Oleh : Ahmad Saputra, S.Pd*)
Ada satu adegan yang mungkin akrab di banyak rumah tangga kita. Seorang ibu menasihati anaknya panjang lebar tentang pentingnya jujur, lalu beberapa menit kemudian, saat tamu datang dan ia sedang malas menerima, ia berbisik ke anaknya, “Bilang aja Ibu lagi keluar.”
Anak itu diam, tapi ia sedang belajar sesuatu, bukan dari kata-kata yang baru saja didengarnya, melainkan dari apa yang baru saja dilihatnya.
Inilah paradoks yang jarang kita akui: kita ingin anak-anak tumbuh jujur, disiplin, dan berempati, tapi metode yang paling sering kita pakai adalah ceramah, bukan teladan. Padahal anak-anak, jauh sebelum mereka bisa memahami nasihat panjang, sudah menjadi pengamat yang tajam. Mereka merekam bagaimana orang tuanya bersikap saat marah, saat berjanji, saat berhadapan dengan kesulitan, dan itulah yang kelak mereka tiru, bukan apa yang dikatakan.
Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli sering dirayakan dengan lomba, hadiah, atau imbauan singkat di media. Tapi pembentukan karakter anak bukan proyek satu hari.
Ia adalah proses harian yang nyaris tak terlihat, terjadi di meja makan, di jalan menuju sekolah, di caranya orang tua bicara pada orang lain di depan mereka.
Keteladanan, Bukan Sekadar Doktrin
Dalam tradisi pendidikan Islam, ada konsep yang disebut “uswatun hasanah” teladan yang baik. Ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan metode utama pembentukan akhlak yang dicontohkan langsung.
Nabi Muhammad membentuk karakter para pengikutnya bukan hanya lewat perkataan, tapi lewat perilaku yang konsisten dan bisa disaksikan langsung. Pendekatan ini ternyata juga sejalan dengan apa yang psikologi perkembangan anak sebut sebagai observational learning anak belajar lewat mengamati dan meniru, bukan semata menyerap instruksi verbal.
Artinya, ketika orang tua berharap anaknya jujur tapi sendiri terbiasa berbohong untuk hal-hal kecil, atau menuntut anak disiplin waktu sementara diri sendiri menunda-nunda pekerjaan, pesan yang sesungguhnya sampai ke anak bukan nasihatnya, melainkan kontradiksinya.
Sibuk, Tapi Jarang Terlihat Baik
Persoalan ini semakin rumit di zaman sekarang. Orang tua sibuk bekerja, lalu mengompensasinya dengan menasihati panjang lebar atau memenuhi fasilitas anak, tapi minim waktu untuk benar-benar “dilihat” berperilaku baik oleh anak.
Ironisnya, banyak orang tua yang gencar melarang anak bermain gawai berjam-jam, sementara diri sendiri juga sulit lepas dari layar ponsel di depan mereka. Anak tidak mendengar larangan itu sebagai aturan yang masuk akal, mereka melihatnya sebagai standar ganda.
Bukan Ceramah, Tapi Keterlibatan
Solusinya bukan menambah panjang nasihat, tapi memperbanyak momen di mana anak bisa melihat langsung nilai-nilai itu dipraktikkan. Ajak anak terlibat dalam kegiatan nyata, ibadah bersama, kerja bakti, atau aktivitas sosial di lingkungan sekitar.
Dari pengalaman saya terlibat di organisasi masjid dan musholla selama beberapa tahun terakhir, saya melihat sendiri bagaimana anak-anak yang dilibatkan sejak dini dalam kegiatan komunitas, membantu menyiapkan acara, ikut kerja bakti, menyaksikan orang dewasa bergotong royong, tumbuh dengan pemahaman tanggung jawab sosial yang tidak bisa diajarkan lewat kata-kata saja. Mereka belajar karena mereka menyaksikan, bukan karena mereka dinasihati.
Konsistensi kecil justru yang paling berdampak: ucapan dan tindakan yang sinkron, sekecil apa pun itu. Meminta maaf saat salah di depan anak. Menepati janji sekecil apa pun. Bersikap sopan pada orang lain meski sedang lelah. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi mereka butuh orang tua yang konsisten antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.
Merayakan Anak Setiap Hari
Merayakan Hari Anak Nasional semestinya bukan saja hanya lewat seremoni sehari, melainkan lewat komitmen yang dijalani setiap hari: menjadi teladan yang layak ditiru. Karakter anak tidak dibentuk oleh telinga mereka yang mendengar nasihat, tapi oleh mata mereka yang menyaksikan bagaimana orang tuanya menjalani hidup.
Jika kita ingin generasi mendatang punya karakter yang kita harapkan, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “sudahkah aku menasihati anakku hari ini”, tapi “sudahkah aku menjadi sesuatu yang layak ditiru hari ini”.
Penulis adalah lulusan Pendidikan Agama Islam, aktif dalam organisasi pemberdayaan masyarakat dan kegiatan masjid/musholla.*)


