Dari Padang ke Hungaria, Celly Menemukan Rumah Kedua (Bagian 1)

Callysta Nayla Putri bersama keluarga angkatnya di Hungaria. (Foto dok pribadi)

BAGI sebagian orang, pergi ke luar negeri adalah impian. Namun bagi Callysta Nayla Putri, siswi SMAN 12 Padang yang mengikuti program pertukaran pelajar selama tiga bulan di Hungaria, perjalanan ke Eropa Tengah itu bukan hanya tentang mimpi, melainkan tentang keberanian meninggalkan rumah untuk tumbuh di tempat yang benar-benar baru.

Pesawat yang membawa Callysta Nayla Putri mendarat di Hungaria pada 20 Februari 2026. Saat itu, siswi SMAN 12 Padang yang akrab dipanggil Celly itu hanya bisa memandangi suasana asing di sekelilingnya dengan perasaan campur aduk.

Ada gugup. Ada takut. Ada rindu yang bahkan sudah mulai terasa sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia tinggal jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama. Bukan hanya beda kota atau pulau, tetapi beda benua.

Namun kekhawatiran itu perlahan mencair sejak pertama kali ia bertemu keluarga angkatnya.

Mereka menyambut Celly dengan hangat. Senyum ramah, pelukan kecil, bunga hidup, dan hadiah sederhana membuat gadis asal Padang itu merasa diterima. Bukan sebagai tamu, tetapi seperti anggota keluarga sendiri.

Sesampainya di rumah, Celly kembali dibuat terharu. Host family-nya ternyata sudah menyiapkan berbagai kebutuhan baru untuknya.

Sebuah meja belajar lengkap dengan kursi baru telah disiapkan di kamarnya. Bahkan kasur baru juga disediakan agar ia nyaman selama tinggal di sana.

“Hal-hal kecil seperti itu membuat saya merasa sangat dihargai,” kenangnya.

Belum selesai beradaptasi dengan cuaca dan lingkungan baru, Celly juga harus menjalani Ramadan pertamanya di negeri orang.

Awalnya ia sempat khawatir. Ia membayangkan bagaimana rasanya berpuasa di lingkungan yang mayoritas tidak menjalankan Ramadan.

Namun kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi pengalaman yang menghangatkan hati.

Di tengah kehidupannya sebagai exchange student, sebuah email dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Budapest datang menghampirinya. Ia diundang menghadiri acara buka puasa bersama masyarakat Indonesia pada 1 Maret 2026.

Undangan itu sederhana, tetapi bagi Celly terasa sangat berarti.

Di sana, ia kembali mendengar bahasa Indonesia di tengah dinginnya Eropa. Ia bertemu banyak orang Indonesia yang sama-sama merindukan rumah. Untuk beberapa jam, rasa rindu itu seakan terobati.

Malam itu, Celly sadar bahwa rumah ternyata tidak selalu tentang tempat. Kadang, rumah hadir lewat orang-orang yang membuat kita merasa diterima. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *