Denyut Pembangunan dalam Matematika Langit

Catatan Budaya : Pinto Janir*)

Pernahkah kita bertanya, dari mana sesungguhnya sebuah jalan itu dimulai?

Apakah dari aspalnya?

Bukan, sanak. Bukan dari sana.

Sebuah “jalan” senantiasa berawal dari nukleus pikiran yang tidak pernah berhenti memikirkan kampung halamannya.

Barangkali itulah sebabnya mengapa saya menulis, lalu menciptakan lagu ini.

Budayawan dan sastrawan, Pinto Janir. (foto; ist)

Lagu ini saya ciptakan sekitar tahun 2021. Kini, pada tahun 2026, saya mengaransemennya kembali dengan memanfaatkan kecanggihan “studio” berteknologi kecerdasan buatan.

Lagu ini saya persembahkan kepada Andre Rosiade.

Malam ini saya tidak menghitung berapa banyak bintang di langit.

Juga tidak akan penah mempertanyakan mengapa bulan berkelimun awan.

Saya pun tidak sedang menghitung berapa kilometer panjang jalan yang terbentang atau berapa triliun rupiah yang dialokasikan Pemerintah untuk mempercepat pembangunan di Ranah Bundo, ranah tacinto.

Saya juga tidak menghitung sudah berapa banyak proyek besar yang ia kawal dan ia dorong percepatan pembangunannya.

Soal hitung-hitungan adalah soal angka-angka. Dalam urusan angka, saya selalu kalah.

Nilai matematika saya buruk sejak dahulu kala. Mungkin karena saya memang kurang menyukai berhitung.

Matematika saya adalah matematika langit.

Ada hal-hal yang tak dapat diukur oleh matematika dunia, yaitu ketika tangan-tangan Tuhan ikut bekerja.

BACA JUGA :  Cinta yang Tak Pernah Diminta

Dalam cara pandang budaya yang saya pahami, segala sesuatu yang terjadi di semesta ini bergerak dalam perhitungan-Nya.

Saya yakin, tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Tidak ada itu.

Segala sesuatu berlangsung dalam perhitungan yang saya sebut sebagai matematika-Nya. Tidak akan bergerak sesuatu, jika bukan atas kehendak-Nya.

Ooo, bukankah begitu?

Saya tidak menghitung panjang, lebar, perkalian, ataupun perjumlahan.

Yang saya hitung adalah denyut, getar, dan debar serta rindu.

Yang berdenyut itu adalah pembangunan.

Dari jalan tol Padang ke Sicincin yang bergerak menuju Bukittinggi, Flyover Sitinjau Lauik, Stadion Haji Agus Salim, Sekolah Rakyat, pasar-pasar yang dibangunkan kembali, air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah, hingga luka-luka pascabencana yang perlahan dijahit oleh Pembangunan, semuanya seperti menyampaikan satu kalimat yang sama: Sumatera Barat tidak boleh tertinggal!

Saya menyimak pesan itu sejak lama.

Saya ulang lagi, pada tahun 2021, ketika banyak orang belum melihat utuh arah langkahnya, saya telah menulis sebuah lagu.

Intuisi saya bergerak lebih dahulu. Maka lahirlah lagu berjudul “Cinto ka Ranah Bundo Makin Manggilo.”

BACA JUGA :  Puisi Esai "Kampungku di Aceh Hilang" Sukses Mengaduk Emosi Penonton

Lagu itu lahir bukan karena kedekatan saya dengan Andre Rosiade, melainkan karena saya mengamati jalan pikirannya yang menurut saya, ia benar-benar mencurahkan dirinya bagi pembangunan Sumatera Barat.

Sesudah itu, hampir lima tahun kami tidak pernah bersua, tak pernah saling menyapa, sekalipun lewat WA.

Hidup membawa kami kepada kesibukan masing-masing. Hingga kini kami pun tak lagi bertemu-temu.

Namun bukankah mata hati tidak memerlukan jadwal pertemuan untuk tetap melihat?

Saya terus “melihatnya”. Saya terus mengikuti jejak-jejak kerjanya.

Dan saya menemukan satu hal yang tidak berubah. Yakni tentang cintanya kepada Ranah Bundo. Cintanya itu seperti sungai yang terus mencari muara !

Hari ini lagu itu saya aransemen ulang dengan bantuan kecerdasan buatan.

Zaman boleh berganti. Teknologi boleh berubah. Tetapi rasa hormat kepada orang yang bekerja untuk kampung halamannya, tidak boleh ikut usang.

Saya selalu percaya, peradaban tidak dibangun hanya oleh mereka yang sibuk bekerja.

Peradaban juga dibangun oleh mereka yang bersedia mengakui kerja orang lain dengan jujur.

Pertanyaan saya, mengapa kita acap kali begitu hemat, bahkan terkesan pelit memberi apresiasi, padahal pujian yang tulus tidak pernah membuat langit runtuh?

BACA JUGA :  "Melawan Diri Sendiri"

Untuk itu, saya memilih mengucapkannya melalui lagu. Sebab ada kalanya nada mampu menjelaskan sesuatu yang gagal diterangkan oleh pidato. Sanak, saya sungguh percaya akan hal itu.

Dan izinkan saya menegaskan satu hal. Saya bukan orang Gerindra. Bukan pula bagian dari barisan politik Andre Rosiade. Saya hanyalah seorang nan urang Minangkabau bersuku Sikumbang yang percaya bahwa siapa pun yang menanam manfaat di tanah ini, namanya pantas dipetik, lalu kita sangkutkan di hati dan di tengkorak kepala.

Sanak denai, mari kita beretorika; bukankah kampung halaman tidak pernah bertanya dari partai mana engkau datang?

Kampung halaman hanya akan bertanya: apa yang telah kaubawa pulang, sanak oi?

Nah, sebelum kata-kata ini menjadi terlalu panjang, biarlah musik yang melanjutkan percakapan kita.

Silakan dengarkan laguku ini ; “Cinto ka Ranah Bundo Makin Manggilo.”

Salam Budaya.
Jakarta, 1 Agustus 2026

Penulis adalah Budayawan dan Sastrawan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *