Cerpen Denny B. Roha
Langit di ufuk barat mulai menghitam. Dari ruang kemudi, seorang mualim berkali-kali mengarahkan teropong ke cakrawala.
Gumpalan awan pekat berputar seperti pusaran raksasa yang perlahan mendekat.
Alarm cuaca telah berbunyi sejak satu jam lalu, tetapi kapal tetap melaju membelah samudra.
Kapal itu bukan kapal kecil. Lambungnya kokoh, mesinnya bertenaga, dan mengangkut ribuan penumpang yang menaruh harapan dapat tiba dengan selamat di pelabuhan tujuan.
Di anjungan berdiri seorang nakhoda yang baru saja memperoleh sertifikat pelayaran.
Pengalamannya belum banyak, tetapi rasa percaya dirinya melampaui luasnya lautan.
Saat kapal meninggalkan dermaga beberapa waktu lalu, ribuan tangan melambai mengiringi keberangkatannya. Sorak-sorai memenuhi udara. Semua percaya, kapal itu akan membawa mereka menuju masa depan yang lebih baik.
Sang nakhoda berjalan menyusuri geladak. Semua anak buah kapal memberi hormat. Ia membalas dengan senyum tipis. Langkahnya berlanjut ke ruang mesin, tempat para teknisi yang telah puluhan tahun bergelut dengan suara bising mesin bekerja tanpa henti.
Sesekali ia menunjuk sebuah tuas atau panel.
“Itu digeser.”
“Yang ini dinaikkan.”
Tak seorang pun membantah. Mereka yakin, seorang nakhoda tentu lebih mengerti daripada awak kapal.
Dari ruang mesin ia menuju dapur. Para juru masak tetap sibuk menyiapkan makanan. Setelah itu ia naik ke ruang kemudi. Laut tampak tenang. Angin berembus lembut. Ombak mengalun jinak.
“Pak, masih bisa ditambah kecepatannya?” tanya sang nakhoda.
Mualim menoleh.
“Secara mesin bisa, Kapiten. Tetapi rangka kapal punya batas kemampuan.”
Nakhoda tersenyum kecil.
“Sekarang semua sudah diperhitungkan dengan komputer. Jangan terlalu banyak khawatir.”
Perintah pun dikirim ke ruang mesin.
Kecepatan kapal ditambah.
Hari-hari berikutnya perjalanan terasa menyenangkan. Burung camar berputar di langit biru. Ombak memecah haluan kapal seperti irama yang menenangkan.
Sesekali peluit kapal menggema, menyapa kapal lain yang berpapasan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Kapiten…”
Mualim II datang tergesa.
“Di depan terlihat badai.”
Nakhoda mengambil teropong.
“Hanya awan biasa.”
“Koordinat badai berada di barat laut, Kapiten. Perkiraannya cukup besar.”
Nakhoda menyerahkan kembali teropong.
“Badai memang untuk diterobos, bukan dihindari.”
“Tetapi…”
“Pertahankan kecepatan.”
Tak ada lagi ruang untuk berdiskusi.
Melalui pengeras suara, mualim menyampaikan perintah.
“Seluruh awak kapal bersiap. Mesin dipertahankan pada kecepatan sekarang.”
Dari ruang mesin terdengar suara keberatan.
“Biasanya kalau menghadapi badai, kecepatan dikurangi, Kapiten.”
Mualim menghela napas.
“Ini perintah.”
Suara mesin kembali meraung.
Langit semakin gelap.
Angin berubah liar.
Gelombang mulai meninggi.
Di kejauhan tampak beberapa kapal kecil sudah kehilangan kendali. Ada yang terombang-ambing, ada pula yang perlahan tenggelam ditelan ombak.
Alarm berbunyi tanpa henti.
Lampu-lampu bahaya berkedip merah.
Awak kapal mulai membagikan pelampung kepada para penumpang.
Kecemasan menjalar dari wajah ke wajah.
“Kapiten!”
Mualim I hampir berteriak.
“Badai tinggal hitungan menit!”
Nakhoda masih tampak tenang.
“Semua tetap di posisi. Jaga keselamatan masing-masing.”
Beberapa saat kemudian kapal berguncang keras.
Angin meraung seperti binatang buas.
Ombak setinggi gedung menghantam lambung kapal bertubi-tubi.
Tiang layar berderit.
Kaca-kaca ruang kemudi bergetar.
Suara doa mulai terdengar di berbagai sudut kapal.
Anak-anak menangis.
Orang-orang tua memejamkan mata.
Sebagian hanya bisa menggenggam pelampung sambil memandang langit yang semakin pekat.
Untuk pertama kalinya wajah sang nakhoda berubah pucat.
Ia meraih radio komunikasi.
“Komandan… di sini terjadi badai besar. Apa yang harus saya lakukan?”
Suara di seberang terdengar singkat.
“Atasi.”
Hanya satu kata.
Tak ada petunjuk.
Tak ada solusi.
Hanya satu kata yang menggantung di tengah deru badai.
“Kapiten! Haluan mulai kehilangan kendali!”
“Muatan bergeser!”
“Mesin sudah pada batas maksimum!”
Laporan datang bertubi-tubi.
Sang nakhoda menatap layar navigasi yang dipenuhi tanda bahaya.
Keringat membasahi dahinya.
“Geser ke kanan! Kecepatan penuh!”
Mualim II menggeleng.
“Tak bisa, Kapiten! Di kanan gelombang lebih besar.”
“Kalau begitu ke kiri!”
“Gunung laut menghadang!”
Ruang kemudi mendadak sunyi.
Tak ada lagi arah yang benar.
Tak ada lagi pilihan yang mudah.
Semua mata memandang sang nakhoda, menunggu keputusan terakhir.
Di luar, badai semakin menggila.
Lambung kapal berderit menahan tekanan ombak. Tiang-tiang bergoyang. Suara logam saling berbenturan seperti ratapan panjang.
Para penumpang hanya bisa berdoa. Mereka sadar, keselamatan mereka kini berada di tangan seorang pemimpin yang terlambat menyadari bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan hanyalah perjudian atas nasib banyak orang.
“Bagaimana, Kapiten?” teriak para mualim hampir bersamaan.
Sang nakhoda menatap lautan yang mengamuk.
Wajahnya tegang.
Matanya kosong.
Lalu, dengan suara lirih yang hampir tenggelam oleh gemuruh badai, ia berkata,
“Sudah… biarkan saja.”
Kapal itu terus melaju menuju ketidakpastian.
Entah hanya akan oleng, atau pecah berkeping-keping.
Namun satu hal telah lebih dulu karam sebelum kapal itu mencapai pelabuhan.
Kepercayaan para penumpangnya. []
Sekilas Tentang Penulis*
Denny Boy, lahir di Bukittinggi, 28 Juni 1966. Alumni IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) ini telah mengabdikan diri di dunia pendidikan. Pernah mengajar di sejumlah SMP Sikakap Mentawai, dan di sejumlah SMA di DKI Jakarta dan purna tugas sebagai Kepala SMA Negeri di DKI Jakarta bulan Juli 2026. Selain menjadi pendidik, ia aktif menulis cerpen, puisi, antologi, artikel, serta cerita humoris minang di media online *
