhan.

“Nuuuur!”

Aku tersentak.

Amak menoleh.

Dari tempat kami duduk, kulihat Abak berjalan perlahan.

Baca Juga :  17 Atlet Menembak Padang Berjuang di Porprov Sumbar 2026, Erianto Turun Langsung Beri Dukungan

Di sampingnya ada seseorang.

Mereka sesekali berbicara, tetapi angin laut membawa kata-kata mereka sebelum sempat sampai kepadaku.

Bayangan itu semakin dekat.

Aku mengenal cara berjalannya.

Aku mengenal bahunya.

Bahkan dari jauh, aku mengenal diamnya.

Abak menghentikan langkah di hadapan kami.

Ia memandangku.

Lama.

Kemudian menarik napas.

“Aku datang, Nur.”

Suara itu hampir sama seperti yang kuingat.

Hanya lebih berat.

“Walaupun terlambat.”

Aku tidak menjawab.

Amak menggenggam tanganku.

Aku merasakan jemarinya sedikit gemetar.

Di belakang Abak, lelaki itu berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh.

Kami saling memandang.

Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa-apa.

Aku memperhatikan wajahnya.

Ada banyak hal yang berubah.

Rambutnya.

Cara berdirinya.

Garis di sekitar matanya.

Tetapi ada sesuatu yang tidak berubah.

Tatapan itu.

Tatapan yang pernah kutemui dari balik jendela pada sebuah sore yang sudah lama sekali.

Aku menunduk.

Bukan karena takut.

Bukan pula karena malu.

Hanya karena tiba-tiba aku tidak ingin memberikan kepadanya apa yang mungkin selama ini ia cari dari wajahku.

Penjelasan.

Aku tidak memilikinya untuk siapa pun.

Atau mungkin aku hanya sudah terlalu lama menyimpannya sendiri.

Abak menatapku.

Kemudian lelaki itu.

“Nur…” katanya pelan.

Aku mengangkat wajah.

Ia berhenti.

Mungkin ia ingin mengatakan banyak hal.

Mungkin tentang hari itu.

Tentang rumah gadang.

Tentang alek yang tidak pernah jadi.

Tentang mengapa ia pergi.

Tentang mengapa ia baru kembali ketika hampir setahun telah berlalu.

Tetapi semua itu tidak pernah keluar.

Aku pun tidak bertanya.

Ada pertanyaan yang, setelah terlalu lama disimpan, kehilangan kebutuhan untuk dijawab.

Laut terus bergerak.

Angin membawa bau asin ke wajah kami.

Matahari semakin rendah.

Amak berdiri.

Tangannya masih menggenggam tanganku.

Aku ikut berdiri.

Kami berjalan meninggalkan pantai.

Tidak ada yang mengikuti.

Angin menyibakkan ujung kerudungku.

Kali ini aku tidak menundukkan kepala.

Di kejauhan, marawa di halaman rumah gadang masih tampak meliuk-liuk diterpa angin.

Merah.

Hitam.

Seperti luka yang pernah dianggap selesai hanya karena orang-orang berhenti membicarakannya.

Aku merogoh saku baju.

Jari-jariku menyentuh sesuatu.

Sehelai kain.

Biru laut.

Aku menggenggamnya sebentar.

Lalu melepaskan genggaman.

Tidak untuk dikembalikan.

Tidak untuk dilupakan.

Hanya untuk memastikan bahwa apa yang pernah terjadi dalam hidupku tidak akan ditentukan oleh cerita orang lain.

Di tanganku, biru laut itu masih ada. []

Amigusra_ nama pena dari Gusra Farnita, M.Pd. — adalah pendidik, penulis sastra anak, dan pegiat literasi Minangkabau. Ia adalah pemilik dan penggerak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Si Pintar. Karya-karyanya mengangkat adat, tradisi, dan kearifan lokal Minangkabau dalam cerita yang dekat dengan anak dan keluarga. Ia juga aktif sebagai pemateri adat dan Bundo Kanduang dalam pemajuan kebudayaan.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *