“Sepatu Menunggu”

Cerpen: Nurul Jannah*)

Sepatu itu masih ada di sana. Diam, seolah menyimpan janji yang belum ditepati.

Sepatu itu masih di sana. Di depan pintu. Sedikit miring ke kiri, seperti terakhir kali dilepas terburu-buru. Tali kirinya belum terikat sempurna. Ujungnya menjuntai pelan, nyaris menyentuh lantai.

Debu mulai menempel tipis. Namun sepatu itu tidak pernah dipindahkan.

Tidak boleh.

Karena menurut Lina… pemiliknya hanya pergi sebentar.

*

Hari itu biasa saja.

Lina sedang di dapur ketika Raka berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus abu-abu dan celana jeans yang warnanya mulai memudar.

“Aku keluar sebentar.”

“Ke mana?” tanya Lina tanpa menoleh.

“Beli sesuatu.”

“Beli apa?”

Raka tidak menjawab. Hanya suara pintu yang terbuka. Lalu tertutup.

Lina tidak mengejar. Tidak bertanya lagi. Karena selama ini… Raka selalu pulang.

Namun hari itu, tidak ada ketukan. Tidak ada suara “tok, tok” di pintu. Tidak terdengar sandal yang diseret di lantai.

Hingga malam. Hanya malam yang terasa datang lebih cepat dari biasanya.

Dan sunyi, terasa lebih panjang malam itu.

Lina mulai gelisah

*

Hari kedua, Lina semakin berantakan. Mencari ke sana kemari. Hari ketiga, ia mulai menangis, menelpon sana-sini.

Hari-hari berikutnya tidak lagi punya nama. Semua berubah menjadi hari yang menegangkan.

*

Pagi itu, Lina duduk lagi di dekat pintu. Menatap sepatu itu. Sepatu yang Raka pakai terakhir kali. Sepatu yang kini menjadi satu-satunya bukti, bahwa ia benar-benar pernah hadir di sana.

BACA JUGA :  Lebih dari 1.000 Pelari Ramaikan Bhayangkara Run 2026 di Pasaman Barat

*

“Lina… sepatu ini Ibu rapikan ya?”

“Jangan, Bu.” sergahnya cepat.

Ia langsung jongkok di depan sepatu itu, membersihkan debu tipis dengan ujung jarinya.

Gerakannya pelan. Hati-hati. Seolah sedang menyentuh sesuatu yang hidup.

“Kalau dipindah…”, suaranya lirih. “nanti dia bingung.”

Ibunya terdiam. Karena tidak ada yang bisa melawan keyakinan yang dibangun oleh Rindu.

Waktu terus berjalan. Namun tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Hanya satu kalimat yang terus hidup di kepala Lina:

“Aku keluar sebentar.”

Sebentar.

Seberapa lama sebentar?

Sampai suatu sore… ketukan itu akhirnya datang.

Tok.

Tok.

Jantung Lina seakan berhenti. Tangannya gemetar. Kakinya lemas. Namun ia tetap melangkah.

Air matanya sudah menggantung bahkan sebelum pintu itu terbuka.

“Mas…”

Ia berlari. Membuka pintu. Namun bukan Raka yang berdiri di sana.

Dua orang lelaki berseragam. Wajah mereka tegang. Di belakang mereka… sebuah mobil.

Dan sesuatu yang ditutup kain putih. Dunia Lina runtuh. Kali ini benar-benar runtuh.

“Apakah ini rumah Pak Raka?”

Lina tidak menjawab. Ia hanya menatap kain putih itu.

Tubuhnya bergetar.

“Bu… kami menemukan jasad beliau di pinggiran sawah. Sepertinya terjatuh…”

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tanpa suara.

“Ada dompet, ada alamat…”

Suara itu terus berbicara, tapi Lina tidak lagi mendengar.

Ia berjalan mendekati jasad itu.

Tangannya gemetar saat menyentuh kain itu.

Perlahan… ia membukanya.

Wajah itu. Wajah yang ia tunggu setiap hari. Wajah yang selalu pulang.

BACA JUGA :  Buka KAHMI Fun Sport, Ketua KONI Sumbar Paparkan Persiapan Porprov 2026 dan PON 2028

Kini wajah itu diam. Kaku. Tak lagi menjawab.

“Mas…”

Suara itu pecah. Bukan hanya tangisan. Lebih dalam dari itu. Lebih hancur.

“Mas, ini bukan sebentar…”

Ia jatuh berlutut. Tangisnya pecah tanpa sisa.

“Mas… kamu janji cuma sebentar…”

Orang-orang mulai datang. Suara-suara mulai ramai.

Namun bagi Lina, dunia berhenti di satu titik: di wajah yang tak lagi hidup.

*

Hari pemakaman berlalu seperti mimpi buruk.

Doa.

Tanah.

Air mata.

Dan sunyi yang datang, setelah semuanya selesai.

*

Malam itu, rumah kembali sepi.

Lina duduk di depan pintu. Sepatu itu masih di sana. Tapi tidak lagi ada yang ditunggu. Karena Lina tahu; Raka sudah pulang. Hanya saja bukan untuk tinggal.

*

Pagi datang pelan.

Lina berdiri di depan pintu. Sepatu itu masih di sana.

Ia jongkok, menyentuhnya perlahan. Debu menempel di ujung jarinya.

Matanya basah.

“Mas…”

Ia menarik napas panjang, seolah sedang menguatkan sesuatu yang selama ini ia tolak.

“Kamu benar, kamu cuma pergi sebentar…”

Suaranya bergetar.

“Tapi sebentarmu, ternyata selamanya buat aku.”

Air matanya jatuh; pelan, dalam, tanpa suara.

Perlahan, ia mengangkat sepatu itu. Membersihkannya dengan hati-hati, seperti merawat sesuatu yang sangat berharga.

Lalu ia membawanya masuk, menyimpannya di rak. Bukan untuk melupakan. Sama sekali bukan. Tapi untuk berhenti menunggu.

Sejak hari itu, pintu rumah Lina tetap dibuka setiap pagi. Namun bukan lagi untuk menanti. Melainkan untuk menyambut hari.

BACA JUGA :  Babakan Gunung Gede, Bagunde 17, BOGOR

Dan sejak hari itu, sepatu itu tidak lagi berada di depan pintu.

Ia tidak lagi menunggu. Dan Lina, tidak lagi hidup di dalam penantian.

Ia mulai memahami bahwa tidak semua yang kita tunggu akan kembali dengan cara yang kita harapkan.

Ada yang datang, hanya untuk meninggalkan jejak. Ada yang pergi, untuk mengajarkan bahwa hidup tidak boleh berhenti.

Dan perlahan, Lina belajar,

cinta yang dewasa bukan yang terus menggenggam, melainkan yang berani merelakan, tanpa kehilangan makna.

Karena hidup tidak pernah berhenti pada yang hilang.

Ia tetap berjalan. Dan kita, suka atau tidak, harus belajar ikut melangkah.

Lina tidak lagi meletakkan sepatu itu di depan pintu.

Ia menyimpannya di dalam,

di rak,

dan di hatinya.

,Sebagai pengingat, bahwa ia pernah begitu dicintai.

Dan karena itu…

ia harus tetap hidup.

Sebab pada akhirnya, cinta yang sehat bukan yang membuat kita berhenti di masa lalu, melainkan yang menguatkan kita untuk melangkah, meski dengan hati yang pernah patah.

Bogor, 19 Maret 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *