Menolak Roboh

Oleh: Nurul Jannah*)

Ada hari,
ketika langit tak lagi berwarna biru.

Awan menggulung perlahan,
membawa kabar yang tak pernah kita undang.

Hujan turun,
bukan hanya membasahi bumi,
tetapi juga membasahi hati.

Lalu kehidupan bertanya,
“Masih sanggupkah kau melangkah?”

Tegar,
Bukan tentang mata
yang tak pernah menangis.
Karena air mata
bukan pertanda rapuh.

Ia adalah bahasa jiwa
yang sedang belajar menerima.
Ketika luka tak lagi mampu diterjemahkan oleh kata-kata.

Ia mengalir,
Lalu perlahan mengajarkan hati cara menerima.

Tegar,
Bukan tentang bibir
yang selalu tersenyum.
Sebab ada senyum
yang dipahat di atas luka.

Ada senyum,
yang lahir setelah malam-malam panjang
dipenuhi doa.

Ada juga senyum,
yang tumbuh setelah
hati berkali-kali belajar memaafkan.

Ada yang kehilangan orang yang paling dicintainya.

Ada yang kehilangan rumah.

Ada yang kehilangan pekerjaan.

Ada yang kehilangan harapan.

Dan ada,
yang kehilangan dirinya sendiri.

Namun,
kehidupan tidak pernah berhenti mengajarkan satu pelajaran.

BACA JUGA :  Sinergi Kejaksaan dan Pemkab Tanah Datar Panen Raya Bawang Merah, Perkuat Ketahanan Pangan dan Tekan Inflasi

Bahwa matahari
selalu datang,
setelah malam paling gelap.

Pohon yang paling kokoh
bukanlah pohon
yang tak pernah diterpa angin.

Melainkan pohon
yang akarnya semakin dalam menghunjam ke tanah,
setelah berkali-kali dihantam badai.

Begitulah manusia.

Luka,
sering kali mengajarkannya lebih bijaksana.

Air mata,
sering kali melembutkan hati yang dahulu keras.

Kehilangan,
sering kali menuntunnya lebih dekat kepada Allah.

Mungkin hari ini,
engkau sedang memungut serpihan-serpihan mimpimu.

Mungkin hari ini,
namamu tak lagi disebut.
Usahamu tak lagi dihargai.
Pengorbananmu tak lagi diingat.
Doamu terasa belum dijawab.
Dan, langit seakan memilih diam.

Tetapi,
jangan pernah menyimpulkan akhir perjalananmu,
ketika Allah
belum selesai menulis halaman terakhir takdirmu.

Sebab,
tegar bukan berarti tidak terluka.

Tegar adalah,
tetap bersujud
meski hati retak.

Tetap bersyukur,
meski tangan kosong.

Tetap berbuat baik,
meski dibalas kecewa.

Tetap memaafkan,
meski disakiti

Tetap percaya,
meski seluruh jalan masih tampak gelap.

BACA JUGA :  Presiden Diminta Jadikan Pertemuan dengan Kepala Daerah sebagai Momentum Reformasi Sistemik

Bukankah benih
harus terkubur dalam gelap,
sebelum tumbuh menjadi pohon yang rindang?

Bukankah mutiara, lahir dari luka dan
harus lama berdiam
di dalam cangkang?

Bukankah emas
harus dibakar
agar kemilaunya tampak memancar?

Lalu,
mengapa engkau ingin menjadi pribadi yang kuat,
tetapi menolak setiap ujian?

Jika hari ini,
langkahmu terasa berat,
berhentilah sejenak,
tetapi, jangan menyerah.

Jika hari ini,
air matamu belum berhenti,
menangislah, tetapi jangan kehilangan harapan.

Jangan putus asa.
Jika hari ini
tak seorang pun memahami perjuanganmu,

Allah memahaminya.

Allah menghitung setiap tetes air matamu.
Mendengar setiap bisikan doamu.
Mengetahui setiap luka
yang tak pernah kau ceritakan kepada siapa pun.

Kelak,
ketika engkau menoleh ke belakang,
engkau akan tersenyum.

Karena ternyata Allah
tidak pernah meninggalkanmu.

Dan engkau akan berkata,

“Aku pernah hampir menyerah…”

“Aku pernah merasa tidak sanggup…”

“Aku pernah berfikir semuanya telah berakhir…”

“Tetapi Allah tidak pernah melepaskan genggamanNya”

BACA JUGA :  Wali Kota Solok Apresiasi Hadirnya Solok Arena, Fasilitas Baru untuk Geliat Olahraga Daerah

Pada akhirnya, Allah mengajarkanku satu hal

Bahwa yang paling tegar bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh.

Yang paling tegar adalah mereka yang setiap kali jatuh,
memilih bangkit lagi,
meski berkali-kali harus memungut kembali kepingan-kepingan hatinya,
lalu melangkah menuju cahaya,
dengan keyakinan bahwa bersama Allah,
tidak ada luka yang sia-sia.

Tidak ada doa yang hilang di langit,

Dan tidak ada badai yang berlangsung selamanya.

Sesungguhnya, setelah badai berlalu,
Allah selalu menyiapkan langit yang lebih biru,
bagi mereka yang memilih tetap percaya.💗

Jakarta, 3 Agustus 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *