Oleh: Paimal Andri, S.Sos*)
Berjejer anak dan remaja duduk di halaman kantor pemerintahan atau lingkungan sekolah. Bukan untuk mengurus administrasi, bukan pula untuk berdiskusi soal pelajaran. Mereka datang karena satu hal yang sama: sinyal. Wifi gratis yang menyala tanpa henti telah menjelma menjadi magnet baru, mengumpulkan mereka dalam satu ruang yang ramai, tetapi sunyi dari makna.
Di tangan mereka, layar menyala lebih terang dari masa depan yang seharusnya sedang dibangun. Ada yang tenggelam dalam game online, ada yang larut dalam arus video pendek tanpa ujung di TikTok, Instagram, dan berbagai platform lainnya.
Waktu berjalan, tetapi tak lagi terasa. Yang tersisa hanya kebiasaan: datang, duduk, tersambung, lalu lupa pulang—bukan secara fisik, tetapi secara peran.
Fenomena ini sekilas tampak sepele. Anak-anak berkumpul, memanfaatkan fasilitas publik, menikmati kemajuan teknologi. Namun di balik itu, ada sesuatu yang perlahan terkikis: waktu belajar, kedekatan keluarga, dan bahkan wibawa orangtua di dalam rumah.
Rumah yang seharusnya menjadi ruang pertama pendidikan, kini kalah menarik dibanding sudut kantor dengan sinyal kuat. Orangtua yang seharusnya menjadi pusat perhatian, perlahan tergeser oleh notifikasi yang tak pernah berhenti. Bukan karena orangtua kehilangan kasih, tetapi karena perhatian anak telah direbut oleh sesuatu yang lebih cepat, lebih instan, dan lebih memikat.
Ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah tanpa pengawasan, persoalannya bukan lagi sekadar kecanduan game atau media sosial. Yang lebih dalam adalah renggangnya hubungan emosional antara anak dan orangtua. Ikatan yang seharusnya dibangun melalui percakapan, kebersamaan, dan perhatian, kini tergantikan oleh interaksi dengan layar. Perlahan, tanpa disadari, anak tumbuh dalam ruang yang ramai secara digital, tetapi sepi secara emosional.
Dampaknya mulai terlihat di sekolah. Sebagian dari mereka datang dengan mata lelah, tubuh lesu, dan pikiran yang tak lagi fokus. Ketika proses belajar berlangsung, mereka justru tertinggal. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena energi dan perhatian telah habis di tempat lain. Pada akhirnya, semangat belajar menurun, dan sekolah hanya menjadi formalitas yang dijalani tanpa makna.
Lalu, kepada siapa kesalahan ini diarahkan? Anak yang belum matang dalam mengendalikan diri? Orangtua yang dianggap abai? Atau pemerintah sebagai penyedia wifi gratis yang membuka akses tanpa batas?
Pertanyaan ini sering berhenti tanpa jawaban yang jelas. Padahal persoalannya tidak sesederhana menunjuk satu pihak sebagai penyebab. Ini adalah persoalan bersama, hasil dari kemajuan yang tidak sepenuhnya disertai kesiapan.
Anak memang belum memiliki kontrol diri yang kuat, dan itu adalah hal yang wajar. Orangtua pun tidak selalu mampu mengawasi setiap waktu, terutama di tengah tuntutan ekonomi dan kesibukan sehari-hari. Sementara itu, pemerintah hadir menyediakan akses digital sebagai bagian dari pembangunan, tetapi akses yang ada sering kali melalaikan kita.
Kita terlalu cepat membangun jaringan, tetapi terlalu lambat menyiapkan kesadaran. Wifi gratis diberikan dengan niat baik, tetapi tanpa disertai literasi digital, pengawasan, dan desain ruang yang mendidik. Akibatnya, fasilitas publik berubah fungsi—dari ruang pembelajaran menjadi ruang pelarian.
Di titik inilah, persoalan tidak lagi berdiri sebagai kesalahan individu, melainkan kegagalan kolektif dalam mengelola kemajuan. Kita sibuk membuka akses, tetapi lupa membangun arah.
Padahal, pendidikan bukan sekadar soal tersambung dengan internet. Pendidikan adalah tentang membantu anak menemukan makna hidup, mengenali diri, memahami keluarga, dan menyadari lingkungan sekitarnya. Tanpa arah itu, teknologi hanya akan menjadi alat yang menghabiskan waktu, bukan membentuk masa depan.
Ketika anak kehilangan arah karena tenggelam dalam arus digital, yang rusak bukan hanya proses belajar. Yang dipertaruhkan adalah masa depan itu sendiri. Dan ketika orangtua mulai kalah oleh sinyal, yang sebenarnya sedang kita saksikan bukan sekadar perubahan perilaku anak, melainkan pergeseran peran dalam keluarga.
Pada akhirnya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan melarang atau menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama: bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial.
Orangtua perlu hadir lebih dekat, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga membangun kedekatan. Pemerintah perlu memastikan bahwa akses digital disertai dengan edukasi dan arah yang jelas. Dan masyarakat, sebagai lingkungan terdekat, perlu kembali menjadi ruang yang hidup, bukan sekadar tempat singgah untuk mencari sinyal.
Sebab jika tidak, kita akan terus menyaksikan pemandangan yang sama: anak-anak yang berjejer, tersambung dengan dunia digital, tetapi perlahan terputus dari dunia nyata. Dan pada saat itu terjadi, yang hilang bukan sekadar waktu, melainkan arah kehidupan. []
Alumni Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat*)






