Syukur

Oleh: Dr. Afrinal, MH*)

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيْدٌ (QS-IBRAHIM (7).

Maknanya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Hidup adalah karunia Allah SWT. Di balik karunia itu setiap manusia wajib hukumnya bersyukur atas nikmat yang di berikan Sang Khalik kepada hambanya.

Orang yang pandai dan selalu bersyukur atas nikmat yang dia dapatkan maka Allah berjanji akan selalu menambah nikmat itu. Sebaliknya bila khufur terhadap nikmat maka azab Allah swt itu sangat-lah pedih.

Syukur sering juga di baratkan sebagai kunci. Maknanya semakin sering digunakan maka akan semakin banyak pula pintu kebaikan yang terbuka. Sering pula kita mendengar bahwa orang-orang yang bersyukut tidak memiliki segala-galanya. Akan tetapi selalu menghargai setiap kurnia Allah swt kapan saja dan dimana saja.

Berdasarkan ayat-ayat yang dikutip penulis di atas, ada beberapa kandungan nasehat dan ini harus menjadi pedoman bagi kita saat hidup di dunia ini.

BACA JUGA :  Merdeka Itu Belum Selesai, Tuan

Pertama, Allah menjanjikan penambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur.

Kedua, Bersyukur mencakup pengakuan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pembuktian melalui amal saleh.

Ketiga, Mengingkari atau menyalahgunakan nikmat Allah (kufur nikmat) merupakan perbuatan yang diancam dengan azab yang sangat pedih.

Keempat, ayat ini mengajarkan bahwa rasa syukur menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan dan bertambahnya karunia Allah.
Bila kita telaah satu-satu apa saja kandungan yang kita peroleh dalam makna syukur sebagai nikmat yang sebenarnya adalah, hati jadi tenang dan selalu bahagia.

Nikmat yang selalu bertambah dan penuh keberkahan salah satunya rezeki (berupa materi) yang didapat walau sedikit tapi perasaan tenang dan lega tiada tara, maka hanya pribadi dan perasaan kitalah masing-masing yang tahu.

Selanjutnya syukur sebagai nikmat di Cintai Allah SWT dan di cintai manusia. Saat kita dicintai manusia, hubungan diantara kita sesama makhlus selalu baik. Ibaratnya kita ini selalu jadi tauladan dan mampu memberikan contoh kepada orang dan orang lain mengikuti nasehat dan pesan-pesan kita, semisal dalam diskusi.

BACA JUGA :  Kementerian ATR/BPN, KPK, dan Pemda Jabar Kerja Sama Pencegahan Korupsi serta Penguatan Ekonomi Daerah

Bentuk lainnya, dalam hidup dan kehidupan saat di dunia ini selalu mendapatkan keberkahan. Dan yang paling kita kejar dan menjadi cita-cita semua kita adalah adanya keselamatan di akhirat kelak. Amiiin.

Bila kita bandingkan syukur sebagai nikmat dan tidak bersyukur ada azab Allah itu pedih, tanda-tandanya dipastikan ada. Diantaranya, hati sebagian manusia itu dalam kondisi gelisah dan tidak merasa tenang dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Bicara soal nikmat selalu saja merasa kekurangan bahkan ada yang dicabut dari dirinya oleh Allah swt, cuma saja ada yang tidak menyadarinya.

Tanda lainnya dan ini tentunya sangat kita takuti. Dan semoga semua masalah ini terhindar dari kita sebagai seorang yang bertitelkan Islam dan Muslim, ”apa itu, jangan sampai adanya kebencian Allah swt kepada kita dan termasuk juga kebencian satu manusia dengan manusia lainnya.

BACA JUGA :  Menteri Nusron Minta Dukungan Kepala Daerah Wujudkan Transformasi Layanan Pertanahan

Kalau ini sempat terjadi dan dialami maka dapat dipastikan akan ada azab di dunia sebelum masanya datang di akhirat kelak. Karena, hakikat manusia yang paling merugi itu dipastikan ini sangat menakutkan adalah, ”sudah- lah kita merana di dunia dan di akhirat mendapatkan azab yang sangat pedih pula”. Semoga ini semua menjadi renungan bagi kita sebagai umat akhir zaman. Amiiin ya rab []

Dosen Fakultas Syari’ah UIN IB Padang.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *