Cinta yang Tak Pernah Diminta

Oleh: Nurul Jannah*)

Pernahkah engkau mendengar suara pohon yang ditebang?

Ia tidak berteriak.

Tidak memaki.

Tidak membalas.

Ia hanya tumbang…
lalu diam.

Namun, bersama rebahnya batang itu,
ada burung yang kehilangan rumah,
ada mata air yang kehilangan pelindung,
ada tanah yang perlahan kehilangan pelukannya.

Dan kita…
sering kali tidak merasa kehilangan apa-apa.

Pernahkah engkau melihat sungai menangis?

Airnya tidak pernah meminta dikasihani.

Ia tetap mengalir,
meski tubuhnya dipenuhi sampah,
meski napasnya sesak oleh limbah,
meski warnanya tak lagi sebening doa seorang ibu.

Sungai tetap setia.

Tetapi manusia
sering kali mengkhianati kesetiaannya.

Lalu langit mulai mengirimkan pesan.

Hujan turun lebih deras.
Angin bertiup lebih keras.
Bumi berguncang lebih lama.
Karena alam telah terlalu lama memikul luka yang kita tinggalkan.

Padahal…

Setiap pagi,
matahari tetap setia menghangatkan.

Pepohonan tetap menghadiahkan oksigen,
bahkan kepada tangan yang melukai batangnya.

BACA JUGA :  Menghutangi Bisa Lebih Utama daripada Bersedekah

Tanah tetap menumbuhkan padi,
meski berkali-kali diinjak tanpa rasa syukur.

Laut tetap menghamparkan ikan,
meski berkali-kali dipenuhi plastik.

Beginilah cinta alam.

Ia terus memberi,
bahkan ketika tidak lagi dicintai.

Barangkali,
yang sedang sakit bukanlah bumi.

Yang sedang sakit
adalah hati manusia.

Hati yang terlalu sibuk membangun gedung,
tetapi lupa memelihara hutan.

Terlalu pandai menghitung keuntungan,
tetapi lupa menghitung kerusakan.

Terlalu fasih berbicara tentang kemajuan,
tetapi gagap ketika harus menjaga kehidupan.

Padahal Allah telah menitipkan bumi ini
bukan untuk kita kuasai.
Melainkan untuk kita rawat.

Bukan untuk kita habiskan.
Melainkan untuk kita wariskan.

Setiap daun yang bergoyang
bertasbih kepada Allah.

Setiap ombak yang berkejaran
bertahmid kepada-Nya.

Setiap gunung yang menjulang
bertakbir mengagungkan-Nya.

Dan setiap makhluk di bumi
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Lalu mengapa hanya manusia
yang sering lupa ikut bertasbih bersama alam?

Rasanya,

Mencintai lingkungan
tidak harus dimulai dengan menanam seribu pohon.

BACA JUGA :  Jangan Kotori Kertas Putih Praja Muda

Melainkan dimulai
ketika hati kembali hidup.

Ketika mata memandang sehelai daun
lalu melihat ayat-ayat Allah.

Ketika telinga mendengar desir angin
lalu merasakan tasbih seluruh alam.

Ketika kaki menginjak tanah
lalu sadar bahwa suatu hari
di tanah yang sama
kita pun akan kembali.

Jika kelak Allah bertanya,

“Bumi yang Aku titipkan kepadamu, bagaimana engkau menjaganya?”

Apa yang akan kita jawab?

Akankah kita berkata
bahwa kita terlalu sibuk mengejar dunia?

Ataukah kita mampu berkata,

“Ya Allah…
aku telah berusaha mencintai bumi-Mu,
karena aku mencintai-Mu.”


Maka hari ini,
sebelum matahari tenggelam,
marilah kita memulai kembali.

Menanam satu pohon.

Mengurangi satu sampah.

Menghemat setetes air.

Menjaga sepetak tanah.

Mengajarkan satu anak
untuk mencintai alam.

Karena barangkali,
bukan pohon itu yang paling membutuhkan kita.

Kitalah yang sesungguhnya membutuhkan pohon itu
untuk menjadi saksi,
bahwa kita pernah mencintai bumi
sebagai amanah dari Allah.

BACA JUGA :  Jika Hari Ini Dipanggil

Dan ketika kelak kita dipanggil pulang,
semoga bumi yang pernah kita pijak ini
tidak menjadi saksi atas kerakusan kita.

Melainkan menjadi saksi
bahwa pernah ada seorang hamba
yang berjalan dengan lembut di atasnya,
menjaganya dengan penuh cinta,
dan mengembalikannya kepada generasi berikutnya
dalam keadaan yang lebih baik.

Karena mencintai bumi,
pada hakikatnya,
adalah salah satu cara
mencintai Penciptanya❤️.

Jakarta, 31 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *