Overthinking

Oleh : Nurul Jannah*)

Pernahkah kita merasa sangat lelah, padahal hari itu tidak banyak bekerja?

Tidak sedang mengangkat beban berat. Tidak juga sedang berlari ke sana kemari.

Namun tenaga rasanya habis, dada sesak, dan kepala seperti tidak pernah berhenti berbicara.

Lalu muncul pertanyaan yang diam-diam mengusik,

“Sebenarnya yang membuat kita lelah itu apa, masalah atau kah pikiran kita sendiri?”


Suatu sore aku bertemu seorang sahabat lama, Dinda.

Wajahnya tampak letih.

“Ada apa?” tanyaku.

“Entahlah. Rasanya hidup berat sekali.”

“Apa yang terjadi?”

Ia terdiam cukup lama.

“Lagi banyak masalah?”

Ia menggeleng.

“Kalau dipikir-pikir sih, masalahnya sebenarnya tidak banyak.”

“Lalu?”

Ia menarik napas panjang.

“Yang banyak itu… pikiran ini. Berkelana kemana-mana. Overthinking.”

Aku tidak segera menjawab.

Karena aku tahu, kalimat itu lebih jujur daripada seribu cerita.

Betapa sering kehidupan menjadi berat, karena pikiran kita sendiri. Semua dipikirin.

Satu ucapan diulang puluhan kali. Satu kesalahan diputar ratusan kali. Satu penolakan dibawa ke mana-mana.

Seolah-olah peristiwa itu masih terjadi, padahal semuanya telah berlalu.

Akhirnya bukan peristiwanya yang menyiksa. Melainkan ingatan yang menolak melepaskannya.

Pernah kah tanpa sengaja menjatuhkan gelas?

Bunyinya hanya beberapa detik.

Setelah itu selesai. Bayangkan jika bunyi pecahan gelas itu diputar terus-menerus selama sehari penuh.

Baca juga:  Menolak Suap, Merawat Harga Diri

Siapa pun pasti akan merasa terganggu.

Begitulah cara kerja pikiran.

Banyak peristiwa hanya berlangsung beberapa menit. Namun pikiran mampu mengulangnya berhari-hari.

Bahkan bertahun-tahun.

Kalimat seseorang yang sebenarnya sudah dilupakan oleh orang yang mengucapkannya, masih kita simpan rapat.

Tatapan sinis yang hanya berlangsung sesaat, masih kita bawa ke mana pun melangkah.

Kesalahan kecil bertahun-tahun lalu, masih kita jadikan alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Tanpa sadar, pikiran berubah menjadi gudang yang penuh barang-barang rusak.

Suatu hari aku pernah mengeluh kepada seorang guru.

“Kenapa ya, sulit sekali melupakan?”

Beliau tersenyum, lalu mengambil segelas air.

“Pegang gelas ini.”

Aku memegangnya.

“Berat?”

“Enggak.”

Beberapa menit kemudian beliau bertanya lagi.

“Sekarang bagaimana?”

“Mulai pegal.”

Beliau kembali tersenyum.

“Kalau kamu pegang sampai besok?”

“Tentu tangan saya akan sakit.”

“Masalahmu seperti gelas ini. Beratnya mungkin tidak bertambah. Tetapi karena terus digenggam, akhirnya terasa semakin menyiksa.”

Aku terdiam.

Betapa selama ini bukan masalah yang membuatku kelelahan. Melainkan keengganan untuk melepaskannya.

Sejak hari itu aku mulai belajar. Belajar menghentikan percakapan yang tidak perlu di dalam kepala.

Belajar mengatakan kepada diri sendiri,

“Sudah… cukup.”

Tidak semua ucapan orang harus disimpan.

Tidak semua kesalahan harus dihukum seumur hidup.

Tidak semua penyesalan harus diberi kamar di dalam hati. Karena ada pikiran yang memang harus dilepas agar jiwa bisa bernapas.

Baca juga:  Di Manakah Nurani Berpihak

Allah tidak menciptakan hati untuk menjadi gudang luka. Allah menciptakannya sebagai tempat bertumbuhnya iman, harapan, syukur, dan kasih sayang.

Maka, jangan biarkan ruang kepala dipenuhi suara-suara yang melemahkan.

Isilah dengan doa. Penuhi dengan husnuzan. Rawat dengan zikir.

Karena hati yang terus diberi cahaya tidak akan betah dihuni oleh kegelisahan.

Jika hari ini ada satu kalimat yang terus mengganggu pikiran, lepaskan.

Jika ada satu penyesalan yang terus menghukum diri, ikhlaskan.

Jika ada satu luka yang terus diputar siang dan malam, serahkan kepada Allah.

Sebab tidak semua yang singgah di dalam pikiran pantas tinggal di sana.

Ada yang cukup datang sebagai pelajaran, lalu dipersilakan pergi. Karena semakin ringan isi kepala, semakin lapang langkah menjalani hidup.

Dan, kedamaian hadir ketika hati berhenti memutar ulang luka yang seharusnya telah dilepaskan.

Bogor, 2 Juli 2026

Penulis adalah Dosen IPB University Bogor, aktif menulis dan literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *