Oleh: Nurul Jannah*)
Jika Indonesia Datang Mengetuk Pintu Rumahku
Pagi ini, 17 Agustus 2026.
Dalam imajinasiku, Indonesia datang mengetuk pintu rumahku.
Aku membukanya.
Di hadapanku berdiri seorang lelaki tua berusia delapan puluh satu tahun.
Wajahnya teduh, tetapi tampak lelah. Di dahinya ada garis-garis panjang seperti sungai yang membelah pulau-pulau. Telapak tangannya nampak kasar.
Pakaiannya sederhana. Merah dan putih.
Aku mempersilahkannya masuk.
“Selamat ulang tahun,” kataku.
Indonesia tersenyum.
“Terima kasih.”
Aku menunggu ia mengatakan hal lain.
Tetapi ia hanya duduk.
Diam.
Lama sekali.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Apakah ada yang ingin kau sampaikan?” tanyaku.
Indonesia menatapku.
“Aku justru ingin mendengar.”
“Mendengar apa?”
“Ceritakan kepadaku, bagaimana rasanya hidup di dalam diriku selama ini?”
Aku terdiam.
Pertanyaan macam apa itu?
Aku mulai bercerita.
Tentang gunung-gunung yang masih indah.
Tentang laut yang membuat siapa pun ingin pulang.
Tentang sawah yang menguning.
Tentang azan yang terdengar dari surau kecil, lonceng gereja yang berdentang, anak-anak berangkat sekolah, pedagang membuka warung sejak subuh, dan ibu-ibu yang menyiapkan sarapan ketika sebagian besar kota masih terlelap.
Aku bercerita tentang orang-orang yang tetap baik meskipun hidup tidak selalu berpihak kepada mereka.
Tentang guru di pelosok yang terus mengajar.
Tentang petani yang menanam meski tidak pernah tahu berapa harga panennya nanti.
Tentang nelayan yang berangkat ketika langit masih gelap.
Tentang tenaga kesehatan yang tetap berjaga ketika keluarga mereka sendiri sedang menunggu di rumah.
Tentang jutaan manusia biasa yang namanya tidak pernah masuk berita, tetapi membuat negeri ini tetap berjalan setiap hari.
Indonesia tersenyum.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku beruntung memiliki mereka,” katanya.
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
Lalu Indonesia bertanya lagi.
“Sungai-sungaiku bagaimana?”
Aku kehilangan kata-kata.
“Hutanku?”
Aku menunduk.
“Lautku?”
Aku semakin sulit menjawab.
“Apakah rakyatku masih saling menyayangi?”
Kali ini aku benar-benar diam.
Indonesia tidak marah.
Itulah yang justru membuat dadaku terasa sesak.
Ia hanya memandang ke luar jendela.
Kemudian berkata,
“Aku sudah delapan puluh satu tahun. Aku tidak berharap kalian memberiku hadiah.”
Ia berhenti sebentar.
“Aku hanya berharap kalian tidak menghabiskanku.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menghantam tepat ke dada.
Selama ini kita sering mengira Indonesia adalah peta.
Deretan pulau.
Batas wilayah.
Nama provinsi.
Gunung, sungai, laut, hutan, kota, dan desa.
Padahal Indonesia jauh lebih dekat daripada itu.
Indonesia adalah nasi yang kita makan pagi ini.
Air yang mengalir dari keran.
Pohon yang memberi teduh.
Jalan yang kita lewati.
Bahasa yang membuat kita saling memahami.
Tetangga yang datang ketika keluarga kita berduka.
Tangan-tangan yang bergotong royong ketika ada bencana.
Dan rumah yang selalu kita rindukan ketika berada jauh darinya.
Indonesia bukan hanya tanah tempat kita berdiri.
Indonesia adalah jutaan kehidupan yang saling menitipkan masa depan.
“Apa yang kauinginkan di usia delapan puluh satu?” tanyaku.
Indonesia tersenyum.
“Tidak banyak.”
“Apa?”
“Jangan terlalu sibuk mencintaiku dengan kata-kata.”
Aku tercekat.
“Lalu?”
“Cintai aku dengan cara kalian hidup.”
Aku menatapnya.
Ia melanjutkan,
“Kalau menjadi guru, didiklah anak-anakku dengan hati.
Kalau menjadi pejabat, jangan curi hak mereka.
Kalau menjadi pengusaha, jangan lukai tanahku untuk memperkaya dirimu.
Kalau menjadi ilmuwan, gunakan ilmumu agar kehidupan menjadi lebih baik.
Kalau menjadi pedagang, jangan kurangi timbangan.
Kalau menjadi orang tua, ajarkan anak-anakmu kejujuran.
Dan kalau tidak memiliki jabatan apa pun…”
Ia tersenyum.
“…jadilah manusia baik. Itu sudah sangat membantuku.”
Entah mengapa, kalimat terakhir itu membuat mataku panas.
Dari kejauhan terdengar gema Indonesia Raya.
Aku berdiri.
Indonesia pun berdiri di sampingku.
Untuk beberapa saat kami tidak berbicara.
Aku memandang Merah Putih yang berkibar di luar rumah.
Aku pun makin memahami bahwa negeri ini tidak selalu membutuhkan kita melakukan hal besar.
Ia membutuhkan jutaan manusia yang bersedia melakukan hal kecil dengan benar.
Tidak membuang sampah sembarangan.
Tidak mengambil yang bukan haknya.
Tidak menyebarkan kebencian.
Tidak mempermalukan orang yang berbeda.
Tidak menjadikan kekuasaan sebagai kesempatan untuk mengambil sebanyak-banyaknya.
Dan tidak mewariskan kerusakan kepada anak-anak yang bahkan belum lahir.
Karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh orang-orang yang namanya kita kenal.
Masa depan Indonesia juga sedang ditentukan pagi ini, di dapur, di sekolah, di kantor, di pasar, di sawah, di jalan, dan di rumah-rumah sederhana; oleh manusia biasa seperti kita.
Aku menoleh.
Kursi di sampingku sudah kosong.
Indonesia telah pergi.
Entah sejak kapan.
Di atas meja tertinggal selembar kertas kecil.
Aku membukanya.
Tidak ada kalimat panjang.
Hanya satu pertanyaan tertulis di sana:
“Jika seratus tahun kemerdekaanku tiba nanti, Indonesia seperti apa yang ingin kalian tunjukkan kepada anak cucu kalian?”
Aku membaca pertanyaan itu berulang kali.
Tahun 2045 tiba-tiba terasa sangat dekat.
Anak-anak hari ini akan tumbuh dewasa.
Sebagian dari kita bisa jadi masih ada.
Sebagian lainnya barangkali sudah menjadi nama dalam doa keluarga.
Tetapi apa pun yang terjadi, satu hal yang pasti;
Indonesia akan terus berjalan setelah kita selesai hidup di dalamnya.
Maka pada 17 Agustus 2026 ini, aku tidak ingin hanya mengucapkan selamat ulang tahun.
Indonesia…panjanglah umurmu melampaui umur kami.
Tetaplah menjadi rumah ketika kami telah tiada.
Tetaplah hijau.
Tetaplah memiliki sungai yang mengalir jernih.
Tetaplah memiliki hutan tempat burung pulang.
Tetaplah menjadi negeri tempat anak-anak berani bermimpi.
Dan semoga, ketika suatu hari kami harus meninggalkanmu, kami meninggalkanmu dalam keadaan lebih baik daripada ketika kami menerimamu.
Karena kita bukan pemilik Indonesia.
Kita hanya generasi yang sedang mendapat giliran menjaganya.
Hari ini giliran kita.
Besok, kita harus menyerahkannya.
Dan sebelum hari itu datang, semoga kita dapat berkata dengan bangga:
“Indonesia, selama aku hidup di rumahmu, aku telah berusaha tidak melukaimu.”
Dirgahayu ke-81, Indonesiaku.
17 Agustus 2026.
Hari ini bukan hanya tentang usiamu yang bertambah.
Hari ini adalah pengingat bahwa waktu kita untuk menjagamu justru semakin berkurang❤️
Bogor, 17 Agustus 2026
Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)
