Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag. MA. *)
MUSIM haji telah tiba lagi, menemui orang-orang yang beriman yang mencintai amal kebaikan. Setiap tahun bulan haji selalu menyapa dan menyeru umat manusia untuk berhajji, mengunjungi Baitullah atau Rumah Allah di Makkatul Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah Swt.
Ibadah haji termasuk rangkaian ibadah mahdhah, yang merupakan ibadah yang istimewa, hanya bisa dilakukan pada bulan haji saja. ⁵Tidak boleh dilaksanakan pada selain bulan haji. Karena sudah merupakan ketetapan dari Allah Swt. Begitu juga dengan tata cara pelaksanaan ibadah haji tersebut telah diatur secara seksama dan sedemikian rupa oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kapan Bulan Haji itu?
Bulan haji itu telah ditentukan oleh Allah Swt sesuai dengan firman Allah Swt :
“Al-Hajju asyhurum ma’lumaatin, faman faradha fiihinnal hajja falaa rafatsa wa laa fusuuqa wa laa jidaala fil hajji, wa maa taf’alu min khairiy ya’lamhullaahu, wa tazawwaduu fainna khairaz zaadittaqwa, wattaquuni yaa ulil albaab”.
Artinya : ” (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan- bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat “. ( Q.S.2.197 ).
Meski pun animo, minat masyarakat dan umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya meningkat, yang menyebabkan jumlah antrian tunggu semakin panjang.
Namun waktu pelaksanaan Ibadah haji tidak bisa dilakukan di luar bulan haji. Ada pun bulan haji yang telah dimaklumi dan ditentukan itu adalah pada bulan : 1. Syawal, 2. Zulkaidah dan 3. Zulhijjah.
Pada suatu saat seorang anggota DPR RI tatkala mengikuti sidang pleno tentang pelaksanaan ibadah haji. Anggota DPR RI ini sangat antusias, bersemangat sekali untuk bisa mencarikan solusi, jalan keluar dari panjangnya antrian tunggu bagi Jamaah Calon Haji Indonesia.
Pada beberapa daerah seperti Sulawesi, DKI dan sebahagian besar Pulau Jawa, lama masa tunggunya sampai 30 tahun lebih. Melihat fenomena inilah seorang anggota DPR RI ini, mengusulkan dengan penuh antusias agar ibadah haji bisa dilaksanakan setiap bulannya, untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan peminat dan lamanya waktu menunggu.
Kiranya, anggota DPR RI yang memiliki kepedulian yang tinggi, perhatian yang besar untuk mempersingkat lamanya masa tunggu Jamaah Calon Haji, ternyata seorang non muslim. Yang tidak mengerti sama sekali tentang syariat Islam.
Siapa Yang Diwajibkan untuk Berhajji
Sebagaimana diketahui, bahwa kewajiban untuk berhajji ke Makkatul Mukarramah dan Madinatul Munawwarah adalah bagi umat Islam yang memiliki istitha’ah.
Yaitu bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menyediakan segala bentuk biaya yang dibutuhkan selama dalam perjalanan pergi pulang dan mampu pula menyiapkan dana buat nafkah bagi keluarga yang menjadi tanggungan yang ditinggalkan.
Di samping kesanggupan menyediakan dana, finansial untuk berhajji, yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari kesehatan pisik dan mental bagi yang akan menunaikan ibadah haji, merupakan hal yang sangat urgen dan penting.
Selanjutnya kemampuan untuk menguasai manasik haji, seluk beluk dan tata cara pelaksanaan rangkaian ibadah haji.
Lalu adanya jaminan keamanan, selama menunaikan ibadah haji. Yang dimaksud dengan jaminan keamanan, adalah terjauh dari rasa takut, terancam keselamatannya disebabkan adanya peperangan.
Dalam hal ini juga termasuk di bidang kesehatan, yaitu terjauh dari segala macam wabah penyakit yang bisa membayakan jamaah haji. Seperti virus Covid 19 dan pandemi lainnya, yang akan merusak kesehatan jasmani dan rohani.
Berhajji adalah Puncak Kerinduan Seorang Muslim dan Muslimah
Melaksanakan ibadah haji di samping kewajiban, juga sebuah puncak kerinduan setiap muslim/ah yang beriman, yang mampu memenuhi semua kriteria yang telah dijelaskan di atas.
Hal ini juga ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
“Wa lillaahi ‘alan naasi hijjul baiti manis tathaa’a ilaihi sabiilaa”
Artinya : “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi mereka yang mampu”. (Q.S.3.97).
Kalau kita perhatikan posisi kewajiban berhajji dalam rukun Islam, berada pada urutan terakhir. Hal ini mengisyaratkan kepada umat Islam, secara kasat mata dan gamblang. Bahwa seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji ke Baitullah, untuk menyempurnakan rukun Islamnya.
Maka terlebih dahulu yang bersangkutan harus telah memastikan melaksanakan tugas, kewajiban selaku muslim beriman dengan baik dan maksimal rukun Islam yang sebelumnya.
Di sisi lain mereka yang akan menunaikan ibadah haji, maka sepantasnyalah telah memiliki aqidah tauhid yang mantap. Yaitu aplikasi pengakuan : syahadataini
“Asyahadu allaa ilaaha illallahu wa Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah”. Sebuah pengakuan yang tulus “Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang wajib disembah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah Swt”.
Dengan pengakuan syahadataini, dua kalimah syahadah itu, selaku umat Islam yang beriman betul-betul mengakui hanya Allah Swt saja Tuhannya, yang wajib disembah, tempat meminta bantuan dan pertolongan dalam semua lini kehidupan.
Sedangkan Rasulullah Muhammad SAW adalah utusan Allah Swt merupakan Nabi terakhir, dalam menyampaikan wahyu Allah untuk mengajak manusia mentauhidkan, mengesakan Allah dalam peribadatan dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
Mereka yang berhajji itu, tentulah mereka yang telah melaksanakan dengan baik kewajiban ibadah shalat lima kali sehari semalam, secara maksimal dan sempurna.
Sehingga mereka benar-benar merasakan manfaat ibadah shalat dalam kehidupan yang merupakan wadah komunikasi secara vertikal, langsung berhubungan dengan Allah Swt.
Melalui ibadah shalat mereka menyadari, betapa Allah Swt sangat sayang kepada hamba-Nya. Segala fasilitas yang diperlukan, dibutuhkan oleh umat manusia telah disediakan oleh Allah Swt.
Patutkah seorang muslim beriman meninggalkan ibadah shalat?
Semua bacaan dalam ibadah shalat mengungkapkan pengakuan tentang keesaan, kemahakuasaan, pujian, memaparkan sifat-sifat-Nya Yang Maha Segalanya.
Juga penuh dengan untaian do’a agar umat Islam terlepas dari segala perbuatan keji dan mungkar. Dengan mendirikan ibadah shalat mereka merasa optimis dalam menghadapi hidup dan kehidupan yang penuh dengan tantangan.
Mereka yang diberikan kesempatan berhajji tahun ini, Insya Allah dipastikan mereka yang telah menunaikan zakatnya. Zakat merupakan kewajiban bagi mereka yang memiliki harta benda, kekayaan yang telah mencapai nisab dan haulnya. Kewajiban dalam membayarkan zakat adalah salah satu petunjuk seseorang menaati, mematuhi perintah Allah Swt.
Menurut syariat Islam dalam harta orang kaya, para aghniyaa’ itu ada bagian harta yang wajib dikeluarkan untuk mereka yang fakir, miskin, panitia zakat, muallaf, untuk memerdekakan budak, membebaskan mereka yang berhutang, untuk jalan Allah, dan bagi mereka yang dalam perjalanan, ini dikenal dengan asnaf yang delapan.
Insya Allah mereka yang berhajji tahun ini pun telah lama mengeluarkan zakat harta bendanya. Mereka yakin dan percaya dengan mengeluarkan zakat, berarti telah menyucikan harta dan jiwanya.
Selanjutnya, mereka yang berhajji tahun ini, Insya Allah dapat kita pastikan mereka telah lama dan juga telah terbiasa dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, mulai sejak usia baligh, remaja dan sampai akhir hayatnya tetap berpuasa, sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Khusus dalam Pelaksanaan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, yang merupakan ibadah istimewa sebagai latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dari segala bentuk kemauan, keinginan yang tak terbendung dan godaan hawa nafsu yang tidak mau mengalah, lalu diarahkan untuk melakukan berbagai amal kebaikan, untuk bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.
Di sisi lain, ibadah puasa juga berfungsi sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selama berpuasa para shaa-imiin dan Shaa-imaat dilatih, dibina dan dibimbing aqidah, keyakinannya kepada Allah Swt. Apa pun yang dikerjakan seseorang dipastikan dilihat, dimonitor oleh Allah Swt. Karena Allah Swt selalu bersama hamba-Nya dimana saja berada.
Begitulah idealnya bagi mereka yang berangkat haji pada tahun ini, tentulah mereka yang ingin menyempurnakan rukun Islam yang kelima dengan maksimal.
Karena mereka telah memiliki aqidah tauhid yang mantap, selalu mendirikan shalat, mengeluarkan zakat harta bendanya dan juga telah melaksanakan ibadah puasa dimulai usia baligh sampai sepanjang hayatnya.
Bagi umat Islam yang belum diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk berhajji, tidak usahlah berkecil hati. Karena ibadah haji yang membutuhkan dana yang besar, perjalanan yang panjang, butuh berbagai persiapan, berupa kesehatan pisik yang prima, mental yang kuat, ilmu pengetahuan dan wawasan keislaman yang memadai untuk bisa menguasai manasik haji.
Untuk itu, diperlukan pula rasa aman, nyaman dan terjaminnya keselamatan.
Meski pun dengan persiapan yang berjibun mereka yang berhajji, belum tentu dijamin mendapatkan haji mabrur.
Bahkan mereka yang telah berhajji pun belum tentu derajat ketaqwaannya meningkat di sisi Allah Swt, begitu juga dalam pandangan manusia.
Larangan bagi mereka yang berhajji
Bagi mereka yang menunaikan ibadah haji pada tahun ini, Allah Swt menegaskan ada beberapa Larangan yang wajib dijauhi oleh mereka yang berhajji :
1. Jangan mengucapkan rafats, berkata jorok, yang akan mengumbar nafsu birahi, perbuatan yang tidak senonoh, menjurus untuk melakukan tindakan seksual.
2. Jangan melakukan kemaksiatan, berlaku fasiq dan tindakan yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
3. Jangan bertengkar dalam melakukan ibadah haji, pertengkaran, perselisihan akan merusak nilai-nilai ibadah haji itu sendiri.
Bagi mereka yang berhajji tahun ini, maupun bagi umat Islam di mana saja berada, yakinilah apa pun yang kamu kerjakan, kebaikan atau keburukan kejahatan yang kamu sembunyikan, semuanya itu diketahui oleh Allah Swt.
Apakah persiapan dan perbekalan bagi yang berhajji
Ada pun persiapan dan perbekalan bagi mereka yang berhajji, tidak terbatas dan tidak cukup dengan tersedianya keuangan, finansial, juga kesehatan pisik yang prima, sikap mental, kejiwaan yang tangguh dalam menghadapi berbagai kondisi, juga kemampuan dalam menguasai manasik haji beserta rangkaian ibadah haji.
Tetapi yang sangat menentukan adalah kesiapan dan perbekalan yang utama adalah bekal ketaqwaan yang dimiliki oleh mereka yang berhajji.
Hanya dengan berbekal ketaqwaanlah, mereka yang berhajji memenuhi panggilan Allah Swt, merasakan kebahagiaan dan kenikmatan luar biasa dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.
Meskipun pisik dan mental mereka dilanda berbagai ujian, cobaan, yang menyebabkan kelelahan, kelemahan yang bersangatan. Namun dengan berbekal ketaqwaan yang mendalam, semuanya itu bisa diatasi oleh yang berhajji dengan selalu berzikir, zikrullaah, berdo’a, melantunkan ayat-ayat Al-Quran, memperbanyak istighfar, tobat, meminta ampunan Allah Swt dan larut dalam beribadah di hadapan Allah Swt di tanah suci Makkatul Mukarramah dan Madinatul Munawwarah.
Begitu juga di Mudzdalifah, Padang Arafah dan Mina, semua jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul raya, larut dalam kesyahduan, keharuan, kesibukan, dengan lidah yang tidak henti-hentinya berzikir, beristighfar, mengingat kesalahan dan kekhilafan masa lalu.
Seakan-akan mereka telah berada di Padang Mahsyar, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah Swt atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia ini.
Setelah jamaah haji melontar tiga jumrah, yaitu jumrah Aqabah, wustha dan ula, tentu dengan harapan setan-setan yang ikut bersemayam dalam diri, segera keluar, henyahlah dan pontang pantinglah lari dari sergapan, lemparan batu-batu yang dikasih peluru ” Bismillah, Allahu Akbar ” dengan lemparan puluhan kali. Kiranya, setan-setan terkutuk yang pernah bersemayam dalam diri, terkubur hancur di jamaraat ini.
Akhirnya, setelah melakukan wuquf di Arafah, pertanda para jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia, terlihat bersyukur dan bergembira selesainya melaksanakan ibadah haji, yang puncak haji itu adalah Arafah “Al-Hajju ‘Arafah” begitu penegasan Rasulullah Muhammad SAW. Siapa yang hadir wuquf di Arafah pada tgl 9 Zulhijjah, maka ibadah hajinya diterima dan apabila kalian tidak sempat hadir di Arafah, maka ulangilah berhajji di tahun yang akan datang.
Hubungan Ibadah Haji dengan Keluarga Ibrahim AS
Pelaksanaan ibadah haji, sangat erat hubungannya dengan keluarga Nabi Ibrahim AS. Karena sebagian besar rangkaian ibadah haji itu, berawal dari Nabi Ibrahim AS yang sangat getol dan gencar dalam memperjuangkan agama tauhid.
Yang dikenal dengan “Haniifam Muslimaa” yaitu seorang yang hanif, lurus, cenderung kepada Keislaman dan berserahdiri. Nabi Ibrahim AS sangat berjasa membangun Ka’bah bersama puteranya Nabi Ismail AS.
Setelah Ka’bah dibangun Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt memanggil manusia untuk berhajji, sehingga sampai sekarang dan sampai akhir zaman, umat Islam sedunia tidak akan pernah surut kemauannya untuk mengunjungi Baitullah. Mereka datang dengan berjalan kaki, mengendarai unta yang kurus, karena menempuh perjalanan yang panjang.
Juga dengan memanfaatkan alat transportasi modern, mulai dari kapal api, pesawat terbang yang canggih dstnya.
Selanjutnya kisah Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya diabadikan dalam rangkaian ibadah haji, ada bekas-bekas peninggalannya, kisah peristiwa yang telah menjadi sejarah sepanjang umat manusia.
Termasuklah dalam manasik haji dan rangkaiannya tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim AS bersama isterinya Siti Hajar dan puteranya Nabi Ismail AS.
Pelaksanaan thawaf dan sa’i ini berawal dari isterinya Nabi Ibrahim AS yang bernama Siti Hajar ditinggalkannya di tanah yang gersang, tandus dan jauh dari sumber air.
Sementara itu, jika dihubungkan dengan Hari Raya Idul Adha, yang dikenal juga dengan Hari Raya Idul Qurban, yang ditandai dengan perintah penyembelihan, yang diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran.
Betapa teganya Nabi Ibrahim AS dan betapa tegarnya puteranya Nabi Ismail AS.
Keduanya sanggup menaati perintah Allah. Meskipun diuji dengan perintah yang sangat berat sekali bagi seorang Ayah dan betapa sabarnya Nabi Ismail AS dalam meyakinkan Ayahandanya agar segera melaksanakan perintah Allah Swt.
Peristiwa spektakuler, ujian dahsyat yang luar biasa ini, dilakukan oleh seorang Ayah terhadap anaknya, atas dasar ketaatan, kepatuhan dan loyalitas yang sangat tinggi kepada Allah Swt, lalu diiringi pula dengan keikhlasan yang tiada tara.
Dengan serta merta Allah Swt dengan secepat kilat, segera mengganti sembelihan ( Nabi Ismail AS ) dengan seekor kambing, kibas yang besar.
Maka peristiwa yang luar biasa yang terjadi pada tanggal 10 Zulhijjah itu, disambut dengan lantunan, gema kalimah thayyibah berupa kalimat takbir, Allahu Akbar, Allah Maha Besar bergema di angkasa raya, sebagai ungkapan hanya Allah Swt saja yang pantas dibesarkan.
Kalimah tahlil, laa ilaaha illallahu, tidak ada Tuhan selain Allah mengiringi ucapan takbir, sebagai pengakuan yang tulus tidak ada yang patut disembah, kecuali Allah. Kalimat tasbih, subhaanallaah, Maha Suci Allah, juga ikut berseleweran, bersahutan di jagad raya. Suasana itu merupakan pertanda rasa syukur yang mendalam, setelah mereka menyelesaikan rangkaian ibadah haji.
Sedangkan umat Islam di seluruh penjuru dunia pada tanggal 10 Zulhijjah itu, mereka merayakan Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Idul Qurban, sebagai bagian yang tidak terpisahkan antara Nabi Ibrahim AS yang merupakan Bapak Tauhid, yaitu Nabi dan Rasul yang diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengembangkan agama tauhid, mengesakan Allah Swt dengan menjauhi segala bentuk praktik kemusyrikan, yang saat ini semakin masif.
Ajaran Nabi Ibrahim AS inilah yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada kita umat Islam. Selanjutnya agama yang hanif ini berlaku sepanjang zaman dan Muhammad SAW adalah Rasul-Nya yang terakhir, melanjutkan risalah tauhid ini.
Pelaksanaan ibadah haji pun tidak luput dari napak tilas, kisah peristiwa Nabi Ibrahim AS dengan putera semata mayangnya Nabi Ismail AS dan isterinya Siti Hajar. Yang konon setelah puluhan tahun Nabi Ibrahim AS berdo’a dan mendambakan lahirnya seorang putera, yang akan melanjutkan risalah tauhid, agama yang hanif dan terjauh dari praktik kemusyrikan.
Setelah diberikan amanah seorang putera yang penyantun, tiba-tiba Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih puteranya Nabi Ismail AS melalui mimpinya yang benar, yang dikenal dengan “rukyah shadiqah”.
Perlu diperhatikan, Mimpi yang benar itu hanya terjadi pada diri Nabi dan Rasul-Nya saja.
Setelah didiskusikan oleh Nabi Ibrahim AS dengan puteranya Ismail AS, maka putera yang cerdas lagi penyantun ini, merelakan dirinya disembelih oleh Ayahnya sendiri. Karena ini adalah perintah Allah Swt yang wajib dilaksanakan, ujar Nabi Ismail AS kepada Ayahnya.
Sementara Ibunya Siti Hajar yang selalu digoda oleh setan, dengan pertanyaan kenapa dibiarkan anak semata mayang, yang mendapatkannya alangkah susah dan sangat sulit karena telah keduanya telah berusia lanjut. Apakah Nabi Ibrahim AS telah gila, kehilangan akal sehat? Namun godaan dan strategi setan dapat dipatahkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS.
Berangkat dari ketaatan, kepatuhan dan keikhlasan dari keluarga Nabi Ibrahim AS, akhirnya Allah Swt mengganti sembelihan (Ismail AS) dengan seekor kibas (kambing) yang besar.
Begitulah gambaran pelaksanaan rangkaian ibadah haji, yang erat hubungannya dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS termasuk Ulul Azmi, termasuk lima tokoh hebat di kalangan Nabi dan Rasul-Nya. Beliau juga seorang pejuang tauhid, pengembang ajaran tauhid, yang silsilah keturunan Nabi Ibrahim AS sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Kemudian ajaran tauhid yang diperintahkan Allah Swt kepada Nabi Ibrahim AS dilanjutkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sampai berakhirnya dunia yang fana ini.
Karena Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang di utus oleh Allah Swt untuk mengajak, menghimbau, mendakwahkan manusia kepada ajaran tauhid, menerangi umat dari kezaliman, kegelapan kepada cahaya yang terang benderang.
Demikianlah secuil tulisan tentang pelaksanaan rukun Islam yang kelima, yang sangat erat kaitannya dengan keluarga Nabi Ibrahim AS (Nabi Ismail AS dan Ibunya Siti Hajar), yang merupakan keluarga teladan sepanjang masa.
Kita do’akan para jamaah haji Indonesia sehat, mampu melakukan rangkaian ibadah haji dengan maksimal dan kembali ke tanah air menggondol “Haji Mabrur”.
Bagi kita yang berada di tanah air, kami himbau untuk ikut berkurban, agar lebih taqarrub kepada Allah Swt. []
Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya. *)




