Oleh: Nurul Jannah*)
Ia melukis hujan berulang-ulang, karena hanya pada hujan itulah ia pernah merasa dicintai.
Hampir semua orang mengenal nama Anisa Wulandari. Galeri-galerinya selalu dipenuhi pengunjung. Lukisan-lukisannya terjual bahkan sebelum pameran dibuka. Kolektor dari berbagai negara berebut mendapatkan karyanya.
Media menjulukinya sebagai Perempuan yang Mampu Melukis Kesedihan Menjadi Keindahan.
Namun ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan. Mengapa hampir seluruh lukisannya tentang hujan?
Hujan di jendela tua. Hujan di jalan kota. Hujan di bangku taman. Hujan di halte. Hujan di teras rumah. Hujan di mata seorang perempuan.
Hujan. Selalu hujan. Seolah tidak ada musim lain dalam hidupnya.
Ketika seorang wartawan bertanya tentang hal itu, Anisa hanya tersenyum.
“Hujan tidak pernah berbohong.”
Jawaban itu kemudian menjadi kutipan terkenal. Dicetak di berbagai majalah seni. Dibahas dalam seminar. Ditulis dalam katalog pameran. Namun tidak ada yang tahu makna sebenarnya.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap tetes hujan yang hadir dalam kanvas itu berasal dari satu nama yang tak pernah benar-benar pergi.
Galuh Pratama.
Anisa berusia dua puluh tahun ketika pertama kali bertemu Galuh. Hari itu Bandung diguyur hujan sejak siang.
Langit kelabu. Angin dingin. Jalanan licin.
Anisa yang masih mahasiswa seni rupa sedang berlari sambil memeluk map besar berisi sketsa. Tiba-tiba angin menerbangkan beberapa lembar gambarnya.
“Kertas-kertas itu…!”
Anisa panik.
Beberapa lembar terjatuh ke genangan. Sebelum sempat bergerak, seorang laki-laki sudah berjongkok mengambilnya satu per satu.
“Masih bisa diselamatkan.”
Anisa menghela napas lega.
“Terima kasih.”
Laki-laki itu tersenyum.
“Aku Galuh.”
Begitulah awalnya. Sesederhana itu. Tidak ada musik. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada cinta pada pandangan pertama.
Hanya hujan. Dan seorang laki-laki yang memungut gambar-gambar yang hampir hanyut.
Mereka mulai sering bertemu. Entah mengapa hampir selalu saat hujan turun. Kadang di kantin kampus. Kadang di toko buku. Kadang di halte. Kadang di studio lukis.
Galuh selalu datang membawa cerita. Tentang apapun. Tentang buku. Tentang film. Tentang kota-kota yang ingin ia kunjungi. Tentang hidup yang menurutnya terlalu pendek untuk dijalani dengan setengah hati.
“Kalau suatu hari aku hilang, kamu bakal ingat apa tentang aku?” tanya Galuh suatu sore.
Anisa tertawa.
“Kamu mau ke mana memang?”
“Cuma nanya.”
Anisa berpikir sebentar.
“Lagumu.”
“Laguku?”
“Kamu selalu nyanyi fals.”
Galuh tertawa keras.
“Jahat.”
“Terus hujan.”
“Hujan?”
“Iya.”
“Kenapa hujan?”
“Karena setiap kali hujan turun, selalu ada kamu.”
Galuh tidak menjawab. Ia hanya memandang hujan yang mengalir di kaca jendela. Seolah sedang menyimpan sesuatu.
Mereka saling mencintai. Tidak pernah diucapkan dengan kalimat besar. Tidak pernah dipamerkan. Tidak pernah diumumkan kepada dunia. Namun cinta itu ada. Tumbuh pelan. Mengakar diam-diam. Mengisi ruang kosong dalam kehidupan masing-masing. Dan bagi Anisa, untuk pertama kalinya hidup terasa lengkap.
**
Lalu datang pagi yang sangat cerah. Langit biru. Matahari terang. Tidak ada awan. Tidak ada hujan. Tidak ada pertanda apa pun.
Galuh menghilang begitu saja. Tanpa pesan. Tanpa surat. Tanpa penjelasan. Tanpa salam perpisahan. Nomornya tidak aktif. Tempat tinggalnya kosong. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Tidak ada jawaban. Seolah laki-laki itu tidak pernah ada.
Minggu pertama, Anisa menunggu. Bulan pertama, Anisa mencari. Tahun pertama, Anisa berharap. Tahun kedua, Anisa menangis. Tahun ketiga, Anisa marah. Tahun keempat, Anisa mulai belajar hidup tanpa jawaban.
Namun ada luka yang tidak sembuh karena waktu. Ada luka yang justru tumbuh bersama waktu.
Anisa terus melukis. Hari demi hari. Malam demi malam. Setiap kali rindu datang, ia melukis. Setiap kali kecewa datang, ia melukis. Setiap kali ingin bertanya mengapa, ia melukis.
Dan entah bagaimana, semua lukisan itu selalu berakhir menjadi hujan.
Lukisan pertama terjual. Lukisan kedua juga. Lalu ketiga. Lalu puluhan. Lalu ratusan. Nama Anisa mulai dikenal. Kariernya melesat. Orang-orang memuji kedalaman emosinya.
Mereka menganggap Anisa jenius. Padahal yang mereka kagumi hanyalah luka yang belum selesai.
Dua puluh tahun berlalu. Pameran terbesar sepanjang hidupnya digelar. Lebih dari seratus lukisan hujan memenuhi ruangan.
Pengunjung berdesakan. Lampu galeri berkilau hangat. Media datang dari berbagai kota. Di tengah ruangan berdiri karya paling terkenal.
“Menunggu Hujan.”
Lukisan itu bernilai miliaran rupiah. Seorang perempuan duduk sendirian di bangku taman. Langit mendung. Payung terlipat di sampingnya. Seolah sedang menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Tidak ada yang tahu bahwa perempuan dalam lukisan itu adalah dirinya sendiri.
Anisa berdiri memperhatikan para pengunjung. Lalu tubuhnya terasa membeku. Di ujung ruangan. Di depan lukisan itu. Seorang laki-laki sedang berdiri. Rambutnya mulai memutih. Wajahnya terlihat lelah dan tua.
Namun Anisa mengenal sorot mata itu. Dalam satu detik, dua puluh tahun runtuh bersamaan. Galuh Pratama. Di sampingnya berdiri seorang anak perempuan kecil. Mungkin berusia sembilan tahun. Anak itu menarik lengan Galuh.
“Ayah…”
Jantung Anisa seperti berhenti berdetak.
“Ayah, aku suka lukisan itu.”
Kata itu menghantam lebih keras daripada kehilangan yang pernah ia rasakan.
Ayah.
Ayah.
Ayah.
Dua puluh tahun menunggu. Dan jawaban yang datang hanya satu kata.
Malam semakin larut. Galeri mulai sepi. Mereka akhirnya duduk berhadapan. Untuk pertama kalinya setelah dua dekade. Galuh tampak lebih tua daripada usianya. Matanya menyimpan kelelahan panjang.
“Aku minta maaf.”
Anisa tersenyum kecil.
Lucu sekali. Dua puluh tahun. Dan semuanya dimulai dengan tiga kata itu.
Galuh kemudian bercerita. Tentang penyakit ia derita. Tentang vonis dokter. Tentang ketakutan menjadi beban. Tentang keputusan bodoh untuk pergi tanpa menjelaskan apa pun. Tentang kehidupan yang kemudian membawanya menikah. Tentang istrinya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Tentang putri kecil yang kini menjadi seluruh dunianya.
Anisa mendengarkan. Tanpa tangisan. Tanpa amarah. Karena ternyata waktu telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia tidak menghapus luka. Tetapi mengajarkan cara hidup bersamanya.
Setelah Galuh pergi, Anisa kembali berdiri di depan lukisan termahalnya. “Menunggu Hujan.”
Semua orang menganggap lukisan itu mahakarya. Semua orang menganggap lukisan itu simbol cinta. Simbol kerinduan. Simbol kesetiaan. Namun malam itu Anisa melihatnya dengan cara berbeda. Untuk pertama kalinya. Ia sadar bahwa seluruh hidupnya dibangun di atas luka yang tidak pernah ia obati.
Pameran. Penghargaan. Popularitas. Kekaguman publik.
Seluruhnya tumbuh dari satu kehilangan yang tidak pernah ia lepaskan. Air mata mengalir perlahan. Ia akhirnya mengerti. Selama ini ia tidak sedang menunggu Galuh. Ia ternyata sedang menunggu dirinya sendiri. Menunggu keberanian untuk keluar dari hujan yang terus ia ciptakan.
Enam bulan kemudian, Anisa menggelar pameran baru. Semua orang datang dengan harapan melihat hujan lagi. Namun mereka terdiam.
Di tengah ruangan hanya ada satu lukisan besar. Tidak ada mendung. Tidak ada gerimis. Tidak ada payung. Tidak ada jalanan basah. Hanya langit biru yang sangat luas. Dan seorang perempuan yang berjalan menjauh ke arah cahaya. Sendirian. Namun tidak lagi kesepian. Judul lukisan itu: “Sesudah Hujan.”
Ketika wartawan bertanya mengapa ia berhenti melukis hujan, Anisa tersenyum. Senyum yang jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Lalu menjawab pelan, “Karena akhirnya aku tahu, hujan tidak pernah ditugaskan untuk tinggal selamanya.”
Ia berhenti sejenak. Memandang langit sore di luar galeri. Lalu melanjutkan, “Dan cinta yang tidak berhasil kita miliki, bukan berarti gagal. Kadang ia datang hanya untuk mengajari kita cara mencintai, sebelum akhirnya pergi.”
Di luar sana, langit sangat cerah. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Anisa tidak lagi berharap hujan turun.
Kota Hujan-Bogor, 12 Juni 2026💞
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




