Teh Hangat

Cerpen : Nurul Jannah*)

Pagi itu datang seperti biasa.

Tidak ada tanda apa-apa. Tidak ada firasat apa-apa yang mengganggu.

Hanya cahaya matahari yang jatuh tipis di lantai dapur, suara sendok kecil menyentuh gelas, dan aroma teh yang perlahan naik bersama uap. Semua berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya, biasa saja.

Ratih berdiri di depan meja dapur. Jemarinya yang mulai menua masih hafal takaran gula suaminya: satu setengah sendok. Tidak lebih. Tidak kurang. Tehnya tidak boleh terlalu pekat, tapi juga tidak pucat. Airnya harus mendidih, didiamkan sejenak, baru diseduh. Setelah itu, gelas diletakkan di sisi kanan meja makan, dekat koran yang sudah terlipat rapi

Begitulah setiap pagi.

Ia sendiri sudah lupa sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Mungkin sejak mereka masih tinggal di rumah kontrakan kecil dengan dinding lembap dan atap bocor. Atau sejak anak pertama lahir, dan dunia berubah menjadi lebih sibuk, lebih sempit, tetapi juga lebih penuh alasan untuk bertahan.

Suaminya, Arman bukan lelaki yang pandai mengucapkan cinta.

Ia tidak terbiasa memberi bunga atau merangkai kata-kata indah. Ia sering lupa tanggal-tanggal penting. Ia hanya lelaki biasa dengan tangan kasar, langkah cepat, dan perhatian-perhatian kecil yang tak dianggap istimewa.

Namun setiap pulang kerja, Arman selalu mengetuk pintu tiga kali dengan ritme yang sama. Tok. Tok-tok. Dan entah bagaimana, Ratih selalu tahu itu dia.

Setiap malam sebelum tidur, Arman selalu memeriksa kunci pintu meski Ratih sudah memastikan semuanya aman. Setiap hujan turun deras, lelaki itu akan keluar untuk memastikan jemuran tidak basah.

Setiap Ratih sakit kepala, ia hanya meletakkan minyak kayu putih di samping bantal dan berkata pendek, “Jangan banyak pikiran.”

Sesederhana itu.

Begitu lama mereka hidup bersama, sampai-sampai cinta tak lagi terdengar seperti kata. Ia berubah menjadi kebiasaan. Menjadi teh hangat. Menjadi lampu teras yang dinyalakan sebelum magrib. Menjadi pertanyaan singkat, “Nasi masih ada?” atau sekedar sapaan ringan, “kamu baik-baik saja, kan?”

Baca juga:  Menemukan Suara di Balik Layar Melalui Praktik Pembelajaran Mendalam

*

Pagi itu Arman duduk di meja makan seperti biasa. Kemeja lengan panjangnya sudah agak kusam di bagian siku. Rambutnya mulai banyak putih. Ia membuka koran, mengangkat gelas teh, meniupnya perlahan, lalu menyesap sedikit.

“Kurang manis?” tanya Ratih.

Arman menggeleng. “Pas.”

Jawaban itu pendek, tapi cukup membuat Ratih tenang.

Di rumah mereka, ketenangan memang sering datang dari hal-hal kecil: dari suara sandal di lorong, dari batuk kecil di kamar mandi, dari pintu yang dibuka dan ditutup oleh orang yang sama selama puluhan tahun.

Rumah itu sederhana. Cat dindingnya pudar. Meja makan kayunya sudah tua, salah satu kakinya disangga kardus. Tudung saji plastiknya pun sudah kusam. Namun di rumah itu, waktu menumpuk menjadi kenangan.

Ratih masih ingat saat mereka kehabisan uang, lalu Arman pulang membawa setengah kilogram telur dan berkata,

“Kita masak apa saja yang ada. Yang penting makan.”

Ia juga ingat malam panjang saat anak bungsu demam tinggi, Arman duduk tanpa tidur, hanya memandangi anaknya, sesekali menyentuh dahinya.

Dan ia ingat pertengkaran lama tentang hidup yang terasa berat. Namun setelah pertengkaran itu, Arman tetap memperbaiki sandal Ratih yang putus sebelum berangkat kerja.

Cinta mereka tidak meledak-ledak.

Cinta mereka bertahan. Dan Ratih tahu, yang bertahan sering kali jauh lebih kuat daripada yang sekadar indah.

Setelah sarapan, Arman berdiri dan merapikan kursinya.

“Nanti saya pulang agak sore.”

“Ada lembur?”

“Sedikit.”

“Jangan lupa makan.”

Arman mengangguk, lalu melangkah ke pintu. Di ambang pintu, ia mengenakan sepatu sambil bertumpu pada satu kaki, kebiasaan kecil yang selalu membuat Ratih tersenyum.

Sebelum keluar, ia menoleh.

“Tehnya enak.”

Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, kalimat itu tinggal lebih lama pagi itu, seakan waktu sengaja menyimpannya.

Menjelang siang, Ratih menjalani hari seperti biasa. Menyapu, mencuci, menyiram bunga. Ia sempat menggoreng tempe dan menyisihkan beberapa potong untuk Arman.

Sekitar pukul dua, telepon berdering. Suara di seberang terdengar tergesa.

Baca juga:  Buka Kejurnas Grasstrack, Sekda Doddy Tegaskan Pasaman Barat Siap Sukseskan Porprov Sumbar 2026

“Bu Ratih? Ini dari kantor Pak Arman…”

Dunia Ratih runtuh seketika. Kata-kata itu terdengar menyesakkan. Pingsan, rumah sakit, mohon segera datang.

Tangannya dingin. Kakinya lemas. Di rumah sakit, semuanya terasa asing. Lorong terlalu panjang. Suara orang-orang terlalu pelan. Ketika dokter menyampaikan kalimat yang tak ingin didengar siapa pun, Ratih hanya diam.

Tadi pagi dia masih minum teh. Tadi pagi dia bilang tehnya enak. Tadi pagi semuanya masih biasa.

Bagaimana mungkin sesuatu yang biasa itu tiba-tiba hilang?

Hari-hari setelahnya lewat seperti kabut. Rumah penuh orang, doa, dan ucapan belasungkawa. Ratih duduk, mengangguk, tersenyum tipis. Kesedihan yang sesungguhnya datang setelah semua orang pulang.

Saat rumah kembali sepi. Saat malam turun tanpa suara batuk di kamar mandi. Saat tidak ada lagi ketukan tiga kali di pintu. Saat meja makan hanya berisi satu gelas.

Di situlah kehilangan menunjukkan wajahnya. Pada kekosongan yang menempel di benda-benda.

Dan pada pagi hari, kehilangan itu terasa paling nyata. Karena tubuh Ratih masih hafal.

Ia tetap menjerang air. Tetap mengambil gelas yang sama. Tetap menyendok gula satu setengah sendok. Tetap meletakkan teh di sisi kanan meja.

Lalu ia tersadar. Tapi Arman tidak akan datang. Namun ia tidak berhenti.

Hari pertama, teh itu dibiarkan dingin. Hari kedua, sama. Hari ketiga, ia kembali membuatnya.

“Ibu… kenapa masih bikin dua gelas?” tanya Dina, anak sulungnya, pelan.

Ratih terdiam lama.

“Mungkin… karena tangan Ibu belum percaya.”

Hari-hari berlalu. Kebiasaan itu tetap ada. Kadang Ratih marah pada dirinya sendiri, tetapi setiap pagi, tangannya tetap melakukan hal yang sama.

Barangkali memang seperti itu cinta bekerja setelah kehilangan. Ia tidak langsung tahu bahwa rumahnya telah berubah. Ia masih mengetuk pintu lama, duduk di kursi lama, menunggu suara yang sama.

Sampai suatu pagi, hampir empat puluh hari setelah Arman pergi, Ratih duduk di meja makan dengan dua gelas teh di depannya.

Baca juga:  Tikus di Lambung Perahu

Ia memandangi gelas itu lama sekali.

“Mas, tehmu sudah saya buat.”

Suaranya bergetar.

“Masih satu setengah sendok gula. Saya ingat.”

Air matanya jatuh.

“Dulu saya kira cinta itu harus besar… harus banyak kata. Ternyata tidak.”

Ia terisak pelan.

“Cinta itu… sesederhana orang yang selalu pulang.”

Tangisnya pecah.

Dan di situlah ia mengerti, kehilangan terbesar bukan kehilangan seseorang yang pandai mengungkapkan cinta, melainkan kehilangan seseorang yang diam-diam telah menjadi rumah.

Perlahan, ia mengangkat gelas kedua itu dan menuangkannya ke wastafel.

Seperti belajar merelakan.

*

Sejak hari itu, Ratih tidak lagi membuat dua gelas.

Namun setiap pagi, ia tetap menyeduh teh. Kadang ia tersenyum. Kadang ia menangis. Kadang ia hanya diam. Kini ia tahu, merelakan bukan berarti melupakan.

Cinta tidak benar-benar pergi. Ia tinggal di kebiasaan. Di ingatan kecil. Di hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa.

Beberapa bulan kemudian, Ratih menemukan catatan belanja lama milik Arman.

Di belakangnya tertulis:

Gula.

Teh.

Minyak goreng.

Obat pusing Ibu jangan lupa.

Ratih tersenyum, matanya basah.

“Ayahmu memang tidak pandai bilang sayang,” katanya pelan.

“Tapi ternyata… ia menuliskannya di tempat-tempat kecil.”

*

Pagi kembali masuk dari jendela.

Cahaya jatuh di meja makan, pada gelas teh, pada kertas yang mulai menguning. Cahaya itu datang bukan di rumah. Bukan di foto. Melainkan di hati, lewat hal-hal sederhana yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Dan sejak itu ia mengerti, sebagian cinta tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk,  menjadi kebiasaan yang tetap hidup, meski orangnya telah tiada.”

Bogor, 18 Maret 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *