Kabut Asap Kiriman Selimuti Sumbar, Riau Masuk Tiga Besar Penyumbang Titik Api

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Tasliatul Fuaddi. (Foto: Istimewa)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM-Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) yang berbatasan dengan provinsi tetangga. Pemerintah Provinsi Sumbar menyebut, asap tersebut merupakan kiriman dari luar daerah, termasuk Riau.

Dampaknya mulai terasa pada penurunan jarak pandang di sejumlah kabupaten dan kota. Kondisi ini membuat pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, meski kualitas udara berdasarkan data terakhir masih berada pada kategori baik hingga sedang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Tasliatul Fuaddi mengatakan, kabut asap terjadi di sejumlah wilayah, Senin kemarin. Daerah yang terdampak meliputi Pesisir Selatan, Dharmasraya, Sijunjung, Lima Puluh Kota serta sebagian wilayah Tanah Datar dan Solok.

“Sejumlah kabupaten atau kota di Sumbar berkabut karena mendapat kiriman asap dari provinsi tetangga,” ujar Tasliatul Fuaddi di Padang.

Dikatakan, penurunan jarak pandang menjadi salah satu dampak yang langsung dirasakan masyarakat. Jarak pandang di sejumlah daerah tersebut turun dibandingkan kondisi pada hari normal.

Namun, kondisi kualitas udara belum menunjukkan level yang membahayakan. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 23 Agustus, kualitas udara di wilayah terdampak masih berada dalam kategori baik hingga sedang.

Kondisi tersebut tidak membuat pemerintah mengabaikan potensi dampak terhadap masyarakat. DLH Sumbar tetap meminta warga mengurangi paparan asap, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

BACA JUGA :  Sikapi Video Viral Oknum Kabiro, Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar: Coreng Marwah 'Adat Basandi Syarak' dan Rusak Citra ASN

“Kenakan masker dan kurangi aktivitas luar ruangan demi menjaga kesehatan, kita menunggu upaya pemadaman yang tengah dilakukan oleh tim gabungan pemerintah sampai saat ini,” katanya.

Riau Masuk Daftar Provinsi dengan Titik Api Tinggi
Pemprov Sumbar memastikan, kabut asap yang muncul di sejumlah wilayah tersebut bukan berasal dari titik api di dalam Sumbar. Asap disebut terbawa dari provinsi tetangga, yakni Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Data titik api menjadi salah satu dasar pemerintah dalam melihat sumber kabut asap yang menyelimuti wilayah perbatasan. Di sisi lain, jumlah titik api di Sumbar justru menunjukkan penurunan dalam periode Agustus 2026.

Pada 1-13 Agustus 2026, tercatat 232 titik api di Sumbar. Jumlah tersebut kemudian turun lebih dari separuh menjadi 103 titik api pada periode 14-23 Agustus 2026.

“Titik api di wilayah Sumbar mengalami penurunan, namun kabut asap masih terjadi di daerah-daerah yang berbatasan dengan provinsi tetangga,” ulas Tasliatul Fuaddi.

Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan titik api di Sumbar belum serta-merta menghilangkan persoalan kabut asap. Wilayah yang berdekatan dengan provinsi lain tetap menghadapi kemungkinan terdampak asap yang terbawa dari luar daerah.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sejumlah daerah terdampak berada di kawasan yang berbatasan langsung dengan provinsi tetangga. Pergerakan asap membuat persoalan kebakaran lahan tidak hanya menjadi persoalan administratif satu provinsi.

BACA JUGA :  Semen Padang FC Launching Tim, 35 Pemain Disiapkan untuk Kejar Juara Liga 2

Sumsel Catat Titik Api Tertinggi
Data Sipongi Gakkum Kehutanan untuk periode yang sama memperlihatkan jumlah titik api yang jauh lebih tinggi di sejumlah provinsi tetangga Sumbar.

Sumatera Selatan tercatat sebagai provinsi dengan jumlah titik api terbanyak, yakni 4.975 titik. Setelah itu terdapat Riau dengan 1.433 titik api dan Jambi sebanyak 1.281 titik.

Sementara itu, jumlah titik api di Bengkulu tercatat 154 titik. Sumatera Utara berada pada angka 214 titik api.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi titik panas di kawasan Sumatera pada periode pertengahan hingga akhir Agustus 2026. Riau menjadi salah satu provinsi yang tercatat memiliki jumlah titik api cukup tinggi dalam data tersebut.

Bagi wilayah Sumbar yang berada di sekitar perbatasan, kondisi itu menjadi perhatian karena asap dapat bergerak melintasi batas administrasi provinsi. Karena itu, penanganan kebakaran dan pemadaman di daerah sumber menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak kabut asap di wilayah lain.

Pemprov Sumbar menyebut upaya pemadaman masih dilakukan tim gabungan pemerintah. Masyarakat diminta tetap berhati-hati sambil menunggu kondisi asap berangsur membaik.

BACA JUGA :  Buka Pelatihan Verifikator SatuMutu, Al Amin : Garda Terdepan Wujudkan Satu Data Muhammadiyah di Kota Padang

Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Pemerintah daerah belum menyatakan kualitas udara di wilayah terdampak berada pada kategori berbahaya. Meski demikian, penurunan jarak pandang dan keberadaan kabut asap tetap menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Imbauan penggunaan masker juga menjadi langkah yang disampaikan pemerintah kepada masyarakat. Aktivitas di luar ruangan diminta dikurangi untuk membatasi paparan asap.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap masih berkaitan erat dengan kondisi kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera. Ketika titik api muncul dalam jumlah besar di satu provinsi, dampaknya dapat dirasakan oleh wilayah lain yang berada di sekitar perbatasan.

Untuk saat ini, perhatian pemerintah Sumbar tertuju pada pemadaman sumber kebakaran di wilayah tetangga. Sementara masyarakat di daerah terdampak diminta menjaga kondisi kesehatan dan membatasi aktivitas luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah mereka. (ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *